Apa, sih, adab jadi first jobber? Rekan kerja kamu paham juga, kan? Foto ilustrasi: Pexels/Thirdman

Gelar, skill, dan CV menarik (serta sedikit koneksi) mungkin bisa membawamu masuk ke kantor impian. 

Namun, untuk bertahan dan membangun reputasi di dunia kerja, ada satu bekal yang tidak kalah penting: Attitude. 

Apalagi, menjadi first jobber bukan sekadar soal beradaptasi dengan ritme kerja, mengejar deadline, atau terlihat sibuk di depan laptop. Kamu juga perlu tahu cara membawa diri, menghargai orang lain, dan membaca situasi. 

Apa pun budaya kantor tempatmu bekerja, lima etika dasar ini wajib dipahami. Biar tetap punya karakter, profesional, dan kalcer tanpa kehilangan adab!

1/ Menghargai waktu bukan cuma soal on time

Meeting pukul 09.00 bukan berarti baru mulai bersiap pukul 09.00. Biasakan datang atau masuk ruang meeting beberapa menit lebih awal, membaca agenda, dan menyiapkan hal yang diperlukan. 

Kalau terlambat, beri kabar. Kalau ada deadline, jangan menunggu ditagih baru memberi update.

Menghargai waktu juga berarti nggak bikin orang lain menunggu tanpa kepastian. Ingat, semua orang punya pekerjaan dan tanggung jawab masing-masing. Profesionalisme dimulai dari hal sesederhana ini.

2/ Bercanda itu beda dengan melanggar batas

Punya selera humor di kantor itu menyenangkan. Suasana kerja jadi lebih cair dan hubungan dengan rekan kerja terasa lebih dekat. Namun, nggak semua hal pantas dijadikan bahan bercandaan.

Hindari komentar tentang fisik, keluarga, kondisi pribadi, agama, atau hal sensitif lainnya. Jangan pula merasa semua orang nyaman dengan candaan sarkastis hanya karena teman satu tim tertawa.

Beberapa hal mungkin lucu di tongkrongan, tetapi belum tentu pantas dibawa ke lingkungan kerja. Fun tanpa kehilangan empati, bisa, dong....

3/ Ucapkan terima kasih dan besar hati untuk minta maaf

Dua kalimat sederhana ini sering dianggap sepele, padahal punya pengaruh besar dalam hubungan profesional. Ucapkan terima kasih ketika rekan kerja membantu, memberikan informasi, atau meluangkan waktu untuk menjelaskan sesuatu.

Begitu juga ketika melakukan kesalahan. Akui, minta maaf, lalu cari solusi. Jangan sibuk ncari alasan atau lempar tanggung jawab kepada orang lain.

Mengakui kesalahan bukan berarti kamu tidak kompeten. Justru kemampuan bertanggung jawab menunjukkan kedewasaan dalam bekerja.

4/ Pahami etika komunikasi, termasuk di grup WhatsApp kantor

Nggak semua pesan harus dibalas dengan gaya komunikasi yang sama. Perhatikan siapa lawan bicara, konteks pembicaraan, dan urgensi pesan. 

Menggunakan bahasa santai kepada teman satu tim mungkin nggak masalah, tetapi komunikasi dengan klien atau atasan tentu membutuhkan penyesuaian.

Biasakan menulis pesan dengan jelas, nggak hanya mengirim “P,” “Kak?” (humbly nggak sopan), atau “Urgent!!!” tanpa menjelaskan maksudnya. Jangan lupa perkenalkan diri jika menghubungi orang yang belum terlalu mengenalmu.

Satu lagi, jangan sembarangan menyebarkan screenshot percakapan internal atau informasi pekerjaan ke luar kantor. Menjaga privasi dan kepercayaan juga bagian dari etika profesional.

5/ Tetap berpendirian, tetapi tahu cara menyampaikan pendapat

Menjadi first jobber bukan berarti harus selalu mengiyakan semua instruksi. Kamu boleh bertanya, menyampaikan ide, bahkan nggak setuju. Namun, perhatikan cara dan waktu menyampaikannya.

Jika punya pendapat berbeda, sampaikan dengan alasan yang jelas dan tetap menghargai perspektif orang lain. Hindari mempermalukan rekan kerja di depan banyak orang atau menjadikan perbedaan pendapat sebagai ajang adu ego.

Sebaliknya, jangan juga menganggap kritik sebagai serangan pribadi. Dunia kerja adalah tempat belajar, termasuk belajar menerima masukan dan memperbaiki diri.

Jadilah generasi muda yang berani bersuara, punya karakter, dan tetap santun. Skill bisa terus kita asah, tetapi attitude adalah hal yang ikut menentukan bagaimana orang lain mengingatmu. (f)

Baca juga:

Ingat 2 Hal Ini Sebelum Bereaksi Karena Emosi

Pesan yang Tertinggal, Seminggu Setelah Spanduk Raksasa Greenpeace di Bundaran HI

Ini Manfaat dan Hal yang Perlu Diperhatikan dari Main Mahjong