Health & Diet
Mengenal 4 Gejala COVID-19, Yang Tidak Awam Didengar

7 Feb 2021


Foto: Shutterstock


1/ Delirium 

Istilah delirium menjadi populer semenjak masuk ke dalam daftar gejala infeksi virus COVID-19. Bukan sesuatu yang berdampak pada fisik seperti nyeri atau sesak, delirium sebagai gejala COVID-19 berkaitan dengan kondisi kesadaran, kognitif, dan psikis pasien.

Delirium adalah gangguan kesadaran, kognitif (kemampuan berpikir), perhatian, dan persepsi pada seorang pasien akibat penyakit tertentu. Menurut dr Dyah Novita Anggraini seperti dikutip dari klikdokter.com, gangguan delirium ditandai dengan empat ciri, yaitu gangguan kesadaran sampai koma, gangguan kognitif disorientasi sampai tidak bisa membedakan mana realita dan khayalan, gangguan emosi dan kecemasan, serta gangguan tidur.

Dokter Dyah menambahkan karena gejala yang satu ini tidak sepenuhnya berkaitan dengan gangguan fisik, pasien juga memerlukan bantuan dari seorang psikiater. Obat-obatan dari psikiater dapat membantu meredakan gejala delirium. Ditambah dengan terapi pengenalan ruang, waktu dan orang di sekeliling pasien, gangguan kesadaran, emosi, dan kognitif.

Cleveland Clinic menyebutkan 20-30 persen pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit berpotensi mengalami hal tersebut. Namun, kondisi delirium ini sifatnya dinamis alias berubah-ubah.

Advertisement

Menurut dokter spesialis perawatan neurokritis, Pravin George, DO, ada dua jenis delirium yang kerap dijumpai. Pertama, Delirium hiperaktif dimana pasien menjadi gelisah, agresif, dan berhalusinasi. Kedua, Delirium hipoaktif dimana pasien lebih sering mengantuk, lambat merespons, dan menarik diri. Namun ada kemungkinan juga dimana seorang pasien mengalami gabungan keduanya.

Dokter George mengatakan bahwa delirium pada pasien bisa disebabkan oleh virus corona yang terlanjur menyerang otak. Penelitian telah menyebutkan bahwa setelah virus menyerang paru, virus ini juga bisa menyerang bagian lain, seperti otak, ginjal, bahkan seluruh tubuh.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Network Open menunjukkan, 28 persen dari pasien COVID-19 lansia mengalami delirium. Sedangkan peneliti yang dipimpin oleh ilmuwan Massachusetts General Hospital juga menemukan, 817 pasien COVID-19 yang berusia 65 tahun ke atas mengalami delirium. Hingga saat ini, CDC (Centers for Disease Control and Prevention), Amerika Serikat, sebetulnya belum menganggap delirium sebagai gejala baru COVID-19 secara resmi.


Baca Selanjutnya: 2/ Parosmia 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?