Health & Diet
Bukan Sembarang Musik

14 Feb 2016


Tentu saja tak sembarang musik bisa digunakan. Menurut Monty, pemilihan jenis musik untuk terapi bergantung pada diagnosis gangguan pada pasien. “Tidak semua jenis musik layak digunakan untuk terapi, dan segala sesuatunya harus mempertimbangkan tempo, harmoni, timbre (irama nada), volume, durasi, dan ragam pertimbangan lainnya,” jelasnya. Tiap jenis musik memiliki karakter tersendiri yang unik.

Untuk menentukan jenis musik yang digunakan, Monica memiliki metode yang sedikit berbeda. "Saya biasanya akan mencari tahu lebih dahulu jenis musik atau jenis lagu yang disukai oleh klien," katanya. Menurutnya, itu karena  tiap individu memiliki kesukaan jenis musik yang berbeda.  Karena sebagian besar klien Monica selama ini adalah anak-anak, ia akan mencari tahu jenis musik kesukaan mereka dari orang tua maupun guru mereka.
           
Selanjutnya, ia dan klien akan bermain bersama-sama untuk menjalin keakraban dan menciptakan kenyamanan bagi klien. "Setelah itu, baru terjadi dialog antara terapis dan klien untuk mendalami masalahnya," jelasnya. Proses terapinya juga berbeda sesuai kondisi klien. Karena itu, tidak ada tolok ukur yang tepat, misal, berapa bulan terapi harus dilakukan. "Tergantung dari kondisi klien dan respons yang diberikan."

Advertisement
Alat musik yang digunakan pun tertentu. Menurut Monty, jenis perangkat musik amat berpengaruh terhadap respons organ sensorik manusia. Perangkat musik akustik memiliki  getaran suara dengan frekuensi yang berbeda dengan musik elektrik yang dihasilkan oleh perangkat electrophone (suara elektrik). Vibrasi suara yang dihasilkan oleh satu biola (solo) dengan banyak biola (orchestra) akan amat berbeda dampaknya. Lagi-lagi semua disesuaikan dengan kebutuhan klien.

Di Indonesia, metode terapi dengan musik memang belum banyak dikenal. Pun tak banyak klinik atau lembaga layanan kesehatan di Indonesia yang memberikan layanan terapi musik. Padahal, di negara-negara maju seperti di Inggris, terapi melalui musik banyak dilakukan untuk membantu   pasien yang mengalami masalah dengan kesehatan mentalnya.
Di UPH, layanan terapi musik baru hadir pada tahun 2014. “Sampai saat ini, pasien kami adalah anak-anak dengan masalah autisme, berkebutuhan khusus, memiliki self-esteem yang rendah, hingga anak-anak yang memiliki masalah dalam berkomunikasi secara verbal,” kata Monica.

Selain di UPH, lembaga lain yang juga menyediakan layanan terapi musik adalah Institut Musik Daya Indonesia (IMDI), Kemang, Jakarta.  Sekolah musik yang didirikan Prof. Tjut Nyak Deviana Daudsjah ini juga membuka jurusan terapi musik untuk mereka yang ingin mendalami ilmu terapi musik.(f)
 


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?