Family
Benarkah Cukup Satu Anak Pilihan Rasional?

29 Dec 2017


Foto: 123RF
 
Tampaknya, pandangan ‘banyak anak banyak rezeki’ tak lagi memikat pasangan modern era kini soal pilihan memiliki anak. Pasalnya, makin banyak pasangan suami istri yang memutuskan untuk memiliki anak sedikit, biasanya hanya dua, atau bahkan tak jarang yang hanya ingin punya anak satu.

Banyak alasan melatarbelakanginya, mulai dari masalah finansial, agar tidak repot mengurusnya hingga supaya bisa memberikan pendidikan terbaik untuk buah hati. Namun, apakah pilihan tersebut cukup rasional?

Sudah sejak lama keluarga dengan dua anak --satu anak laki-laki dan satu anak perempuan-- menjadi gambaran keluarga ideal. Seakan-akan formasi tersebut menjadi susunan keluarga yang lengkap dan sempurna. Itu juga yang dulu sempat dipikirkan oleh pasangan Sera Nadia (31) dan Raka Ibrahim (35) soal pilihan anak, setelah menikah pada tahun 2012.

“Biar pas. Ada satu yang bisa temani mamanya, dan ada satu yang bisa temani papanya,” tutur Sera, mengenang janjinya dulu bersama sang suami. Namun, dengan berjalannya waktu, melihat teman-temannya yang sudah lebih dulu memiliki momongan, Sera mengaku berubah pikiran setelah memiliki Bhima Satria (8 bulan).

Sera merasa memiliki satu anak saja sudah cukup melengkapi keluarganya. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi pilihan Sera. Melihat temannya yang kesulitan membiayai sekolah dua anaknya yang makin mahal, mengurungkan niat Sera memberikan adik untuk Bhima.  Kesaksian seorang sahabat dengan satu putri yang mengaku lebih maksimal mencurahkan waktu dan kasih sayang, membuat wanita yang bekerja sebagai staf humas ini makin memantapkan hati.

Rupanya, keinginan Sera juga diamini oleh 18 persen dari 380 pembaca femina yang mengikuti survei ‘Satu Anak Cukup?’, pada 1-10 November 2017. Angka tersebut memang terkesan sedikit, mengingat menurut data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), rata-rata kelahiran ibu Indonesia masih di angka 2.6 (maksudnya, tiap ibu melahirkan dua anak). Ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang menginginkan keluarga ideal dengan dua anak atau lebih.

Advertisement
Menurut penelitian Pew Research Center (2015), keluarga dengan anak tunggal adalah unit keluarga yang paling cepat tumbuh. Tak hanya di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris, tapi juga di seluruh dunia. Memang, dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa kecenderungan itu lebih cepat tumbuh di negara-negara maju di belahan barat dengan masyarakat yang memiliki pemikiran modern
dibandingkan di negara berkembang.

Di Asia, kecenderungan tersebut juga mulai terlihat di Korea Selatan, yang kini rata-rata kelahiran ibu sudah mencapai pada level terendah sepanjang sejarah, yaitu 1.3 (tiap ibu melahirkan satu anak). Seperti yang dilaporkan oleh BBC pertengahan Oktober lalu, bahwa penyebab mereka ingin memiliki satu anak
dikarenakan adanya kenaikan biaya hidup dan pendidikan yang sering kali tak sebanding dengan pemasukan mereka.

Beda halnya dengan di Tiongkok. Pemerintahnya justru harus memaksa masyarakatnya untuk memiliki satu anak saja demi mengurangi ledakan penduduk. Kebijakan satu anak (one child policy) ini sudah diterapkan sejak tahun 1978.

Namun, pada tahun 2015 sempat dihentikan dan kembali diaktifkan pada tahun 2016 dengan sedikit kelonggaran: memperbolehkan warga di pedesaan untuk memiliki lebih dari satu anak, jika anak pertama mereka perempuan, cacat fisik, cacat mental, atau warga dari etnis yang terancam punah. Kebijakan keluarga dengan satu anak ini diterapkan lebih ketat untuk warga perkotaan. (f)

Baca juga:
Mengatasi Perbedaan Pendapat Demi Kesembuhan Anak dari Penyakit Langka

Newsgather: Betrina Larobu.


Topic

#keluarga, #anak

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?