Foto: Fotosearch
Menurut dr. Rachmad Wishnu Hidayat, Spesialis Kedokteran Olahraga dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, faktor yang dapat memicu sakit kepala saat olahraga di luar ruangan kemungkinan adalah kualitas udara yang kurang baik.
“Saat olahraga, frekuensi pernapasan kita meningkat. Udara termasuk gas atau zat polutan yang dapat menyebabkan sakit kepala pun lebih banyak terhirup. Panas matahari yang mengenai kepala, atau berkeringat banyak sementara asupan minumnya kurang, juga dapat menyebabkan pusing,” jelas dr. Wishnu.
Salah satu solusinya adalah memilih tempat dan waktu yang udaranya bagus, tidak terpolusi, misalnya pagi hari di lingkungan perumahan yang jauh dari jalan raya dan banyak pepohonan. Dengan begitu, Anda dapat menghirup udara dengan kualitas baik. Di pagi hari sinar matahari juga belum terlalu menyengat sehingga kulit tak terlalu terpapar sinar ultraviolet yang berbahaya.
Memang, sebagian orang memilih sore hari karena lebih terasa adem. Namun, menurut dr. Wishnu, di sore hari gas polutan lain (CO misalnya) atau karbondioksida cenderung lebih banyak, sehingga yang kita hirup bukan kualitas udara yang baik.
”Sayang jika Anda memaksakan diri berolahraga di udara yang tinggi polusi, karena sejumlah penelitian menunjukkan terjadi penurunan rata-rata kapasitas aerobik maksimal (parameter tingkat kebugaran jantung-paru) pada individu yang berolahraga di lingkungan dengan tingkat polusi lebih tinggi dibandingkan tingkat polusi rendah,” kata dr. Wishnu.
Hindari Udara Panas
Dr. Wishnu juga menyarankan untuk menghindari olahraga di lingkungan yang terlalu panas atau terlalu dingin, karena meningkatkan risiko cedera dan gangguan kesehatan. Olahraga di lingkungan luar ruangan yang panas dan kelembapan tinggi akan meningkatkan produksi keringat dan panas tubuh lebih sulit untuk dibuang ke lingkungan yang sudah bersuhu panas, atau tubuh justru menerima panas lingkungan. Sementara olahraga di lingkungan yang dingin juga meningkatkan risiko cedera atau penyakit, misalnya mudah terjadi kram otot atau frosbite pada cuaca yang ekstrem.
Namun, bila Anda tetap ingin berolahraga, dr. Wishnu menganjurkan untuk menggunakan pakaian dan perlengkapan yang bisa melindungi tubuh dari udara panas dan dingin. ”Perlu diingat, perlengkapan atau pakaian tersebut harus dapat menjamin terjadinya pelepasan panas tubuh akibat metabolisme yang meningkat saat olahraga. Dengan demikian, suhu inti tubuh tidak meningkat tinggi yang berisiko terhadap heat exhaustion atau heat stroke yang dapat berakibat fatal,” tegasnya.
Di Indonesia yang cenderung panas dan memiliki kelembapan tinggi, sehingga risiko dehidrasi lebih tinggi akibat produksi keringat yang lebih banyak, kebutuhan cairan atau minum mutlak harus diperhatikan. Untuk mencegah dehidrasi yang dapat mengganggu kinerja fisik dan kesehatan, Anda perlu membekali diri dengan air minum yang mencukupi. Jadi, sudah siap menuju taman? (f)
Topic
#olahragaoutdoor