Health & Diet
Lewat Deteksi dan Penanganan Dini, Bibir dan Langit-langit Sumbing Dapat Kembali Sempurna

25 Jul 2018


Foto: Dok. RSCM


Meski terlahir di era yang sudah lebih maju dengan pemerataan nutrisi yang jauh lebih baik, tetapi jumlah penderita bibir dan langit-langit sumbing di Indonesia masih tergolong tinggi. Faktanya, satu dari 1.000 kelahiran hidup anak mengalami kelainan celah bibir. Dalam setahun, kasus baru bibir dan lelangit sumbing di Indonesia mencapai 7.500.
 
Bibir dan lelangit sumbing merupakan sebuah kondisi yang menyebabkan ketidaksempurnaan pada struktur bibir atau langit-langit mulut. Bibir dan langit-langit sumbing terjadi akibat gagalnya proses penyatuan bibir dan langit-langit pada masa perkembangan janin, sehingga terdapat celah di antara rongga mulut dan rongga hidung. Akibatnya, anak akan kesulitan makan, bicara, hingga kesulitan bernapas.
 
Dokter Kristaninta Bangun, SpBP-RE (KKF) dari Departemen Medik Ilmu Bedah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengatakan bahwa hingga kini belum ada penelitian yang membuktikan penyebab pasti bibir dan langit-langit  sumbing. Namun para ahli menduga bahwa kurangnya asam folat, obat-obat tertentu seperti obat penenang termasuk narkotika dan juga rokok yang dikonsumsi oleh ibu adalah penyebabnya.
 
Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, SpOG (K) dari Departemen Medik Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSCM mengatakan bahwa agar anak tidak mengalami penderitaan yang berkepanjangan, sebaiknya dilakukan penanganan lebih dini. Deteksi harus dilakukan sejak dini ketika bayi masih dalam kandungan.

“Deteksi dapat dilakukan dengan USG pada usia kandungan 4-7 bulan,” kata Dwiana Ocviyanti dalam acara temu media untuk memperingati Bulan Kepedulian Bibir dan langit-langit Sumbing 2018 yang jatuh pada setiap bulan Juli di RSCM Kencana, Jakarta beberapa waktu lalu.
 
Advertisement
Dwiana menambahkan bahwa janin yang terdeteksi mengalami kelainan khususnya bibir dan langit-langit sumbing memang tidak bisa diatasi, namun setidaknya ibu dari anak tersebut dipersiapkan tentang cara-cara penanganan ketika sudah melahirkan.
 
Sementara untuk penanganan oleh tenaga medis berupa tindakan operasi, akan lebih baik dilakukan sebelum anak berusia 6 bulan. “Lebih cepat ditangani, hasilnya akan lebih bagus dan sempurna. Hal ini juga baik bagi anak agar tidak di-bully oleh teman-temannya karena kelainan fisik,” tuturnya.  
 
Selama Bulan Kepedulian Bibir dan Langit-langit Sumbing 2018, Cleft and Craniofacial Center (CCC) RSCM-FKUI menggelar program Cleft and Craniofacial Awareness and Prevention Month. Kegiatan ini meliputi bakti sosial multidisiplin bibir dan langit-langit sumbing di RSCM, edukasi untuk orang tua pasien, pelatihan terapi wicara, dan pembentukan tim bakti sosial CCC RSCM-FKUI untuk menolong pasien-pasien sumbing di luar Jakarta.
 
Cleft and Craniofacial Center RSCM-FKUI merupakan pusat pelayanan multidisiplin untuk penatalaksanaan bibir dan lelangit sumbing serta kelainan kraniofasial lainnya. Unit ini berada di bawah Divisi Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik, Departemen Medik Ilmu Bedah, RSCM dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tidak hanya pembedahan, namun CCC juga melayani terapi lainnya seperti terapi wicara, makan, dan gigi oleh tenaga medis yang telah terlatih di bidangnya masing-masing. (f)

Baca Juga:
5 Inovasi Kesehatan Ini Bikin Warga Gorontalo Lebih Sehat. Dari Wisuda Bayi Sampai Bank Darah Digital

Imunisasi MR di 28 Provinsi Segera Dimulai
 


Topic

#bibirsumbing

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?