Mengawali karier di Bulog sejak tahun 1998, Febby Novita mengaku tak pernah lelah berjuang demi produk dalam negeri, khususnya beras Indonesia, agar diterima masyarakat sendiri. Bahkan Febby mengaku, bukan hal yang muluk jika beras Bulog kelak dapat bersaing di antara jajaran jenama beras premium yang sudah ada di pasaran lebih dulu.
"Kami harus percaya diri bahwa Bulog adalah perusahaan dengan infrastruktur terbesar di Indonesia. Kalau kami memiliki modal, kami sebenarnya bisa melakukan apa yang kami mau," ungkap wanita yang menjabat sebagai Direktur Bisnis Bulog sejak Oktober 2020 ini.
Menggawangi Lini Bisnis, tentunya Febby menjadi sosok yang dituntut inovatif dan adaptif pada perubahan pasar. Apalagi sejak resmi berstatus Perum (Perusahaan Umum) pada tahun 2003 dan berada di bawah Kementerian BUMN; Bulog juga mengembangkan lini bisnis dengan menjual produk pangan produksi dalam negeri, termasuk beras. Bulog tidak hanya berperan di jalur logistik, tapi juga bisa menyentuh langsung masyarakat lewat produk-produk premium.
Tantangan menembus pasar yang sudah terbentuk
Di sela-sela acara pemotretan bersama Srikandi Bulog dari seluruh Indonesia yang berlangsung di salah satu Gudang Bulog di kawasan Kelapa Gading, wanita kelahiran Palembang ini berbincang-bincang dengan Femina. Ia mengatakan bahwa memang di masyarakat masih melekat asumsi bahwa Bulog adalah lembaga pemerintah yang menyalurkan bantuan pangan untuk masyarakat yang membutuhkan.Namun sejatinya, Bulog memiliki beberapa produk andalan yang menyasar kelas ekonomi menengah hingga atas, dan sudah dijual di tingkat retail. Inilah pekerjaan rumah bagi Lini Bisnis untuk terus berbenah diri.
"Target itu sebetulnya bisa tercapai dengan adanya brand merchant kami sendiri. Dan kami sudah memproduksi beras sendiri," jelas Febby, yang menerangkan bahwa inovasi jenama beras milik Bulog adalah program Lini Bisnis Bulog untuk memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat sekaligus menguntungkan para petani lokal.
Bukan hanya beras, Bulog juga memproduksi mi sagu, beras jagung, tepung, hingga gula. "Bahkan beras merek SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) kami sempat dicari masyarakat karena harganya yang stabil dan tidak pernah melebihi harga eceran tertinggi pasaran," cerita Febby tentang contoh perjuangan Lini Bisnis Bulog, yang dipimpinnya sejak 3 tahun lalu.
Febby terlihat antusias saat bicara soal tantangan membawa jenama-jenama produk Bulog agar diterima masyarakat Indonesia. "Tentu saja kami memiliki target dalam bisnis. Bulog sendiri sudah tidak disubsidi pemerintah, sehingga kami harus berjuang dan bersaing dengan pasar yang sudah terbentuk," ungkap Febby, yang menamatkan S2 Manajemen dan Bisnis dari Institut Pertanian Bogor.
Bulog harus bersaing dengan jenama-jenama lain yang sudah dikenal masyarakat, sementara market share yang dimiliki Bulog tidak mencapai 10% dari total pasar beras di Indonesia. Namun Febby mengajak timnya untuk terus bersemangat agar bisa mencapai target secara nasional.
Diversifikasi sesuai gaya hidup
Satu hal yang menjadi pegangan Febby dalam berjuang bersama Bulog: Tim Bulog tersebar di seluruh Indonesia dan memiliki rantai pasok tepercaya dari berbagai pihak."Jadi, kalau orang membeli produk sembako Bulog, kami berusaha memberi produk yang berkualitas dan bagus, namun harganya terjangkau," kata Febby. Bulog mengikuti aturan Harga Eceran Tertinggi (HET) di pasar, sehingga menjadi keunggulan Bulog dan menjadi kepercayaan konsumen bahkan di level retail sekalipun.
Selain bersaing dari sisi kepercayaan publik terhadap produk, Febby dan timnya pun aktif melihat, meriset dan memasukkan unsur gaya hidup masyarakat ke dalam program pengembangan bisnis Bulog. "Kami jadi punya diversifikasi pangan yang mengikuti kebutuhan pasar, seperti produk mi sagu. Produk ini dibuat karena sumbernya banyak di Indonesia dan ternyata masyarakat yang mencoba juga banyak yang cocok," jelas Febby.
Sesuai semangat transformasi komersial Bulog, Febby juga melirik peluang target pasar yang lebih muda dengan sosialisasi jenama-jenama yang dibawanya. "Kami masuk ke media sosial, mendekati anak-anak muda melalui acara-acara gaya hidup seperti kegiatan lari, Zumba, car-free day. Di situlah kami perkenalkan bahwa produk kami dapat dibuat bermacam olahan," kata Febby. Beberapa waktu lalu, Tim Lini Bisnis Bulog juga bekerja sama dengan chef ternama serta mendukung komunitas-komunitas masyarakat setahap demi setahap untuk mengenalkan produk Bulog.
Keseimbangan hidup menuai ide segar
Melihat begitu banyak kesibukannya, apalagi dituntut untuk membawa ide-ide segar demi pengembangan bisnis, Femina penasaran bagaimana Febby menyeimbangkan kerja dan kehidupan pribadi. Rupanya bagi Febby, modal utama pencapaian kariernya adalah bekerja dengan tetap mengelola stres sehingga kehidupan pribadi serta kariernya tetap terjaga."Sebagai pemimpin kita tentu menghadapi banyak stres. Saya berusaha menyeimbangkan karier dengan berolahraga rutin," ungkap Febby yang menjaga keseimbangan kebutuhan diri dan karier dengan berolahraga minimal 4 kali per minggu. Febby rutin berlari dan bersepeda sebelum berangkat kerja.
"Olahraga itu melatih disiplin diri dan membuat kita tidak malas bergerak," ujarnya. Ia memilih olah raga lari karena simpel, dan sangat bisa disesuaikan dengan jadwal kerjanya yang padat sehari-hari.
Febby juga punya cara lain untuk menjaga keseimbangan dirinya: Selalu meluangkan waktu untuk keluarga, setidaknya seminggu sekali berkumpul bersama. Menurut wanita yang lahir pada 28 November 1973 ini, semua upaya itu membuatnya bersemangat dalam menggerakkan tim yang begitu besar, serta terdiri atas bermacam tipe pekerja. Dan pastinya, memelihara agar selalu memiliki banyak ide-ide baru yang segar untuk lini bisnis Bulog.
Rias wajah: Wardah IG @wardahbeauty
Busana: Kyoot Art Galore @kyootartgalore
Laili Damayanti
Topic
#BulogKomersial, #BerasIndonesia, #KedaulatanPangan