Foto: Pexels
Penelitian menunjukkan bahwa 'transparansi' adalah kunci bagi merek pakaian dan tekstil rumah tangga untuk memenangkan kepercayaan dan keyakinan para konsumen. Ungkapan 'ramah lingkungan' dan 'biodegradable' menjadi istilah yang dapat meningkatkan pembelian.
Survei dilakukan secara online kepada 9.000 responden berusia 18 hingga 64 tahun di 9 negara, yaitu Indonesia, Cina, Jepang, Korea, India, Turki, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat. Survei yang dilakukan pada awal tahun 2020 ini dilakukan untuk mengukur persepsi dan perilaku conscious consumers terhadap pakaian dan produk tekstil rumah tangga yang berkelanjutan, serta pandangan mereka terhadap bahan baku dan fitur produk yang berkelanjutan.
Terdapat 3 temuan utama dari survei tersebut :
1. Conscious consumers secara aktif terlibat dalam menjalankan gaya hidup berkelanjutan dan secara konstan mengedukasi diri mereka sendiri tentang bahan baku pakaian
Sebanyak 86% responden percaya bahwa membeli pakaian yang terbuat dari bahan baku yang ramah lingkungan adalah komponen kunci dari gaya hidup yang lebih berkelanjutan, dan mereka seringkali membeli produk dari merek yang berkomitmen menggunakan bahan baku yang berkelanjutan (80%) atau bahan daur ulang (77%) dalam produk mereka.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa mayoritas responden aktif mempelajari tentang keberlanjutan dengan mencari tahu mengenai proses produksi sebelum membeli pakaian dan tekstil rumah tangga. Mereka juga cenderung membaca label hangtag dan sebagian besar responden bersedia membayar rata-rata 40% lebih tinggi untuk pakaian atau produk tekstil rumah tangga dengan deskripsi yang mencerminkan keberlanjutan.
Saat berbelanja pakaian dan produk tekstil rumah tangga, responden mempertimbangkan jenis bahan sebagai nilai yang terpenting bagi mereka bahkan posisi tersebut berada di atas harga, desain, reputasi merek, dan fungsi.
2. Produk dengan deskripsi 'Ramah Lingkungan' atau 'Natural' dengan daya tarik 'Keberlanjutan' atau 'Daur Ulang' lebih menarik bagi konsumen
Ketika ditanya tentang definisi pakaian berkelanjutan, yang menjadi pertimbangan utama para responden adalah produk yang diproses atau diproduksi menggunakan proses yang manusiawi dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Di samping itu, produk harus terbuat dari bahan alami, organik, atau botanik.
Lebih dari 80% responden menyatakan bahwa mereka 'sangat tertarik' atau 'tertarik' pada pakaian berkelanjutan dan membeli pakaian yang terbuat dengan bahan baku yang berkelanjutan.
Sebagian dari responden mengatakan mereka akan lebih cenderung membeli produk yang digambarkan sebagai 'ramah lingkungan' atau 'alami'. Sedangkan, lebih dari 60% responden lebih cenderung membeli produk dengan daya tarik 'dapat didaur ulang' atau 'dapat terurai secara hayati' setelah selesai digunakan.
Mengingat popularitas istilah tersebut, ada peluang bagi merek untuk memberikan deskripsi yang lebih luas dan kejelasan yang lebih besar tentang bahan, proses produksi, dan informasi akhir produk di dalam produk mereka sebagai bentuk edukasi bagi para konsumen.
3. Merek yang memberikan informasi transparan mengenai bahan baku yang digunakan bisa mendapatkan kepercayaan lebih dari konsumen
Sebagian besar responden menganggap merek yang transparan dengan bahan baku yang digunakan dan asal bahan baku adalah merek yang dapat dipercaya. Di saat yang sama, responden juga menganggap bahwa mereka yang dapat dipercaya adalah merek yang transparan tentang proses produksinya, praktik berkelanjutan, dan asal bahan bakunya.
Sementara responden percaya bahwa mengetahui bahan baku yang digunakan pada pakaian dan produk tekstil rumah tangga penting untuk membangun kepercayaan pada suatu merek, mereka juga percaya bahwa mengetahui dampak lingkungan merek saat memutuskan untuk membeli sangatlah diperlukan.
Temuan ini mencerminkan perlunya kolaborasi yang lebih erat dalam industri pakaian dan tekstil rumah tangga untuk memberikan informasi yang lebih transparan kepada konsumen tentang produk. Hal ini dibutuhkan demi meningkatkan kepercayaan konsumen dan memaksimalkan potensi bisnis.(f)
BACA JUGA:
Meningkatnya Tren Pesanan Makanan dan Belanja Online di Masa PSBB, Penyumbang Terbesar Sampah Rumah Tangga
Masyarakat ASEAN Rela Membayar Lebih Mahal Demi Produk yang Dukung Conscious Lifestyle
Mengenal Conscious Lifestyle, Tren Gaya Hidup Konsumen ASEAN, Termasuk Indonesia
Topic
#konsumen, #gayahidup, #ramahlingkungan