7 Kiat Story Telling untuk Tim Marketing dan Promosi
7 Nov 2016
Sebagai pelaku pemasaran,
Ina Agustini Murwani,
Deputy Head of Program MM Creative Marketing BINUS Business School, menyarankan untuk melakukan beberapa hal ini agar konsumen menangkap dongeng yang Anda ciptakan untuk mereka.
- Kreativitas yang membumi. Membuat pesan untuk menarik perhatian audiensi menjadi tugas Anda. Tetapi, mengemasnya agar catchy, Anda perlu bekerja sama dengan tim kreatif. Masalahnya, sering kali ide cemerlang tersebut tidak dipahami oleh audiensi. Akibatnya, iklan tidak dimengerti dan pesan tidak sampai. Pastikan Anda dan tim kreatif memiliki perspektif yang sama, termasuk mengenal betul karakter, kebutuhan, dan perilaku target konsumen.
- Buka komunikasi. Bicaralah dengan konsumen Anda, tanyakan kenapa mereka membeli produk Anda. Bagaimana mereka mengetahui soal brand Anda? Apa yang membuat mereka mencari produk Anda? Apa yang mereka tanyakan pada tim sales Anda? Membuka komunikasi adalah cara untuk benar-benar memahami target konsumen Anda. Jawaban dari mereka adalah materi yang bisa Anda gunakan untuk menyusun cerita yang pas.
- Menajamkan empati. Tempatkan diri Anda pada posisi konsumen. Apa yang mereka rasakan? Bagaimana mereka ingin ditanggapi oleh orang lain? Apa saja kebutuhan mereka saat ini? Kenali dorongan emosi yang mereka rasakan saat membeli produk Anda. Analisis emosi akan membantu Anda menentukan apa yang penting bagi konsumen dan bagaimana Anda bisa ikut memahaminya.
- Membaca perilaku. Tiap generasi memiliki tren perilaku sendiri. Sekarang misalnya, tren selfie, check-in di tempat yang dikunjungi, dan upload foto makanan ke media sosial, masih berjalan. Gunakan perilaku tersebut dalam kampanye produk Anda. Konsumen yang merasa terwakili oleh kampanye Anda akan lebih mudah menyerap nilai yang Anda sampaikan.
- Gunakan kekuatan media. Apa pun medianya --Facebook, blog, Twitter atau billboard-- gunakan kekuatan tiap media untuk menyampaikan nilai brand secara efektif. Tulis narasi yang menarik di blog, buat ringkasannya dalam 140 karakter di Twitter, bagi tautan ke website perusahaan di Facebook, dan tampilkan foto yang mewakili kampanye produk pada billboard.
- Cerita yang kredibel. Membuat cerita yang menyentuh emosi bukan berarti Anda harus mengabaikan fakta dan data. Gabungan antara cerita dan data akan membuat target Anda tersentuh secara emosional dan intelektual. Produk sepatu bisa saja membuat iklan berupa cerita seorang anak yang harus berjalan belasan kilometer untuk bisa sekolah, dengan menyisipkan data tentang berapa banyak anak yang terpaksa putus sekolah akibat sulitnya akses transportasi.
- Jaga kerja tim. Ketika seorang brand manager sudah menentukan nilai apa yang akan disampaikan lewat kampanyenya, ia juga harus menyampaikan hal itu kepada tim sales yang berada di lini depan pemasaran. Informasikan soal produk, nilai, cerita, serta hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dibicarakan dengan konsumen. Tim sales adalah orang-orang yang akan melakukan storytelling kepada konsumen secara langsung, jangan sampai terjadi kesalahpahaman komunikasi yang bisa merugikan. (f)
Topic
#StoryTelling