Made Sumiati menunjukkan kemampuannya di sesi Hair Coloring Class dalam acara Beauty That Moves: World Teacher’s Day. Foto: Dok. L’Oréal Indonesia

Memiliki keterampilan di bidang kecantikan, seperti kemampuan tata rambut, bisa jadi awal sebuah profesi, usaha, atau sumber penghasilan baru. 

Dan di balik talenta yang terampil, ada sosok guru yang mengajarkan teknik, etika profesional, dan mempersiapkan mereka menghadapi dinamika dunia kerja. 

Kehadiran para guru semakin penting mengingat industri kecantikan Indonesia terus bertumbuh pesat dan membutuhkan talenta dengan kompetensi yang relevan terhadap perkembangan tren serta teknologi. 

“Di ekosistem L’Oréal Indonesia, peran ini hadir antara lain melalui pendidik vokasi di SMK rekanan program Hairducation serta trainer Beauty for a Better Life yang mendampingi komunitas dari kelompok rentan. Kontribusi mereka sangat layak mendapatkan pengakuan dan dirayakan,” ujar Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement & Sustainability L’Oréal Indonesia, di acara Beauty That Moves: World Teacher’s Day, akhir Oktober lalu.

Beauty for a Better Life (BFBL) telah hadir sejak 2014, menekankan peran edukator komunitas.

Melalui 12 pusat pelatihan dan melibatkan 12 trainer yang berkolaborasi dengan lembaga sosial nirlaba, BFBL membekali para instruktur dengan kurikulum tata rambut dan rias berstandar internasional serta modul bimbingan sosial berbasis empati yang telah dijangkau oleh lebih dari 7.200 peserta.

Program ini dirancang khusus untuk memulihkan harapan serta martabat perempuan dari kelompok rentan sosio-ekonomi agar dapat meraih kemandirian finansial dan berkontribusi bagi perekonomian keluarga.

Salah satu edukator dari BFBL adalah Achadianingsih, akrab disapa Ibu Aca, yang telah berkarya di industri kecantikan sekitar 45 tahun. 

Memulai karier di salon pada usia 20 tahun, Ibu Aca kemudian menjadi pengajar di berbagai lembaga kursus dan pelatihan, asesor sertifikasi kompetensi nasional di bawah Badan Nasional Sertifikasi Profesi, serta Ketua Tiara Kusuma Kabupaten Cianjur. 

Sejak bergabung sebagai trainer BFBL pada 2015, ia telah membantu melatih dan meluluskan sekitar 4.800 peserta.

Di antara peserta yang ditemuinya, ada perempuan yang ingin kembali bekerja setelah jeda karier, ada yang membagi waktu belajar dengan tanggung jawab keluarga, dan ada pula yang masih meragukan kemampuannya sendiri. 

Ibu Aca memahami bahwa mereka tidak selalu dapat didampingi dengan cara yang sama. Ia perlu menyesuaikan ritme pengajaran, menyederhanakan materi ketika dibutuhkan, dan memberi dorongan agar peserta berani menggunakan keterampilan yang telah dipelajari.

“Bagi saya, hal yang paling berarti adalah ketika mereka mulai berani menggunakan keterampilan mereka untuk bekerja atau memulai usaha,” ungkapnya, yang pendampingannya bahkan hingga menghubungkan peserta dengan peluang berikutnya.

Selain program BFBL, untuk memastikan para guru terus mendapatkan akses kebaruan ilmu, L’Oréal Indonesia secara berkelanjutan menggerakkan program Hairducation sejak 2017, bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. 

Program ini memberikan pelatihan bagi guru-guru SMK tata kecantikan terkait teknik mutakhir, inovasi produk, pemahaman standar keselamatan, hingga pelayanan konsumen.

Hingga saat ini, Hairducation telah melatih 88 guru dari 46 SMKN di berbagai daerah di Indonesia, yang berhasil mempersiapkan lebih dari 4.200 lulusan yang siap untuk diserap industri tata rambut profesional.

“Ketika seorang guru memperoleh pemahaman teknis dan standar industri terkini, manfaat tersebut akan tereskalasi kepada ratusan murid yang mereka didik setiap tahunnya, menciptakan talenta masa depan yang siap bersaing,” kata Indra Tanudarma, Head of Education Performance Professional Products Division L’Oréal Indonesia.

Melanie Masriel, Made Sumiati, Indra Tanudarma, Achadianingsih, dan Magdalena Rospita. Foto: Dok. L’Oréal Indonesia

Mafaat Hairducation dirasakan Made Sumiati atau Ibu Made, guru Tata Kecantikan SMKN 3 Bogor, pendidik di SMK rekanan program Hairducation.

Ketertarikan Ibu Made pada dunia kecantikan membawanya memperoleh beasiswa pemerintah sebagai calon guru kecantikan pada 1986. Sejak itu, ia mengabdikan diri untuk mengajar tata rambut hingga kini mendekati masa pensiun.

Kesempatan belajar bersama L’Oréal memperdalam pemahaman Ibu Made mengenai ilmu di balik teknik tata rambut, termasuk anatomi rambut dan proses pewarnaan. Pengetahuan tersebut mengubah cara ia mengajar, sehingga murid juga memahami mengapa suatu teknik digunakan.

“Sekarang saya dapat menjelaskan bukan hanya apa yang harus dilakukan, tetapi juga alasan di balik setiap tahap, sehingga murid tidak sekadar menghafal prosedur, tetapi mampu menganalisis kondisi rambut dan menentukan penanganan yang tepat,” kata Ibu Made.

Ibu Made juga mencari cara agar ilmunya menjangkau lebih banyak orang. Saat pandemi, ia membuat materi presentasi dan video agar murid dapat terus belajar dari jarak jauh. 

Ia menulis buku Pemangkasan dan Pewarnaan Rambut untuk Kelas XI yang telah memiliki ISBN dan digunakan oleh sejumlah guru di Indonesia.

Ia juga membawa murid belajar langsung di L’Oréal Professionnel Academy, dan menghadirkan guru tamu melalui kelas Hairducation agar pembelajaran di sekolah semakin dekat dengan praktik industri.

Kisah Ibu Aca dan Ibu Made menunjukkan bahwa guru juga perlu mendapat kesempatan untuk terus belajar. 

Bagi L’Oréal Indonesia, Beauty for a Better Life dan Hairducation adalah cara untuk mendukung orang-orang yang berada di balik proses belajar. 

Melalui momentum World Teachers’ Day (5 Oktober), L’Oréal Indonesia mengangkat peran para pendidik, yang bukan hanya membekali murid untuk mengambil langkah berikutnya, tapi juga terus memutakhirkan diri dalam membentuk masa depan industri kecantikan Indonesia. (f)

Baca juga:

L’Oréal Brandstorm 2026 Dorong Transformasi Masa Depan Luxury Fragrance, Diikuti Lebih dari 11 Ribu Anak Muda

L’Oréal Indonesia Merayakan 45 Tahun Menggerakkan Industri Kecantikan Indonesia

Penata Rambut Indonesia Menang di Paris, L'Oréal Professionnel Berikan Apresiasi