Foto: Fotosearch
Kurangin, dong...
Jujur, deh, tiap kali berbelanja, kita pasti punya prinsip membeli barang semurah mungkin. Jadi, kalau bisa ditawar kenapa nggak usaha? Dengan keahlian kita bersilat lidah, bujuk terus si penjual untuk menurunkan harga. Mulai dari memuji caranya berpakaian hingga meminta belas kasihannya karena kita butuh sisa uang untuk ongkos pulang. Usaha tanpa kenal menyerah ini lama-lama akan membuat si penjual luluh, deh.
Maksudnya?
Kita pasti suka bingung mendengarkan penjelasan dokter ketika berobat. Wanita bawel biasanya punya rasa ingin tahu yang besar, tuh. Saat dokter panjang-lebar memberitahukan kindisi, boleh menginterupsinya jika memang kurang mengerti. Dalam kasus ini, kita nggak bakal dicap bawel, kok. Malah bisa menghindari kita dari kesalahan diagnose.
Penghibur, nih
Saat hangout bersama teman, siap yang biasanya membuat suasana lebih hidup? Wanita bawel alias kita! Yap, cerita-cerita yang mengalir dari bibir kita bisa membuat teman-teman merasa terhibur. Apalagi, nih, kita jarang kehabisan bahan cerita. Saat giliran teman yang bercerita pun, kita bisa ‘membumbuinya’ melalui celetukan-celetukan segar. Wajar saja jika kita sering dikangenin pas berhalangan hadir!
Menurut saya...
Wanita pendiam biasanya jauh lebih sulit menghadapi wawancara kerja dibandingkan kita yang bawel. Yap, setegang-tegangnya kita, pasti, deh, ada saja jawaban yang bisa diberikan ketika mendapat pertanyaan dari calon bos. Biasanya, nih, mereka lebih suka calon karyawan yang ‘rame’—asal nggak ngomong doing, ya! Soalya, kita dianggap lebih mudah berbaur dengan orang-orang baru. Bisa jadi nilai plus, kan?
Cas cis cus
Kemampuan berbahasa asing sangatlah diperlukan dalam dunia kerja. Kita harus berani ngomong, tuh, agar terbiasa melafalkannya. Inilah salah satu keuntungan menjadi cewek bawel. Nggak peduli benar atau salah, dengan cueknya kita bisa mengungkapkan pendapat sesuka hati. Semakin banyak kata yang diucapkan, makin banyak kesempatan dikoreksi sang guru. Jadi makin pintar, deh!(f)