Anak-anak termasuk kelompok rentan mengalami gangguan pernapasan, termasuk pneumonia, akibat paparan polusi udara dan partikel halus dari asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Foto ilustrasi: Magnific

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar persoalan lingkungan.

Asap yang dihasilkan dari pembakaran vegetasi mengandung partikel halus PM2.5, PM10, karbon monoksida, serta berbagai gas yang dapat mengiritasi saluran pernapasan.

Paparan polutan tersebut menjadi ancaman kesehatan, terutama bagi anak-anak yang sistem pernapasannya masih berkembang.

Dampaknya tidak selalu berhenti ketika kabut asap mulai menghilang. Anak yang terpapar polusi akibat karhutla dapat mengalami gangguan pernapasan, mulai dari iritasi saluran napas, perburukan asma, hingga infeksi pernapasan yang perlu mendapatkan perhatian medis.

Dalam diskusi media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bertajuk Dampak Karhutla dan Meningkatnya Pneumonia pada Anak: Bagaimana Peran Dokter Spesialis Anak? yang berlangsung secara daring pada 3 November 2026, dr. Khairiyadi, Sp.A, Subsp.Respi.(K), M.Kes, anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, menjelaskan bahwa dampak paparan asap Karhutla perlu diwaspadai, khususnya pada anak dengan faktor risiko gangguan pernapasan.

Memicu berbagai gangguan pernapasan

Paparan asap karhutla dapat menimbulkan beberapa kondisi yang gejalanya terkadang sulit dibedakan. Menurut dr. Khairiyadi, setidaknya ada tiga kemungkinan gangguan yang perlu diperhatikan dokter, yaitu pneumonitis akibat iritasi, asma, dan pneumonia akibat infeksi.

Pneumonitis dapat terjadi ketika gas maupun partikel hasil pembakaran mengiritasi jaringan saluran pernapasan. Sementara itu, paparan polutan juga dapat memperburuk kondisi anak yang sebelumnya sudah memiliki asma.

“Apakah ini pneumonitis yang karena iritan? Yang kedua, apakah ini asma? Yang ketiga, apakah ini pneumonia karena infeksi?” jelas dr. Khairiyadi, saat memaparkan kemungkinan gangguan pernapasan pada anak.

Ketiganya membutuhkan penanganan berbeda. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung memberikan antibiotik setiap kali anak mengalami batuk setelah terpapar kabut asap.

Dokter Khairiyadi mengingatkan bahwa dokter perlu menilai penyebab gangguan pernapasan sebelum menentukan pengobatan. Antibiotik diberikan berdasarkan indikasi infeksi bakteri, bukan semata-mata karena anak mengalami batuk atau gangguan pernapasan.

Jangan sepelekan batuk berkepanjangan

Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah perubahan kondisi anak dengan riwayat asma. Paparan polusi dapat memperburuk gejala yang sebelumnya tergolong ringan.

Dokter Khairiyadi mengungkapkan pengalamannya menangani pasien yang mengalami batuk berkepanjangan setelah periode karhutla. Bahkan, terdapat pasien yang mengalami batuk hingga tiga bulan dan sempat dicurigai mengalami tuberkulosis (TB).

Ia juga menyampaikan bahwa sejumlah literatur membahas kemungkinan dampak imunologis paparan asap kebakaran yang berlangsung lama. Meski demikian, hubungan jangka panjang tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Pada anak dengan riwayat asma, pemantauan fungsi paru dapat menjadi salah satu pertimbangan medis. Pemeriksaan seperti spirometri (tes medis untuk mengukur fungsi dan kapasitas paru-paru) dapat membantu mengevaluasi kondisi sebelum dan sesudah periode paparan, sesuai kebutuhan klinis.

Hubungan karhutla dan stunting

Pertanyaan lain yang kerap muncul adalah apakah paparan asap karhutla dapat menyebabkan stunting.

Menurut dr. Khairiyadi, paparan asap tidak secara langsung menyebabkan stunting. Namun, gangguan pernapasan yang dialami anak dapat memengaruhi nafsu makan sehingga asupan nutrisinya berkurang.

Jika berat badan anak tidak bertambah sesuai pertumbuhan yang diharapkan, diperlukan evaluasi lebih lanjut untuk mencari penyebabnya. Pemeriksaan juga perlu mempertimbangkan kemungkinan penyakit lain, termasuk TB apabila terdapat indikasi.

Bayi dan ibu hamil kelompok rentan

Risiko paparan polusi karhutla juga perlu diperhatikan sejak masa kehamilan. Ibu hamil yang terpapar polutan dalam kadar tinggi berpotensi mengalami gangguan kesehatan yang dapat memengaruhi kondisi janin.

Dokter Khairiyadi menjelaskan bahwa paparan PM2.5, PM10, karbon monoksida, dan gas hasil pembakaran menjadi perhatian khusus karena bayi merupakan kelompok yang rentan.

Pada ibu hamil dengan asma, gangguan oksigenasi atau hipoksia juga perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi suplai oksigen kepada janin.

Paparan polusi juga dikaitkan dengan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah dalam sejumlah penelitian.

Karena itu, perlindungan terhadap ibu hamil, bayi, dan anak dengan penyakit penyerta perlu menjadi prioritas selama periode karhutla.

Sahabat Femina, terutama yang terpapar asap karhutla, kita semua perlu lebih peka terhadap perubahan kondisi pernapasan anak.

Batuk yang menetap, napas cepat, tarikan dinding dada, maupun tanda kesulitan bernapas membutuhkan evaluasi medis. Jangan tunggu hingga kondisi anak semakin berat untuk mencari pertolongan. (f)

Baca juga:

Ingat 2 Hal Ini Sebelum Bereaksi Karena Emosi

Pesan yang Tertinggal, Seminggu Setelah Spanduk Raksasa Greenpeace di Bundaran HI

Jangan Langsung Salahkan Gizi Ketika Tinggi Badan Anak Tak Bertambah