Memang paling praktis mencari tahu lewat internet, termasuk soal swamedikasi, selama itu valid. Foto ilustrasi: Pexels/Ivan S

Sakit kepala sedikit, buka Google. Tenggorokan terasa tidak nyaman, tanya ChatGPT. 

Begitu muncul gejala yang terasa familiar, mencari tahu kemungkinan penyebab dan obatnya lewat internet sering kali terasa lebih praktis daripada pergi ke dokter (pakai BPJS agak ribet, bayar pribadi mahal).

Kebiasaan ini memang nggak sepenuhnya salah. Pengobatan mandiri atau swamedikasi bisa membantu mengatasi keluhan kesehatan ringan. 

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan: Informasi yang muncul di Google atau ChatGPT belum tentu sesuai dengan kondisi tubuh kita.

Isu ini kembali menjadi perhatian Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 

Kepala BPOM Taruna Ikrar, dalam rangkaian Asia Pacific Self-Medication Industry (APSMI) Summit 2026 di Bali pada 29 Oktober-1 November 2026, menyoroti kebiasaan masyarakat yang semakin mengandalkan informasi digital, termasuk AI, untuk memahami keluhan kesehatan dan menentukan langkah pengobatan.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan AI sebagai dokter pribadi ketika melakukan pengobatan mandiri. Posisi AI seharusnya sebagai asisten untuk mencari informasi, bukan penentu diagnosis dan pengobatan.

Kebiasaan mengobati diri sendiri di Indonesia memang cukup tinggi. Berdasarkan data BPS melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025, sebanyak 78,43% penduduk yang mengalami keluhan kesehatan memilih melakukan pengobatan mandiri (baik secara digital maupun tidak).

Indonesia bukan satu-satunya negara di Asia yang memiliki kebiasaan swamedikasi tinggi. 

Beberapa penelitian di negara lain juga menunjukkan angka yang cukup besar, rata-rata di atas 60% bahkan ada yang mencapai 88%—meski periode penelitian, kelompok responden, serta definisi swamedikasi berbeda-beda.

Swamedikasi sebenarnya punya dua sisi. Nggak semua keluhan kesehatan harus langsung berujung pada konsultasi dokter. Untuk keluhan ringan yang sudah dikenali dan sesuai indikasi, pengobatan mandiri bisa membantu.

Sisi positifnya:

- Lebih praktis—kita bisa menangani keluhan ringan tanpa harus selalu mengatur jadwal konsultasi.

- Menghemat waktu dan biaya—apalagi ketika keluhan masih tergolong ringan dan obat yang dibutuhkan tersedia secara bebas.

- Mendorong kesadaran kesehatan—masyarakat belajar mengenali kondisi tubuh, membaca informasi obat, dan memahami aturan penggunaannya.

- Akses informasi lebih mudah—mesin pencari dan AI dapat membantu menjelaskan istilah medis, kandungan obat, serta informasi kesehatan yang mungkin belum kita pahami.

Pastikan obat yang kamu konsumsi memang sesuai, dan dibutuhkan. Foto ilustrasi: Pexels/Jonathan Borba

Sisi negatif yang perlu diwaspadai:

- Salah mendiagnosis diri sendiri—gejala yang terlihat sederhana belum tentu menunjukkan kondisi yang sama pada setiap orang.

- Salah memilih obat—yang cocok untuk orang lain belum tentu aman untuk kita.

- Risiko efek samping dan interaksi obat—menggabungkan beberapa obat tanpa memahami kandungannya bisa menimbulkan masalah.

- Terlambat mendapatkan penanganan—terlalu lama mengandalkan pengobatan mandiri bisa membuat kondisi yang membutuhkan pemeriksaan medis tidak segera ditangani.

- Informasi AI belum tentu akurat—AI dapat menyajikan jawaban yang sepertinya meyakinkan, tetapi belum tentu benar atau sesuai dengan kondisi kesehatan seseorang.

Sebuah kajian sistematis mengenai penggunaan antibiotik di Indonesia juga menemukan bahwa internet menjadi salah satu sumber informasi swamedikasi. 

Dalam salah satu penelitian yang ditinjau, angkanya mencapai 71%. Ini menunjukkan bahwa literasi informasi kesehatan digital memang penting, meskipun data tersebut bukan gambaran seluruh masyarakat Indonesia saat ini.

Ada beberapa hal praktis yang perlu diingat sebelum memutuskan membeli atau mengonsumsi obat.

1/ Gunakan AI sebagai asisten informasi, bukan dokter

Boleh mencari penjelasan mengenai gejala atau istilah medis, tetapi jangan jadikan rekomendasi AI sebagai dasar tunggal untuk menentukan diagnosis dan pengobatan. Kamu bisa konsultasi daring lewat aplikasi kesehatan, yang nggak semahal konsultasi tatap muka.

2/ Tanyakan kepada apoteker

Apoteker dapat membantu menjelaskan kegunaan obat, aturan pakai, dosis, efek samping, dan kemungkinan interaksi dengan obat lain.

3/ Kenali jenis obat

Obat bebas ditandai lingkaran hijau, sedangkan obat bebas terbatas ditandai lingkaran biru. Obat keras, termasuk antibiotik, tidak boleh digunakan atas keputusan sendiri dan memerlukan resep serta pengawasan dokter.

4/ Jangan lupa cek KLIK

Ini adalah kampanye BPOM untuk memastikan keamanan produk sebelum digunakan:

- K: Kemasan, pastikan tidak rusak.

- L: Label, baca aturan pakai dan informasi produk.

- I: Izin edar, pastikan terdaftar di BPOM.

- K: Kedaluwarsa, periksa tanggalnya.

Status izin edar juga dapat diperiksa melalui aplikasi BPOM Mobile.

5/ Jangan menunda pemeriksaan

Jika keluhan menetap, memburuk, atau disertai gejala yang mengkhawatirkan, segera periksakan diri ke tenaga kesehatan. Jangan teruskan mencoba obat sendiri.

Jangan sampai karena terlalu percaya pada jawaban yang muncul dalam hitungan detik, kita justru terlambat mendapatkan pertolongan yang sebenarnya dibutuhkan. 

Self-care yang baik bukan sekadar bisa mengobati diri sendiri, tetapi juga tahu kapan harus berhenti dan meminta bantuan profesional. (f)

Baca juga:

Kerja dari Pagi sampai Malam, Perlukah Tambahan Suplemen?

LVAD Pertama di Rumah Sakit Swasta di Indonesia, Harapan Baru untuk Gagal Jantung Stadium Lanjut

3 Alasan Kamu Wajib Minum Air Putih Setiap Hari