Foto: Fotosearch
Karena Ajakan Teman
Mia Fitri (39), Communication & Outreach Director Millennium Challenge Account, Jakarta
Pertama kali ikut triatlon tahun 2014 di Bintan, saya mencoba nomor relay, yaitu triatlon yang dilakukan tim terdiri dari 2-3 orang. Saya melakukan lari dan renang, dua olahraga yang sudah saya kuasai sebelumnya, sedangkan bersepeda dilakukan rekan satu tim. Nomor relay ini cocok untuk melihat seperti apa suasana lomba triatlon, istilahnya test the waters.
Sebelum ikut triatlon, saya sudah aktif berolahraga. Rutin 3-4 kali seminggu, saya lari dan latihan di gym. Saya juga beberapa kali mengikuti lomba half marathon dan renang. Hingga akhirnya, seorang teman mengajak ikut triatlon dan saya mencobanya. Ternyata menyenangkan! Saya menemukan tantangan baru. Menurut saya, ada seni tersendiri ketika harus memacu diri di tiga olahraga berbeda tersebut
Tahun 2015, saya mencoba sprint triathlon. Saya harus menempuh jarak 750 m dengan berenang, lalu dilanjutkan bersepeda sejauh 20 km, dan ditutup berlari sejauh 5 km. Karena sudah memiliki basic lari dan berenang, yang saya geber saat latihan adalah skill bersepeda. Butuh keberanian untuk mencoba bersepeda, apalagi di jalan raya. Ketika berlatih, saya melakukannya bersama teman yang sudah berpengalaman di triatlon, sehingga mendapat banyak masukan.
Sebelum berlomba, saya menerapkan jangka waktu latihan minimal 3 bulan. Persiapannya memang cukup tricky, karena ketiga olahraga tersebut harus dilatih dan dikombinasikan. Tiap minggu saya berlatih 5-6 kali dengan durasi sekitar 2 jam tiap harinya. Dalam satu kali latihan biasanya saya mengombinasikan dua olahraga. Misalnya, lari dengan sepeda, atau renang dengan lari. Sebagai bagian dari persiapan, saya juga melakukan strength training, yaitu latihan di gym untuk mengolah otot dan mencegah cedera. Ada baiknya latihan tidak selalu dilakukan indoor atau di dalam gym, tapi kita berlatih dalam kondisi cuaca panas atau heat training agar tubuh bisa menyesuaikan diri saat perlombaan.
Tantangan terberat buat saya adalah saat pergantian dari satu cabang ke cabang lain, misalnya pergantian dari sepeda ke lari. Ketika bersepeda, otot tubuh yang bekerja berbeda dengan ketika kita berlari. Jika terburu-buru otot bisa kejang dan menyebabkan cedera. Saat itu saya juga harus fokus saat bertukar perlengkapan, dari renang ke sepeda, misalnya. Saya harus membuka penutup kepala dan kacamata renang, lalu menggantinya dengan sepatu khusus bersepeda, nomor race, serta helm bersepeda. Karena, kalau ada yang salah atau terlupakan untuk dipakai akan didiskualifikasi. Semua itu butuh latihan. Saya juga harus ingat betul letak perlengkapan saya. Jika kita lambat saat mengganti, maka catatan waktu akan makin lama.
Di luar latihan rutin, menjaga istirahat dan nutrisi tetap seimbang, tak kalah penting. Walaupun kita sedang berlatih untuk race, kita harus meluangkan waktu untuk istirahat, minimal tidur harus 6 jam sehari. Dalam satu minggu, ada satu hari yang saya kosongkan dari jadwal latihan.
Untuk menjaga nutrisi, saya menerapkan prinsip clean eating, menghindari gorengan dan makanan tinggi lemak. Saya juga mengonsumsi nasi merah sebagai sumber karbohidrat. Sebagai tambahan, saya minum multivitamin. Dua minggu sebelum race, biasanya saya banyak minum air putih dan minuman tinggi elektrolit.
Saya termasuk pilih-pilih saat berlomba dan tidak ingin terlalu sering, karena saya menginginkan persiapan yang matang. Dalam setahun maksimal 2 kali.
Ikut triatlon merupakan cara saya untuk men-challenge diri sendiri, bukan untuk menang dalam lomba atau mengalahkan yang lain. Menyelesaikan lomba tanpa cedera adalah sebuah kemenangan. Ini bukti bahwa saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan bila ada keinginan besar dan kerja keras.
Sekarang ini saya sedang mempersiapkan race saya yang keempat kalinya. Saya akan berlomba di nomor olympic distance, di Sungai Liat, dengan target waktu sekitar 3 jam 30 menit. Untuk mencapai target waktu tersebut, saya berlatih menghadapi cuaca panas dan meningkatkan endurance.
