Pameran
Art Jakarta 2026: Menilik Rasa Lewat Seni

6 Oct 2026

Art Jakarta 2026, edisi ke-4 dari salah satu pameran seni rupa paling berpengaruh di Asia Tenggara. Foto: Dok. Art Jakarta


Dalam hidup ini, ada hal-hal yang hanya bisa kita pahami melalui rasa, pengalaman, dan cara kita mempersepsikannya. 

Hal ini yang mungkin bisa kita dapat dari sebuah karya seni. Karya seni bisa membawa kita pada sebuah kenangan, mengusik pertanyaan yang selama ini tersimpan, atau bikin kita berhenti sejenak di tengah dinamika hidup.

Ketika kita menikmati sebuah karya seni, bisa jadi kita seakan merefleksi arti dari karya seni tersebut hingga masuk ke dalam diri kita, dan mencari keterkaitannya. 

Mungkin itu juga yang dirasakan para pengunjung Art Jakarta 2026, pameran seni rupa kontemporer tahunan yang berlangsung pada 2 sampai 4 Oktober lalu di JIEXpo Kemayoran (kedua kalinya Art Jakarta digelar di sini). 

Para pencinta seni Jakarta ramai berkumpul, seperti Femina saksikan di hari pembukaan, asyik berjalan di antara lorong-lorong pameran, dan mencoba memahami tiap karya seni dari 75 galeri asal Indonesia dan mancanegara.

Begitu kita memasuki area pameran, perhatian segera terpecah ke berbagai arah, karena lokasi yang digunakan sangat luas. Lukisan, patung, instalasi, karya berbasis kertas hingga karya multimedia hadir dalam satu ruang yang memerlukan peta atau petunjuk untuk mejelajahi semua area. 
 
Berbunga-bunga: Tribute to Red Cross Movement in South Papua karya Angki Purbandono terinspirasi film dokumenter Pesta Babi. Foto: Dok. Art Jakarta

Esensi pengalaman ketika berada di Art Jakarta adalah menyadari bahwa tidak semua karya harus segera dipahami. 

Salah satunya adalah karya dari Angki Purbandono di area AJ Spot. Bentuk seperti salib, tinggi menjulang, di tengah ruang besar, pastinya bikin penasaran kita untuk mendekati karya tersebut. 

Butuh waktu beberapa saat bagi Femina untuk bisa memahami karya ini. Karya ini adalah simbol salib yang dihiasi bunga-bunga, diberi judul Berbunga-bunga: Tribute to Red Cross Movement in South Papua, serta terinspirasi film dokumenter berjudul Pesta Babi, yang memberi POV sindiran kolonialisme era modern.

Sementara itu, beberapa karya terasa begitu sederhana secara visual, tetapi justru memunculkan banyak pertanyaan. Contohnya karya dari perupa konseptual asal Vietnam, Nguyễn Phương Linhyang, berjudul Pulse 1 dan Pulse 2. 

Karya cetak yang menggunakan media UV pada lembaran PVC tembus pandang (translucent PVC), komponen lampu LED, dan elemen baja dan kait itu terkesan sederhana tapi mencuri perhatian para pengunjung. 

Karya Nguyễn menggambarkan eksplorasi hubungan antara tubuh manusia dan bentang alam. Lanskap yang dicetak pada PVC transparan tampak melebur menyerupai tekstur daging, cairan tubuh, serta organ dalam yang didominasi warna merah. 
 
Lanskap seni Jakarta mengandalkan rasa dan antusiasme dari para pencinta seni, bukan semata infrastruktur atau hal fisik. Foto: Dok. Art Jakarta

Di Art Jakarta 2026, perpindahan emosi dari satu karya ke karya lain begitu beragam, begitu pula bagi penikmatnya. Belum lagi tujuan kita ke sana tak kalah beragam. 

Ada yang datang sebagai kolektor—termasuk kolektor pemula karena banyak banget yang bisa dijadikan koleksi awal—atau pengamat seni, perupa, mahasiswa, bahkan sekadar pengunjung yang ingin melihat sesuatu yang baru. 

Selain menyerap pengalaman personal, Art Jakarta juga memperlihatkan bagaimana lanskap seni rupa kontemporer Indonesia terus berkembang. 

Tahun ini, lebih dari separuh dari 75 galeri yang berpartisipasi berasal dari Indonesia, sementara kehadiran galeri internasional memperlihatkan semakin luasnya hubungan antara ekosistem seni Indonesia dan kawasan Asia, khususnya seperti Korea, Jepang, Thailand dan Vietnam.

Kehadiran 14 galeri muda dari Korea Selatan melalui Korea Focus, misalnya, menghadirkan perspektif lain mengenai bagaimana praktik seni berkembang di kawasan Asia. Sementara segmen seperti Spot menghadirkan karya dengan pendekatan yang lebih eksperimental dan melampaui format booth konvensional.

Ada pula Scene yang memberi perhatian pada kolektif perupa dan proyek kolaboratif dari berbagai kota di Indonesia. Tahun ini, segmen tersebut berkembang hingga mencakup 39 partisipan.
 
The Nature Womb (Karwar Series) karya Albertho Wanma dan Mother Trees karya Budi Santoso di AJ Spot. Foto: Dok. Art Jakarta

Kemudian ada Scope, segmen baru yang menghadirkan enam art fair rintisan dari berbagai daerah di Indonesia—Mini Art Malang (Malang), Artists Art Fair (Pekanbaru), ART HEY (Banyumas), Maa Ledungga (Gorontalo), Hello Goodbye Photo Market (Bekasi) dan Watercolor Art Fair (Yogyakarta). 

Kehadiran segmen ini terasa penting karena menunjukkan bahwa kehidupan seni rupa tidak hanya milik para perupa di kota-kota besar. Ada banyak praktik, komunitas, dan ruang kreatif yang tumbuh dari berbagai penjuru Indonesia.

Jika art fair adalah momen kamu mengambil jeda, Aesop Women’s Library adalah salah satu ruang menarik selama pameran berlangsung, yang digelar menyambut kehadirkan jenama kosmetik luks Aesop di Indonesia akhir tahun nanti.

Kamu bisa membaca (atau melihat-llihat) tujuh buku karya tujuh penulis perempuan, dan bawa pulang satu buku. 

Setelah beberapa jam mengeksplorasi karya-karya di Art Jakarta 2026 (termasuk bersosialisasi, karena selama tiga hari itu Kemayoran seperti jadi area skena Jakarta), kita sedikit lebih paham mengapa Jakarta dianggap sangat penting dalam peta seni rupa Asia Tenggara.

Selain karena posisinya sebagai pusat ekosistem pasar seni rupa terbesar, wadah pameran berskala internasional, serta motor penggerak dialog seni kontemporer regional, Jakarta punya kekuatan tersendiri. 

Di saat beberapa kota global lain di Asia Tenggara mengandalkan infrastruktur publik, kekuatan Jakarta justru terletak pada gairah komunitas lokal, kolektor domestik yang sangat kuat, serta inisiatif swasta yang masif. Sebuah alasan tersendiri yang tak kalah “nyeni.” (f)

Baca juga: 
Pengalaman Berbeda bagi Pencinta Seni Tanah Air Menanti di Art Jakarta 2026
S.E.A. Focus 2026 Sukses Menutup Edisi Kedelapan, Pertama Kalinya Diselenggarakan di ART SG
Art Jakarta Jadi Motor Penting Ekonomi Kreatif Indonesia

 

Bennita Luisa


Topic

#feminaindonesia, #feminapartnership, #artjakarta

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?