Dok: Pixabay
Sekarang pernahkah Anda menemukan barang-barang elektronik yang sudah tidak terpakai teronggok di sudut gudang atau di dalam lemari. Barang elektronik yang terbilang mahal harganya, terkadang memang membuat sang pemilik enggan membuangnya begitu saja. Hingga akhirnya hanya meletakkannya di dalam lemari.
Kebingungan harus membuang sampah elektronik ke mana diakui oleh Febri (25). Saat sedang membongkar laci meja, ia menemukan dua ponsel yang masih terbungkus rapih di dalam kardus. Ponsel tersebut sudah lama rusak, namun ia tak tahu harus dibuang ke mana ponsel tersebut. “Ponsel rusak, dijual nggak laku. Tapi kalau dibuang ke tempat sampah kok ya sayang,” katanya.
Begitu pula dengan baterai, seperti diakui Juni (22) yang selalu bingung kemana membuang baterai habis pakai miliknya. “Dulu saya suka buang ke tempat sampah, tapi saat mendengar berita baterai bisa meledak, saya jadi takut membuangnya ke tempat sampah. Bisa bahaya kan. Jadi saya simpan saja di lemari,” ungkap wanita yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan bank.
Meningkatnya penggunaan barang elektronik memang menimbulkan masalah baru, terutama di negara seperti Indonesia dimana penggunaan barang elektronik meningkat pesat. Tingginya penggunaan barang elektronik menimbulkan masalah baru yaitu sampah elektronik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan PBB, Electronics Take Back Coalition tahun 2016, terdapat 20 sampai 50 juta metric ton e-waste yang dibuang setiap tahunnya di dunia.
Menurut Sonia Buftein, Toxic Program Officer dari Bali Fokus, lembaga yang peduli tentang sampah di Indonesia, barang elektronik yang sudah rusak dan tidak terpakai, termasuk baterai sebaiknya segera dibuang. “Karena menyimpan barang bekas elektronik di rumah bisa berbahaya. Baterai misalnya, jika cairannya sampai keluar dan terkena kulit bisa menyebabkan iritasi,” jelas Sonia.
Lantas, kemana kita harus membuang barang-barang elektronik yang sudah berusia tua, rusak, dan tak lagi terpakai? Masukkan saja barang-barang tersebut ke dropbox sampah elektronik yang terdapat di berbagai lokasi. Saat ini pemerintah DKI Jakarta lewat Dinas Lingkungan Hidup menyediakan dropbox e-waste saat car free day dan beberapa lokasi lainnya.
Selain itu ada juga layanan ‘Jemput Limbah Elektronik’ yang diterapkan oleh Pemerintah DKI Jakarta. Syaratnya, limbah elektronik yang terkumpul sudah memenuhi berat minimal 5 kg. Dapatkan informasi lebih lanjut di www.lingkunganhidup.jakarta.go.id. Selain itu, Anda juga bisa mengunjungi instagram @ewasterj untuk lokasi e-waste dropbox lainnya. (f)
Baca Juga:
Akhirnya! Solusi Untuk Sampah Plastik
Tiza Mafira, Perintis Gerakan Diet Kantong Plastik Indonesia Mendapat Apresiasi Badan Lingkungan PBB
Di Surabaya, Anda Bisa Naik Bus Bayar Pakai Plastik
Faunda Liswijayanti
Topic
#sampah, #limbahelektronik