Inge Prasetyo (35), Operation Manager, Shanghai
Saat SMP, saya pernah mendapat oleh-oleh majalah sport dari teman. Di majalah itu banyak artikel dan iklan dengan tulisan ‘Ironman’. Awalnya saya tidak tahu apa itu, tapi saya tertarik karena kebetulan saya memang suka berenang dan lari. Dari situ saya mulai mengetahui tentang cabang olahraga triatlon. Waktu berusia 16 tahun, saya ikut-ikutan lomba triatlon di Batam. Saya tidak melakukan banyak persiapan, hanya bergantung pada kemampuan berenang saja. Saya tidak sampai menyentuh garis finish karena dehidrasi dan kepanasan.
Sempat trauma bukan berarti menyerah. Tujuh belas tahun kemudian, tahun 2014, saya memutuskan mencoba lagi. Saya ikut Jinshan Beach Triathlon di Shanghai dan turun di olympic distance, bersaing dengan peserta lokal dan internasional. Kali ini saya bertekad mencapai garis finish. Kegagalan dulu tidak ingin saya ulangi. Saya pun mempersiapkan diri dengan melakukan latihan yang cukup.
Tak sia-sia, bukan hanya berhasil menyelesaikan lomba, tanpa disangka saya berhasil finish di urutan ke-5 dari semua peserta wanita dan urutan ke-2 untuk kategori umur, dengan catatan waktu 2 jam 36 detik.
Rasanya luar biasa. Karena saya tidak hanya berhasil menyelesaikan lomba, tapi yang terpenting saya kembali mendapatkan rasa percaya diri lagi untuk ikut triatlon. Apalagi saat itu beberapa saingan saya adalah triathlete terbaik di Asia.
Dari situ saya sadar, dalam triatlon tidak cukup mengandalkan satu kemampuan saja. Butuh keterampilan di tiga cabang lomba. Meski saya menguasai renang, saya juga harus serius latihan sepeda dan lari jarak jauh. Salah satu kunci latihan saya adalah kombinasi brick training - sepeda lalu lari.
Setelah itu, saya ikut half ironman 70.3 di Subic Bay di Filipina (finish urutan 4 di kategori umur), lalu Sungailiat Triathlon (finish urutan 2, overall female), lalu 70.3 Japan (finish urutan 2 kategori umur), Bali Triathlon dan 70.3 Putrajaya.
Dalam mempersiapkan lomba yang saya ikuti, kuncinya adalah latihan yang cukup. Banyak pemula yang mengalami cedera karena mengabaikan core training. Padahal, latihan ini penting untuk memperkuat hip dan lower back muscles agar tidak hanya satu bagian tubuh saja yang menanggung beban keseluruhan badan sewaktu berolahraga. Hal ini penting untuk mencegah cedera. Biasanya saya melakukan squat, plank, dan lainnya sebagai bagian dari core training.
Pada saat lomba, ketika tubuh sudah lelah dan hampir menyerah, saya punya trik tersendiri untuk menyemangati diri. Biasanya saya akan membagi jarak yang masih harus saya tempuh ke dalam beberapa segmen.
Misalnya, jika masih tersisa 15 km lagi untuk berlari, saya hanya pikirkan untuk mencapai aid station berikutnya, biasanya sekitar 3-5 km di mana saya bisa minum, makan, dan jalan kaki sedikit bila perlu. Jadi yang ada dalam pikiran saya hanya jarak 3-5 km yang harus saya tempuh, sampai akhirnya mencapai garis finish.
Untuk memulai triatlon, tak ada salahnya mencoba dari nomor yang paling ringan. Misalnya, dengan mengikuti kategori estafet atau sprint, atau ajang yang diselenggarakan klub triatlon, seperti Triathlon Buddies yang tidak memberi target waktu finish. Dengan begitu, kita semangat untuk terus menekuninya.
Seiring dengan pengalaman yang makin banyak dan tubuh sudah terbiasa, baru coba tantangan yang lebih besar. Selama ini saya sudah mengikuti berbagai nomor, seperti olympic distance dan half distance ironman.
Penting diingat, olahraga ini bukan untuk gaya-gayaan, tapi soal konsisten menjaga gaya hidup sehat. Sejak mengikuti triatlon, tidak ada lagi keinginan untuk jajan yang aneh-aneh, jadwal tidur pun jadi lebih teratur. Tak heran kalau saya merasa tubuh lebih fit dan lebih toned. Mood saya pun otomatis jadi lebih positif. (f)
Faunda Liswijayanti
Topic
#triatlon