Menjaga adab sambil mengendalikan emosi bisa kamu mulai bersama circle kamu. Foto ilustrasi: Pexels/Karola G
Apakah belakangan ini timeline media sosial kamu terasa seperti tempat uji kesabaran?
Belum selesai mencerna satu pernyataan, muncul lagi komentar yang bikin ingin membalas tuntas keras (tapi nggak jadi). Apalagi kalau ada seseorang yang sengaja (atau nggak sengaja—tapi ini langka, sih) mengeluarkan pernyataan yang terdengar… ya, katakan saja kurang bijak.
Kesal itu wajar. Tapi membalas setiap hal yang bikin emosi juga bukan kewajiban. Di tengah dunia yang makin ramai, kemampuan untuk tetap waras sekaligus menjaga adab justru jadi skill yang cukup berguna.
1/ Jangan langsung respons saat tensi sedang tinggi
Jempol memang cepat, tetapi respons yang dikirim saat emosi biasanya lebih sulit ditarik kembali. Beri jeda beberapa menit, tutup aplikasi, atau lakukan hal lain sebelum memutuskan perlu merespons atau tidak. Nggak semua komentar membutuhkan jawaban real-time.
2/ Bedakan yang bikin tersinggung atau perlu ikut campur
Sesuatu bisa membuat kita kesal tanpa berarti kita harus turun tangan. Coba tanyakan kepada diri sendiri, apakah informasi ini memang membutuhkan respons, atau hanya berhasil mengacaukan mood? Kalau jawabannya yang kedua, scroll away juga termasuk pilihan.
3/ Kritik pernyataannya, bukan serang orangnya
Kalau memang perlu bersuara, fokus pada apa yang dikatakan atau dilakukan. Hindari mengubah kritik menjadi serangan terhadap pribadi. Dengan begitu, kita tetap bisa tegas tanpa ikut menggunakan standar komunikasi yang sama dengan hal yang sedang kita kritik.
Kalau kepribadian orangnya memang mau kamu sentil, buat utas baru saja (biar lebih fokus).
4/ Kurangi dosis konten yang bikin kepala panas
Mengetahui apa yang sedang terjadi penting, tetapi terus-menerus mengonsumsi konten yang memancing kemarahan bisa membuat otak seperti nonstop kerja tanpa waktu istirahat. Batasi waktu scrolling, mute akun tertentu sementara, atau beri jeda dari kolom komentar.
5/ Jaga adab bukan berarti harus diam
Tetap sopan bukan berarti harus setuju. Kita bisa nggak sepakat, mengkritik, bahkan menyampaikan keberatan dengan tegas tanpa harus kehilangan kendali.
Justru di situlah kedewasaan digital kita diuji: Bisa menyampaikan sikap tanpa membiarkan emosi mengambil alih seluruh percakapan atau utas tersebut. (f)
Brianna Relisha




