Foto: Dok. RSCM
Meski terlahir di era yang sudah lebih maju dengan pemerataan nutrisi yang jauh lebih baik, tetapi jumlah penderita bibir dan langit-langit sumbing di Indonesia masih tergolong tinggi. Faktanya, satu dari 1.000 kelahiran hidup anak mengalami kelainan celah bibir. Dalam setahun, kasus baru bibir dan lelangit sumbing di Indonesia mencapai 7.500.
Bibir dan lelangit sumbing merupakan sebuah kondisi yang menyebabkan ketidaksempurnaan pada struktur bibir atau langit-langit mulut. Bibir dan langit-langit sumbing terjadi akibat gagalnya proses penyatuan bibir dan langit-langit pada masa perkembangan janin, sehingga terdapat celah di antara rongga mulut dan rongga hidung. Akibatnya, anak akan kesulitan makan, bicara, hingga kesulitan bernapas.
Dokter Kristaninta Bangun, SpBP-RE (KKF) dari Departemen Medik Ilmu Bedah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengatakan bahwa hingga kini belum ada penelitian yang membuktikan penyebab pasti bibir dan langit-langit sumbing. Namun para ahli menduga bahwa kurangnya asam folat, obat-obat tertentu seperti obat penenang termasuk narkotika dan juga rokok yang dikonsumsi oleh ibu adalah penyebabnya.
Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, SpOG (K) dari Departemen Medik Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSCM mengatakan bahwa agar anak tidak mengalami penderitaan yang berkepanjangan, sebaiknya dilakukan penanganan lebih dini. Deteksi harus dilakukan sejak dini ketika bayi masih dalam kandungan.
“Deteksi dapat dilakukan dengan USG pada usia kandungan 4-7 bulan,” kata Dwiana Ocviyanti dalam acara temu media untuk memperingati Bulan Kepedulian Bibir dan langit-langit Sumbing 2018 yang jatuh pada setiap bulan Juli di RSCM Kencana, Jakarta beberapa waktu lalu.
Sementara untuk penanganan oleh tenaga medis berupa tindakan operasi, akan lebih baik dilakukan sebelum anak berusia 6 bulan. “Lebih cepat ditangani, hasilnya akan lebih bagus dan sempurna. Hal ini juga baik bagi anak agar tidak di-bully oleh teman-temannya karena kelainan fisik,” tuturnya.
Selama Bulan Kepedulian Bibir dan Langit-langit Sumbing 2018, Cleft and Craniofacial Center (CCC) RSCM-FKUI menggelar program Cleft and Craniofacial Awareness and Prevention Month. Kegiatan ini meliputi bakti sosial multidisiplin bibir dan langit-langit sumbing di RSCM, edukasi untuk orang tua pasien, pelatihan terapi wicara, dan pembentukan tim bakti sosial CCC RSCM-FKUI untuk menolong pasien-pasien sumbing di luar Jakarta.
Cleft and Craniofacial Center RSCM-FKUI merupakan pusat pelayanan multidisiplin untuk penatalaksanaan bibir dan lelangit sumbing serta kelainan kraniofasial lainnya. Unit ini berada di bawah Divisi Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik, Departemen Medik Ilmu Bedah, RSCM dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tidak hanya pembedahan, namun CCC juga melayani terapi lainnya seperti terapi wicara, makan, dan gigi oleh tenaga medis yang telah terlatih di bidangnya masing-masing. (f)
Baca Juga:
5 Inovasi Kesehatan Ini Bikin Warga Gorontalo Lebih Sehat. Dari Wisuda Bayi Sampai Bank Darah Digital
Imunisasi MR di 28 Provinsi Segera Dimulai
Topic
#bibirsumbing