Trending Topic
Bank dalam Genggaman, Inovasi dari Industri Perbankan

29 Mar 2017


Foto: 123RF

Industri perbankan terus berinovasi untuk menjamin kenyamanan dan keamanan layanan perbankan digital. Perbankan digital, layanan baru dari dunia perbankan ini dianggap berorientasi pada pemenuhan kebutuhan nasabah yang menginginkan layanan yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja. Lantas, seperti apa perkembangannya?

Teknologi VS Gaya Hidup
Mungkin Anda termasuk salah satu nasabah bank yang terbantu dengan perkembangan dunia perbankan belakangan ini, seperti Rina (28). Wanita yang sehari-hari bekerja sebagai
freelancer ini mengaku terbantu dengan berbagai layanan e-banking yang ditawarkan bank tempatnya menyimpan uang. Sebagai freelancer, fee yang ia terima dari klien dibayarkan dengan sistem transfer ke rekening. Dengan demikian Rina harus rajin mengecek transaksi rekeningnya. Jika harus bolak-balik ke ATM dan antri di bank, tentu hal itu hanya akan menyita waktunya. Beruntung, kini aktivitas pengecekan saldo tersebut bisa ia pantau hanya dari layar ponselnya berkat layanan e-banking.

Dalam dunia perbankan, teknologi Informasi (TI) telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari operasional bank. Kemajuan di bidang TI ini telah memudahkan nasabah dalam melaksanakan transaksi keuangan melalui berbagai fasilitas layanan, mulai dari Anjungan Tunai Mandiri (ATM), Electronic Data Capture (EDC), phone banking, sms banking, internet banking, hingga yang kini banyak dipakai nasabah adalah mobile banking. Semua transaksi yang dilakukan dengan teknologi informasi inilah yang dikenal dengan istilah e-banking (electronic banking).

Peningkatan jumlah pengguna telepon genggam dimanfaatkan oleh dunia perbankan untuk memberikan kemudahan kepada nasabahnya lewat layanan phone banking yang memanfaatkan fitur suara dan teks SMS. Belakangan, ketika teknologi jaringan komunikasi data melalui handphone (GPRS, EDGE, 3G, HSDP, 4G) dan perangkat smartphone (iOS,
Android, dan Windows) semakin berkembang, bank pun menerapkan layanan mobile banking.

Bagi nasabah, layanan mobile banking ini memberikan banyak keuntungan, berkat fleksibilitasnya yang lebih tinggi dibandingkan dengan layanan e-banking lainnya. Dapat diakses
dari perangkat gadget, mobile banking bisa digunakan di mana saja, mulai dari transaksi pembayaran, transfer, hingga penarikan tunai tanpa kartu di ATM. Tidak ada lagi istilah
mengantri di bank.

Edhi Juwono, Pengamat Perbankan dan Staf Pengajar ABFI Institute Perbanas Jakarta mengatakan bahwa pada dasarnya apa yang ditawarkan perbankan ini seiring dengan
perkembangan TI yang begitu cepat dan perubahan gaya hidup masyarakat. Kebutuhan nasabah meningkat dan bank dalam hal ini harus dapat memenuhi semua itu, jika tidak ingin ditinggalkan oleh nasabahnya.

Advertisement
“Dalam menjalankan fungsinya yaitu mengerahkan dana masyarakat dan menyalurkan kembali, bank harus menyesuaikan diri lewat produk-produk untuk nasabahnya,” kata Edhi.

Akses Mudah
Beberapa tahun terakhir, pemerintah juga mendorong perbankan nasional untuk meningkatkan layanan digital lewat perbankan digital. Perubahan gaya hidup masyarakat menuntut layanan perbankan yang lebih efektif, efisien, dapat diakses dari manapun dan kapanpun, komprehensif dan mudah. Di samping itu, perbankan digital juga dinilai menguntungkan dunia perbankan dari sisi operasional, karena lebih efisien dan terintegrasi.

Dengan perbankan digital, nasabah dapat memperoleh berbagai layanan perbankan secara mandiri (self-service) tanpa harus mendatangi kantor bank. Mulai dari membuka rekening,
transaksi (tunai, transfer, pembayaran) hingga penutupan rekening. Lebih dari itu, nasabah juga bisa memperoleh informasi dan transaksi di luar produk perbankan, seperti nasihat keuangan (financial advisory), investasi, dan transaksi e-dagang (e-commerce). Semua itu bisa diakses hanya lewat smartphone.

Meski begitu, Edhi melihat perbankan digital di Indonesia masih tertinggal dari negara tetangga, Singapura dan Malaysia. Ada beberapa kendala yang menghambat pertumbuhan perbankan digital di Indonesia, mulai dari infrakstruktur teknologi yang minim, hingga kekhawatiran nasabah akan keamanan bertransaksi lewat perbankan digital. Faktor keamanan ini tak dipungkiri menjadi alasan mengapa nasabah masih ragu menggunakan perbankan digital, walaupun mudah dalam hal akses perbankan. Padahal, menurut Edhi, segala sesuatu yang berhubungan dengan uang pasti berpotensi timbulnya risiko. Yang membedakannya hanya terletak pada jenis kerugiannya.

“Dengan layanan perbankan konvensional, nasabah bisa saja dirampok karena membawa uang tunai. Akibatnya, uang hilang, keselamatan juga terancam. Sementara dengan perbankan digital, uang hilang, tapi risiko lainnya bisa diminimalisasi. Selain itu, dengan kecanggihan teknologi, pelaku kejahatan pencurian uang juga dapat ditemukan dengan mudah,” ungkap Edhi.

Untuk mengatur penerapan manajemen risiko dalam penggunaan teknologi informasi oleh bank umum, Bank Indonesia telah mengeluarkan peraturan No.9/15/2007. Sedangkan khusus digital banking peraturannya masih dalam bentuk draft berupa Panduan Penyelenggaraan Digital Branch. Saat ini memang hanya bank-bank besar di Indonesia yang sudah siap menyediakan layanan perbankan digital.

Belakangan, Rani pun mulai melirik layanan perbankan digital. Dengan layanan ini ia bisa mengatur kegiatan perbankan tanpa harus datang ke bank. Demi keamanan, Rani juga rajin mengganti password untuk akun perbankan miliknya. (f)

Baca juga:
Pembayaran Sistem Transfer Bank Masih Disukai Saat Belanja Online
Jenius, Alternatif Rekening Tabungan Bagi Anda yang Malas Pergi ke Bank
5 Solusi Mendapatkan Kepercayaan Bank untuk Ambil Kredit



Topic

#bank

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?