“Earth Society menjadi tempat bagi para seniman, desainer, dan berbagai praktisi kreatif dari dalam maupun luar negeri untuk membaca ulang relasi kita dengan alam dan komunitas di sekitar kita melalui keberlanjutan, kepedulian, dan kolektivitas sebagai eksperimentasi dan aksi nyata,” tulis Prananda L. Malasan dan Jerrey David Aguilar, kurator Earth Society, dalam teks kuratorial pameran.
Pameran ini mengajak peserta dan pengunjung untuk merefleksikan kondisi lokal, regional, dan global terhadap hilangnya ruang hidup yang layak di tengah perubahan bumi dan kondisi di masyarakat, melalui dialog lintas disiplin.
“ICAD selalu menjadi ruang pertemuan antara seni, desain, dan masyarakat. Di ICAD 15, kami ingin menegaskan kembali semangat kebersamaan dan kolaborasi yang menjadi inti dari festival ini, bukan hanya dalam merayakan kreativitas, tapi juga dalam berdialog tentang masa depan kita bersama,” ujar Edwin Nazir, Festival Director ICAD.
Lebih dari 50 seniman berpartisipasi, dan terbagi ke dalam lima kategori (Special Appearance, In Focus, Featured, Collaborations, dan Open Call), Earth Society menghadirkan beragam jenis karya oleh pelaku kreatif dari berbagai disiplin.
Salah satu sorotan dalam ICAD 15 adalah kehadiran karya-karya terbaru Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, yang menafsirkan tema Earth Society melalui pendekatan personal dan reflektif.
Tahun ini, ICAD juga mempersembahkan Special Appearance Profesor Emeritus Imam Buchori Zainuddin, tokoh pelopor desain produk Indonesia, dengan menghadirkan pemikiran, karya, dan kisahnya. Kategori In Focus menghadirkan karya pematung Yani Mariani Sastranegara dan desainer senior Ghea Panggabean.
Ada pula kategori Open Call yang menyoroti isu krisis iklim, sosial, politik, hingga perkotaan. Kreaby, studio kreatif berbasis di Jakarta bagi seniman autistik, menghadirkan karya tentang pentingnya ruang hijau di kota. Gevi Noviyanti bersama Arka Kinari membagikan temuan mereka tentang laut yang masih kerap dieksploitasi.
Berkolaborasi dengan seniman, pelaku kreatif, asosiasi, dan pusat kebudayaan asing, ICAD 15 juga menghadirkan berbagai program publik berupa talk show, workshop, performance art dan film screening.
Program-program publik akan diselenggarakan di panggung di lobi hotel, berfungsi sebagai ruang komunal di mana ide-ide dari berbagai perspektif bertemu. Karya arsitektur berupa panggung ini didesain khusus oleh arsitek dan skenografer Trianzani Sulshi untuk menjadi ruang yang menekankan konflik dan kontras sebagai pengingat bahwa kolektivitas dibangun melalui negosiasi atas perbedaan.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, ICAD 15 juga menyelenggarakan ICAD Student Tour, bekerja sama dengan 20 sekolah mulai dari SD hingga universitas untuk mengunjungi ICAD dan bertemu dengan kurator serta sejumlah seniman. Untuk berpartisipasi, rombongan peminat bisa menjadwalkan kehadiran dengan menghubungi ICAD melalui email atau situs resmi.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.arturaicad.com atau ikuti akun resmi @icadartura di Instagram dan platform media sosial lainnya. (f)
Baca juga:
JICAF 2025 Resmi Dibuka, Saatnya Ilustrator Indonesia Bicara di Panggung Dunia
Art Jakarta 2025 Siap Hadirkan Koleksi Terbaik dari 75 Galeri Mancanegara
Keseruan Jakarta Doodle Fest Edisi Ke-3 untuk Semua Umur
Topic
#feminaindonesia, #feminapartnership, #ICAD15