Money
Semarak Cashback, Kita Makin Boros atau Hemat?

24 Jun 2019


Dok: Unsplash.com

Sejak diperkenalkan tahun lalu, promo cashback yang diberikan aplikasi e-wallet langsung fenomenal. Bahkan pengguna rela antre panjang hanya untuk mendapat potongan harga Rp10.000 di sebuah gerai kopi susu atau buble tea. Belakangan promo cashback juga berlaku untuk pembayaran tagihan bulanan hingga membeli kebutuhan sehari-hari. Fenomena ini membuat generasi usia produktif Indonesia menjadi konsumtif?
 
Hello Cashback
Begitu membuka sebuah aplikasi super apps, yang biasa ia gunakan untuk transportasi dan pembayaran digital, Selfi, langsung menyentuh cepat layar ponselnya untuk melihat-lihat promo yang ditawarkan. “Nih…ada promo cashback token listrik. Lumayan, beli token Rp25.000, cashback-nya Rp8.500, jadi saya cukup bayar Rp11.500,” terang wanita yang bekerja sebagai desainer grafis di Jakarta itu dengan mata berbinar, akhir Mei lalu.
 
Bagi Selfi, cashback pembelian token listrik ialah promo yang paling ia buru. Sebab setiap bulan ia harus menyisihkan Rp500.000 untuk biaya listrik. Sejak ada promo cashback pembelian token listrik - walaupun tidak setiap bulan - Selfi mengaku bisa berhemat banyak.

“Saya senang pakainya untuk beli token listrik karena promo cashback-nya menarik. Beli token listrik Rp100.000 cashback-nya sekitar Rp15.000. Jadi kalau dihitung saya cuma bayar sekitar Rp86 ribu, plus Rp1.000 biaya admin. Walau aturannya cukup banyak, tapi bisa ngakalin. Misalnya, pakai akun teman yang nggak beli listrik”.
 
Dari coba-coba, kini Selfi selalu menunggu program promo cashback token listrik, baik dari Go-Pay atau OVO. Apalagi, belakangan setelah Tokopedia terkoneksi dengan OVO, ia juga bisa membeli token listrik dengan promo cashback di Tokopedia lewat OVO.
 
“Kembalinya memang bukan uang, tapi point yang masuk bisa saya gunakan untuk kebutuhan lainnya”.
 
Ketertarikan Selfi pada tawaran cashback tak hanya lewat belanja online. Saat jalan-jalan ke mal, ia kerap memilih makan di restoran atau jajan di tempat yang menawarkan cashback terbesar.
 
“Dah jadi kebiasaan, sebelum makan lihat-lihat dulu mana merchant yang ada promo cashback-nya. Terus hitung dulu, kira-kira menguntungkan nggak promonya,” jelas Selfi, tertawa.
 
Meski termasuk ketat soal menghitung pengeluaran bulanan, Selfi mengaku tak jarang juga ia tergiur membeli sesuatu karena promo yang ditawarkan.
 
“Kalau buat listrik memang lebih hemat, tapi buat jajan jadi bisa nggak kehitung. Apalagi saya tidak pernah menetapkan satu bujet khusus untuk jajan,” katanya.
 
Selfi sempat memiliki pemikiran mumpung ada cashback, lebih baik dimanfaatkan. Apalagi untuk pembelian token listrik, yang menurutnya bisa dipakai kapanpun. Bahkan dia rela menghabiskan dana hingga Rp2 juta sebulan untuk beli token.
 
Tapi, belakangan setelah semakin banyak program cashback yang hadir, terutama untuk kebutuhan konsumsi seperti makanan dan minuman, Selfi justru merasa semakin hemat. Karena ia akan benar-benar menghitung berapa promo dan keuntungan yang didapat.
 
 “Saya tiap hari pasti minum kopi, biasanya seduh sendiri. Tapi kalau ada promo cashback, saya hitung harganya jadi berapa. Kalau lebih murah, daripada saya harus beli kopi dan repot nyeduh sendiri, kan lebih baik manfatin promo cashback-nya,” katanya.
 
