Lorong dalam nuansa monokromatik pink dengan sinar temaram menyambut para tamu fashion show koleksi Spring/Summer 2027 SAPTO DJOJOKARTIKO yang bertajuk A Language Beyond Words, di The Penthouse Sentral Senayan II, Jakarta, pada 20 Oktober lalu.


Sebagian mungkin merasakan vibes film Backrooms, namun sebagian lagi bersiap dibawa oleh Sapto Djojokartiko ke semesta tersendiri dalam menampilkan koleksi terbarunya.


Koleksi awal dalam palet warna lebih pucat, namun sudah menunjukkan craftsmanship unggulan. Foto: Dok. Sapto Djojokartiko


Sejak Jacey Philana memasuki runway sebagai First Face dan lampu ruangan berubah terang benderang, sang desainer sudah menunjukkan bahwa koleksi ini bicara tentang eksplorasi material melalui teknik pengerjaan yang menuntut keterampilan dan kesabaran tingkat tinggi. 


Mulai dari manipulasi benang dan bahan, detail berbagai teknik, kehadiran Batik Gedog Tuban, sampai tampilan terakhir yang dibawakan Reti Ragil, craftsmanship adalah bintang dari koleksi ini. 


Cek lima sorotan tentang fakta di balik koleksi Sapto Djojokartiko Spring/Summer 2027 berikut!


1/ Siluet lebih timeless

Dari dress hingga setelan jas juga atasan-bawahan dalam gaya layering khas Sapto Djojokartiko, siluet untuk koleksi kali ini terlihat timeless dan effortless, namun dengan detail yang memang menonjolkan craftsmanship.


Manipulasi bahan dan penggunaan bio-sequins untuk hasil one-of-a-kind. Foto: Dok. Sapto Djojokartiko


2/ Batik Gedog jadi tekstur baru

Warisan tekstil Indonesia menjadi salah satu sumber eksplorasi dalam koleksi Spring/Summer 2027. Sapto Djojokartiko mengambil inspirasi dari Batik Gedog Tuban, lalu mengolahnya melalui proses yang tak sekadar mempertahankan motif.


Mengutip rilis pers, benang-benang kain ditarik secara manual ke arah berlawanan, dikumpulkan menjadi untaian, lalu dirangkai kembali menjadi material bertekstur baru. 

Hasilnya digunakan pada sejumlah busana dan aksesori, termasuk bros.


3/ Menciptakan ilusi

Atelier ini mengolah material hingga menyerupai bahan lain untuk menciptakan ilusi visual. Ada benang-benang dijahit rapat satu per satu hingga permukaannya menyerupai wol. 


Teknik serupa juga diterapkan untuk menghadirkan tampilan denim melalui bordir, atau trompe-l’œil (tipuan mata), yang membuat permukaan terlihat seperti bahan denim meski konstruksinya berbeda.


Susunan, arah, dan kepadatan setiap benang menentukan hasil akhir—yang pastinya butuh waktu tak sebentar.


Seperti wol dan denim, padahal benang yang dijahit rapat; kombinasi kerancang dan bordir dengan payet nan rumit. Foto: Dok. Sapto Djojokartiko


4/ Menuntut presisi

Teknik tradisional kerancang atau openwork yang menuntut presisi tampil dalam koleksi ini, dan merupakan bagian yang menonjolkan craftsmanship dari atelier.


Pada salah satu tampilan, permukaan berlubang kerancang dilapiskan di atas bordir bunga kenanga atau ylang-ylang. Efek transparansi membuat sulaman di bawahnya tetap terlihat, menciptakan kedalaman pada permukaan kain.


Kemudian, payet ditempatkan satu per satu dengan mempertimbangkan posisi lubang pada material di bawahnya. Penataan ini membutuhkan presisi agar berbagai lapisan berpadu harmonis, termasuk saat kena pantulan cahaya.


Pendekatan serupa terlihat pada ornamen bulu dari organza. Lapisan-lapisan material disusun dengan variasi warna untuk menghasilkan volume dan gerak. 


Ada pula sulaman bunga kenanga dengan gradasi warna menyerupai sapuan cat air, tetapi sengaja tidak mengikuti bentuk bunga sebenarnya.


Sekilas seperti tekstur dari bahannya, ternyata berasal dari payet yang dijahati satu per satu. Foto: Dok. Sapto Djojokartiko


5/ Eksperimen material baru dengan bio-sequin 

Koleksi ini memperkenalkan pengembangan biodegradable bio-sequins sebagai alternatif payet konvensional berbasis plastik. Materialnya melibatkan alginat dan agar sebagai bahan pengikat, serta serat daun nanas dan kayu jati sebagai bahan pengisi. 


Payet yang dihasilkan memiliki variasi bentuk, tekstur, dan transparansi. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan koleksi yang merangkul ketidakteraturan dan komposisi tak terduga.


Penggunaan bio-sequins dan kerancang yang berlapis. Foto: Dok. Sapto Djojokartiko


Proses pengembangan tekstil, pola, bordir, manipulasi material, hingga penyelesaian akhir koleksi dikerjakan secara internal oleh tim atelier Sapto Djojokartiko.


Karena itu, proses pengerjaan menjadi bagian penting dari pengembangan desain, bukan sekadar tahap akhir sebelum busana selesai. 


Sebuah rangkaian proses kreatif yang bukan hanya terlihat pada hasil akhir, melainkan juga dengan keterampilan, ketelitian, dan kesabaran untuk mewujudkannya. (f)


Baca juga:

New Mode, Kolaborasi Lintas Disiplin di Senayan City Fashion Nation XX

Kekayaan Tenun Indonesia dalam Show Lungsara di Senayan City Fashion Nation XX

Anggun dan Koleksi Terbaru Toton dan Mel Ahyar Archipelago di Opening Show Fashion Nation XX