Dari kejadian yang menimpa mendiang Allya Siska Nadya beberapa waktu lalu, tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat kemudian jadi ingin tahu lebih jauh tentang chiropractic. Seperti apakah metode pengobatan ini, dan apa yang membuat metode ini bisa populer dan menjadi pilihan banyak orang untuk menangani persoalan kesehatan mereka.
Sama halnya dengan akupunktur dan herbal, chiropractic juga merupakan pengobatan nonkonvensional. Kiropraksi atau chiropractic berasal dari bahasa Yunani yang artinya ‘dikerjakan menggunakan tangan’. Meski fokusnya pada tulang belakang, tujuan utama kiropraksi sebenarnya adalah membantu tubuh menyembuhkan dirinya sendiri dengan membawa posisi tulang belakang ke posisi yang seharusnya.
“Dalam kiropraksi ada istilah 'subluksasi', yaitu kondisi di mana terjadi disfungsi segmen gerak pada persendian saat alignment atau kesejajaran, integritas gerak dan fungsi fisiologis berubah, walaupun tetap ada hubungan yang utuh antara persendian tersebut,” jelas dr. Anna Steven, yang juga mendalami kiropraksi. Sebagai gambaran mudahnya, ada persendian yang seharusnya membuat tulang bisa bergerak dua arah, tetapi ternyata hanya bisa bergerak satu arah. Atau, ketika persendian itu memungkinkan tulang menekuk hingga 90 derajat, tetapi ternyata hanya mampu sedikit menekuk saja.
Pada keadaan subluksasi, yang kita temukan adalah pergerakan yang kurang maksimal, sehingga sistem tubuh tidak bekerja optimal. “Manipulasi yang dilakukan, jika sesuai indikasi dengan teknik yang benar, akan aman, efektif dan menghilangkan nyeri serta memperbaiki masalah biomekanik dari tulang belakang,” tambah dr. Anna.
Kiropraksi makin populer setelah Palmer College of Chiropractic berdiri pada tahun 1905. Saat itu banyak dokter medis yang mempelajari ilmu baru ini. Meski sebelumnya, tahun 1873-1899, sempat terjadi kontroversi antara pengobatan allopati dan kiropraksi. Para praktisi kiropraksi dianggap melakukan praktik medis tanpa izin.
Meski permintaan masyarakat terhadap terapi ini cukup tinggi, baru pada tahun 1974 memperoleh izin resmi. Bahkan, pada tahun ‘50-‘60-an, tidak jarang seorang praktisi kiropraksi dipenjara. Namun, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, terapi kolaborasi antara medis dan kiropraksi banyak ditemukan. Dalam hal ini kiropraksi adalah pengobatan komplementer. “Kiropraksi pun mulai diterima oleh kalangan luas termasuk medis, hukum, dan masyarakat karena manfaatnya,” ungkap dr. Anna. Pendekatan interdisiplin juga membawa kiropraksi sebagai bagian dari tim olahraga, tim rehabilitasi, terapi okupasi, dan lain-lain.
Di Amerika, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan beberapa negara di Eropa, kiropraksi sudah diakui dan resmi. “Di Indonesia, setahu saya kiropraksi masuk sekitar 10-15 tahun yang lalu,” jelas dr. Anna.
Lalu kapan kita membutuhkan kiropraksi? “Bisa dibilang, semua orang yang menggunakan tubuhnya. Hanya, kebanyakan orang baru mencari pertolongan setelah timbul rasa nyeri,” kata dr. Anna. Nyeri pinggang, pegal-pegal, nyeri kepala, adalah kondisi yang umum ditangani secara efektif dengan kiropraksi.
Tetapi, tentu saja Anda harus melalui pemeriksaan fisik dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan penunjang apakah masalah tersebut berasal dari tulang belakang atau bukan. “Manipulasi yang dilakukan harus pada area yang memang membutuhkan pergerakan, bukan pada area yang sudah banyak bergerak sendiri (hypermobile) atau tidak stabil. Kebiasaan membunyi-bunyikan persendian misalnya, termasuk menggerakkan persendian yang memang sudah hypermobile,” jelas dr. Anna panjang lebar.
Claudia Warni (34), seorang penari profesional, adalah orang yang merasakan manfaat kiropraksi. Selalu dituntut untuk bisa menarikan gerakan yang sulit, menjadi tantangan tersendiri ketika tubuhnya harus bisa lentur dan fleksibel saat menarikan gaya tertentu. Selain itu, pekerjaan sampingan sebagai make up artist juga terkadang membuatnya harus membawa koper make up yang berat. Belum lagi ia kerap membungkuk saat sedang merias wajah klien. “Dua aktivitas utama saya sehari-hari ini membuat postur bahu dan pinggul saya lebih berat ke sebelah kanan. Dan tak jarang pula merasa pegal-pegal pada bagian bahu,” cerita Claudia.
Tak berhasil berobat ke mana-mana, Claudia mencoba terapi kiropraksi. Berdasarkan hasil X-ray, tampak bentuk tulangnya yang tidak normal yang kemudian diperbaiki secara bertahap dengan melakukan pijatan, beberapa latihan pernapasan dan gerakan tubuh yang benar. “Terus terang, saya merasakan perubahan. Tubuh menjadi lebih ringan setelah terapi di tiap pertemuan,” kata Claudia.
Menurut dr. Anna, ada beberapa situasi di mana kiropraksi tidak boleh dilakukan pada pasien. Yaitu, pada pasien dengan nonindikasi (di mana manipulasi tidak akan memperbaiki tetapi juga tidak memperburuk) dan kontraindikasi absolut (di mana manipulasi dapat menyebabkan kondisi yang mengancam jiwa). “Contoh kontraindikasi absolut meliputi patah tulang, tumor saraf tulang belakang, tumor selaput otak, dislokasi tulang belakang, adanya fiksasi internal, dan masih banyak lagi,” jelasnya.
Karenanya, seorang praktisi kiropraksi harus menguasai Ilmu yang meliputi tiga bagian besar. Pertama, ilmu biologi seperti anatomi manusia, neuroanatomi, neuroscience, biokimia, fisiologi, patologi, dan lainnya. Kedua, ilmu klinik seperti radiologi, neurologi, diagnosis fisik, diagnosis pediatrik, geriatri, dan masih banyak lagi. Ketiga, tentu saja ilmu kiropraksi, seperti sejarah chiropractic, prinsip dan filosofi chiropractic, teknik chiropractic, mekanika tulang belakang, practical development, serta diperlukan pengalaman praktik klinis di bawah supervisi.
Dari tingkat keberhasilan, dr. Anna mengatakan, “Berdasarkan pengalaman, tingkat keberhasilan terapi baik, asalkan pasien yang diterapi juga sesuai indikasi. Kiropraksi bukan cabang ilmu yang mencakup segala-galanya, sehingga apabila bukan pada ranahnya tentu harus dirujuk ke tempat yang lebih sesuai,” tegasnya.(f)