Lain lagi dengan Olla, sejak ada GO-PAY pada 2016, Olla mengaku langsung tertarik menggunakan aplikasi pembayaran digital tersebut, walaupun ada effort untuk isi saldo dulu.
Advertisement
 
“Awalnya pakai, karena saya ada kebutuhan transportasi setiap hari. Lebih mudah bayar ongkos, nggak perlu mikir kembalian,” kata Olla, yang bekerja di bidang media ini.
 
Ia juga tidak terlalu khawatir soal keamanan uangnya, meski saat itu e-payment berbasis ponsel masih terbilang baru.
 
Lama-lama, Olla terbiasa menaruh uang di e-wallet yang kini ada dua di ponselnya. Selain untuk kebutuhan transportasi, setahun terakhir Olla juga aktif menggunakan e-wallet untuk jajan dan belanja online.
 
“Kebutuhan saya untuk saldo GO-PAY dan OVO dalam sebulan minimal Rp800 ribu. Belakangan bisa lebih karena biasanya dipakai untuk beli makanan dan belanja di Tokopedia,” katanya.
 
Ia pun rutin memanfaatkan promo cashback untuk belanja online di Tokopedia. “Bisa lebih hemat justru, untuk membeli kebutuhan anak terutama. Biasanya saya beli baju, perlengkapan ulang tahun, hingga beli Lego,” cerita wanita yang berdomisili di Bogor ini.
 
Seperti halnya Selfi, promo cashback pula yang terkadang mendorong Olla untuk jajan makanan atau minuman saat sedang hangout di mal bareng keluarga dan teman. Logo cashback yang besar selalu berhasil menarik matanya untuk membeli suatu produk. 
 
“Sukalah sama promo, bisa lebih murah. Apalagi kalau soal jajan, saya tidak pernah menetapkan limit tertentu. Kalau ada tawaran diskon pasti lebih menarik,” ungkap Olla.
 
Tak hanya memanfaatkan promo cashback secara offline, saat di kantor, Olla juga suka memanfaatkan promo cashback untuk membeli camilan lewat online food delivery.
 
Apalagi di seputaran kantornya yang terletak di bilangan Jakarta Selatan tersebar banyak restoran dan kedai kopi yang menawarkan promo cashback.
 
Namun, ia sempat mengeluhkan aturan cashback yang manis di awal. “Tulisannya besar di depan toko, cashback 50 persen. Tapi pas baca ketentuannya, ternyata potongan maksimal hanya Rp20.000. Kalau kita belanjanya lebih dari Rp40.000 harusnya potongannya lebih besar dari Rp20.000 dong,” kata Olla, agak jengkel.
 
Tidak hanya Selfi dan Olla, penggunaan e-wallet karena tertarik pada diskon bisa kita temui banyak di generasi usia produktif. Diskon atau cashback masih menjadi pemanis.
 
Menurut riset Snapcart, sekitar 84 persen responden menggunakan e-wallet demi mendapatkan promosi, potongan harga/cashback. Angka ini terbilang tertinggi jika dibanding metode pembayaran lain, seperti kartu kredit, debit, atau lainnya.
 
Polling yang dilakukan femina lewat kanal Polling di www.femina.co.id pada awal Juni 2019 soal tren penggunaan e-wallet menemukan hasil yang cukup menarik. Selain untuk membayar transportasi online (33%), e-wallet banyak digunakan untuk transaksi membeli makanan dan minuman (25%), belanja online (17%), dan membeli voucher listrik, HP, PAM, dll (14%).
 
Sedangkan tiga alasan seseorang menggunakan pembayaran digital adalah kemudahan (35%), banyaknya tawaran promo cashback (29%), dan cepat (22%).

Baca Selanjutnya: Gencar Promo 
 

Faunda Liswijayanti


Topic

#epayment, #fintech, #ewallet

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?