Foto: Dok. Pribadi
Karena terletak di tengah kota, Kampung Tarung sering didatangi wisatawan. Bersamaan dengan rombongan saya pun ada beberapa turis asing maupun lokal yang berjalan pelan dengan kamera di tangan. Di salah satu beranda uma, tampak seorang ibu menggelar tenun dagangannya: ada selendang, tali ikat kepala, taplak meja, dan sarung beraneka warna. Tas kecil dari anyaman pandan disebut kaleku pamama yang merupakan tempat menyimpan sirih pinang yang disuguhkan untuk tamu atau dibawa ketika bepergian.
Karena tak sanggup menahan diri, saya pun membeli taplak meja berwarna paduan jingga dan hitam dengan motif semacam kotak-kotak. Menurut si ibu penjual, itu motif batu kubur dan mamoli, dua ragam hias yang merupakan khas kain tenun Sumba. Saya pun segera bertanya, “Apakah Ibu punya mamoli?” Dia menggeleng.
Disambut oleh rato (pemimpin spiritual) Kampung Tarung, Rato Ledo Tera, rombongan kami mengobrol mengenai adat istiadat dan kepercayaan warga Marapu. Bagaimanapun juga, mereka harus bertahan di tengah kemajuan zaman, termasuk merelakan anak-anak muda mereka merantau sebagai TKI/TKW karena ingin penghasilan yang layak.
Uniknya, selama mengobrol, kami disuguhi kopi hitam dan teh panas yang sangat manis, membuat saya sampai mengernyit saat meminumnya. Menurut informasi, banyaknya gula yang ditambahkan dalam minuman itu berkaitan dengan penghormatan kepada tamu dan pernyataan bahwa si tuan rumah tidak sedang berkekurangan.
Dengan hati puas, saya memakai kalung yang baru saya beli dan beranjak ke Kampung Bondomaroto yang terletak sekitar 2 kilometer ke arah timur Waikabubak. Di kampung yang dihuni 32 kepala keluarga ini tersimpan begitu banyak benda sakral. Maklum, kampung ini merupakan salah satu penyelenggara utama wulla podhu (bulan suci masyarakat Marapu).
Pengalaman dari Kampung Tarung, saya pun sudah mulai terbiasa dengan pola-pola lanskap kampung adat Marapu. Kurang lebih tidak jauh berbeda dari kampung sebelumnya, tapi Bondomaroto terlihat lebih kecil luasannya. Karena hari sudah siang, di beberapa rumah saya melihat ibu-ibu sedang menenun, sebagian ditemani oleh anak-anak dan anjing jinak peliharaan mereka. Anak-anak yang sudah pulang sekolah tampak berlari-larian dan main panjat-panjatan di kubur-kubur batu megalitik.
Sebelumnya, saya sudah diingatkan bahwa di kampung ini ada semacam batu keramat bernama watu pawai, yang menjadi tempat meletakkan abu dapur simbol pengusir roh-roh jahat saat upacara toba wanno (bersih kampung). Seperti benda sakral lainnya, batu ini tidak boleh diinjak. Teringat pesan itu, saya yang ceroboh dan gampang tersandung ketika jalan, berusaha hati-hati saat di Bondomaroto. Jangan sampai menginjak batu keramat dan bisa-bisa membuat saya tidak bisa pulang. Hiii….
Rato Toda Lero yang menyambut kami di uma-nya kemudian menunjukkan lokasi batu keramat itu, yang ternyata tak jauh dari halaman rumah Rato. Di beranda rumahnya yang teduh, Rato menjamu kami makan siang berupa nasi putih, mi goreng, dan sayur daging ayam. Sayurnya berkuah bening, dibumbui secara sederhana dengan bawang putih dan jahe.
Sesuai adat, makanan yang disuguhkan harus dimakan oleh para tamu sebagai bentuk penghormatan. Begitu juga dengan sirih pinang yang diedarkan begitu tamu datang, harus dicicipi. Kalau tidak bisa memakannya, sebagai bentuk penghormatan, para tamu harus menyentuhnya. Saya pun berusaha keras untuk memakan nasi berukuran jumbo, plus mi goreng yang sudah ditata di piring. Pengalaman bersantap jadi lebih seru karena lalat-lalat gemuk dengan riang gembira beterbangan di sekitar kami, sementara di bawah rumah panggung itu merupakan kandang ternak! (f)
Baca Juga: