Menurut Organisation de coopération et de développement économiques (OECD), organisasi kerja sama dan pembangunan ekonomi, terdapat korelasi negatif antara kesenjangan gender di suatu negara dengan standar kehidupan rata-rata di negara tersebut. OECD memperkirakan bahwa peningkatan partisipasi wanita di dunia kerja dapat meningkatkan PDB OECD sebesar 5-12% selama lima belas tahun ke depan.
Perlu diperhatikan, teknologi baru membutuhkan jenis keterampilan kerja yang baru pula, yang berisiko membuat kesenjangan keterampilan pun semakin melebar. Kurangnya partisipasi wanita dalam sektor Sains, Teknologi, Teknik (Engineering) dan Matematika (STEM) sangat berpengaruh, bahkan menahan kemajuan dan kontribusi yang sebenarnya dapat dicapai sektor-sektor tersebut terhadap perekonomian.
Untuk mencegah hal ini sekaligus untuk memastikan pembinaan keterampilan yang tepat, kesenjangan gender harus diminimalisir dan seluruh kanal pengembangan keterampilan harus dimaksimalkan.
Mengatasi kesenjangan gender akan menciptakan tenaga kerja yang lebih beragam, dan penelitian menunjukkan bahwa tim yang beragam lebih baik dalam pemecahan masalah dan berpikir secara lebih kreatif. Indonesia berada di peringkat ke 85 dari 149 negara dalam Indeks Gender Gap berdasarkan World Economic Forum 2018; dan Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan PDB-nya menjadi US$ 135 miliar pada tahun 2025 jika lebih banyak wanita mengambil peran di sektor-sektor produktif.
Dalam laporan McKinsey 2019 tentang Masa depan wanita di tempat kerja: Transisi di era otomatisasi, terungkap bahwa sekitar 40 - 160 juta wanita di seluruh dunia diprediksi perlu beralih ke pekerjaan lain pada tahun 2030, dan meraih peranan baru dengan keterampilan lebih tinggi. Hal ini dikarenakan lebih banyak wanita termasuk dalam kelompok profesi atau industri yang lebih rentan terhadap otomatisasi.
Di negara-negara ASEAN, wanita lebih rentan kehilangan pekerjaan mereka sekaligus lebih sedikit lagi yang mendapat pekerjaan dengan peranan yang lebih tinggi. International Labor Organization (ILO) juga melaporkan bahwa 56% karyawan di berbagai pusat hub manufaktur di negara – negara ASEAN termasuk Kamboja, Indonesia, Thailand, Filipina dan Vietnam mungkin akan kehilangan pekerjaan karena disrupsi otomatisasi.
Walaupun jumlah wanita hampir setengah dari populasi dunia, diperkirakan hanya sekitar 20% para periset di bidang sains, teknologi dan inovasi adalah kaum wanita. Dengan demikian diperlukan lebih banyak upaya untuk menarik dan mempertahankan wanita berkarier di bidang STEM.
Topic
#karier, #teknologi, #stem