Temanya relatable dan para pemainnya juga siap mengaduk-aduk emosi kita dengan akting mereka.
Salah satu drama on going yang sedang Femina tonton adalah Tante Sonya, yang tayang di platform WeTV sejak 4 September 2026.
Drama yang dibintangi Raihaanun dan Maxime Bouttier ini adalah versi baru dari film Catatan Harian Tante Sonya (1994), tentunya dengan naratif lebih modern. Tapi, isunya klasik: Urusan cinta ketika sang pria lebih muda.
Tante Sonya mengajak kita melihat kisah cinta Sonya (Raihaanun) yang kembali berhadapan dengan masa lalu dan perasaan baru ketika bertemu Ben (Maxime Bouttier), laki-laki yang belasan tahun lebih muda darinya.
Sonya pernah mengalami pengkhianatan menjelang pernikahan, sehingga membuka hati lagi jelas bukan perkara sederhana.
Dari perjalanan Sonya dan Ben, ada beberapa pelajaran cinta yang relevan untuk kita pelajari, apa pun angkatan kita—meski Ben diceritakan Gen Z dan Sonya adalah Milenial.
1/ Nggak ada usia ideal untuk jatuh cinta
Masih banyak anggapan bahwa seseorang—terutama perempuan—harus sudah menemukan pasangan pada usia tertentu.
Padahal, perjalanan setiap orang berbeda. Ada yang bertemu pasangan sejak muda, ada yang memulai kembali setelah putus atau bercerai, dan ada pula yang baru siap membuka hati setelah melewati banyak pengalaman.
Jadi, kalau di usia tertentu kamu masih single, bukan berarti kamu tertinggal. Begitu pula jika kamu baru siap menjalin hubungan ketika sudah lebih matang. Cinta bukan lomba lari yang punya garis finish yang sama untuk semua orang.
2/ Pengalaman buruk bikin kamu lebih hati-hati
Sonya bukan sekadar takut jatuh cinta. Ia pernah dikhianati dan memilih menjaga jarak dari hubungan romantis. Ketika Ben datang kembali ke kehidupannya, ia harus berhadapan dengan rasa takut untuk kembali percaya.
Pengalaman bisa bikin seseorang lebih memahami apa yang ia butuhkan—termasuk rasa aman, penghargaan, batasan yang sehat, dan ruang untuk tetap menjadi diri sendiri.
3/ Beda usia bukan otomatis masalah
Sonya dan Ben punya jarak usia 14 tahun. Perbedaan ini menjadi salah satu hal yang membuat Sonya ragu, apalagi masyarakat masih sering memberikan penilaian berbeda ketika perempuan menjadi pihak yang lebih tua dalam hubungan.
Namun, angka usia bukan satu-satunya ukuran kesiapan seseorang menjalani hubungan. Cara berkomunikasi, menghargai batasan, menghadapi konflik, dan memberikan rasa aman juga penting.
Ini juga pengingat buat kamu kalau memilih pasangan sebaiknya nggak berhenti pada angka usia atau label hubungan (selama sudah cukup umur dan bukan pasangan orang lain). Yang lebih penting adalah bagaimana dua orang memperlakukan satu sama lain.
4/ Rasa suka saja belum cukup
Ada perasaan, tetapi ada juga keraguan, Amankahh hubungan ini? Apakah orang ini benar-benar serius? Siapkah kita mengambil risiko untuk kembali percaya?
Dalam kisah Sonya dan Ben, kepercayaan nggak muncul dalam semalam. Ben perlu menunjukkan bahwa perasaannya bukan sekadar kekaguman sesaat, sementara Sonya perlu menghadapi ketakutannya sendiri. Kedekatan mereka tumbuh lewat perhatian dan usaha untuk saling memahami.
Artinya, chemistry memang menyenangkan, tetapi hubungan membutuhkan lebih dari sekadar deg-degan. Konsistensi dan rasa aman punya peran besar biar relationship awet.
5/ Hubungan yang sehat menjaga kamu tetap jadi diri sendiri
Ada satu pertanyaan penting dalam hubungan, yang bukan cuma kapan menikah atau bertanya-tanya apakah dia jodoh kita. Menimbang apakah hubungan ini membuatmu merasa aman, dihargai, dan punya ruang untuk bertumbuh pun harus jadi pertimbangan kamu dalam memilih pasangan.
Itulah salah satu gagasan yang dibawa dalam perjalanan Sonya: Membuka hati di usia matang bukan berarti sedang mengejar sesuatu yang terlambat. Setiap orang punya waktunya sendiri untuk menemukan cinta, memulai kembali, atau bahkan memilih tetap sendiri.
Kalau kamu penasaran dengan kisah cinta Sonya-Ben, tonton Tante Sonya (juga dibintangi Dinda Kirana dan Hamish Daud) di WeTV setiap Jumat-Sabtu pukul 18.00 WIB. Episode terbaru ceritanya lagi bikin penonton emosional, nih.... (f)
Brianna Relisha