Burgreens, jaringan restoran nabati terbesar di Indonesia, bersama Green Rebel, sebuah startup teknologi pangan pertama di Indonesia yang memproduksi daging dan keju nabati, meluncurkan “Veganuary Indonesia”. Ini ajakan untuk mengonsumsi makanan berbasis 100% nabati satu kali dalam sehari.
Kampanye Veganuary bermula di London di 2014 dan berhasil mengajak 500.000 orang dari berbagai belahan dunia untuk bergabung. Di Indonesia, Veganuary menggandeng suara-suara dari figur publik seperti Eva Celia, Abigail Cantika, Arifin Putra, hingga Andovi Da Lopez. Kalangan vegan ini merangkul para flexitarian dan bersama-sama memopulerkan hashtag #TryVegan #OneVeganMealADay.
Dengan melakukannya sekali dalam sehari saja, seseorang sudah melakukan kontribusi pada alam, dengan menghemat rata-rata 4.200 L air dan mengurangi emisi karbon dioksida sebanyak 9 kg per tahun. Jejak karbon individu berkurang sebanyak 40%.
Lebih besar lagi ke 60% bila seseorang menerapkan 2 kali makan vegan dalam sehari. Serta, bisa sampai dengan 85% bila menerapkan pola makan nabati 100% (vegan).
Menjadi flexitarian atau flexible vegetarian seperti ini bisa menjadi gerbang utama para newbie. Veganuary bisa dilirik sebagai ajakan bersahabat, tak mengecilkan mereka yang baru bisa memulai sedikit demi sedikit.
Menurut riset EAT oleh Dr. Brent Loken, orang Indonesia masih sangat kurang mengonsumsi keluarga kacang-kacangan dan polong-polongan (beans dan nuts), dan sayur-sayuran. Padahal, beans dan nuts tinggi protein nabati, serat, phytonutrient, serta mengandung aneka vitamin dan mineral. Inilah diet ala nenek moyang Indonesia.
Indonesia juga sudah berada di ambang maksimal dalam memproduksi daging sapi.
“Sekarang kita tidak bisa hanya mempromosikan pola makan sehat tanpa melihat kesanggupan bumi untuk memproduksi makanan tersebut. Protein hewani terutama daging merah dan produk susu adalah makanan yang paling tidak ramah bumi karena merupakan kontributor utama gas metana, dan mengambil banyak sekali penggunaan lahan dan air,” urai Helga Angelina, co-founder dan CEO dari Burgreens dan Green Rebel.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa pola makan berbasis nabati (baik sebagian besar atau seluruhnya) dapat menurunkan risiko penyakit jantung, hipertensi, diabetes, kanker, menjaga berat ideal, meningkatkan kesehatan mental, dan menjaga sistem imun.
Observasi atas Blue Zones, atau berbagai daerah di dunia dengan populasi paling bahagia dan panjang umur juga menunjukkan bahwa gaya hidup paling berperan dalam populasi centenerian (orang yang hidup sampai usia 100 tahun). Pola makan mereka berbasis nabati dan sumber protein utama dari legumes (kacang-kacangan dan polong-polongan).
“Saya menganjurkan makan 30 ragam nabati dalam seminggu. Di sini serunya mengeksplor makanan baru yang dulu mungkin jarang kita konsumsi,” kata Max Mandias, Chief Innovation Officer Burgreens dan Green Rebel.
Dalam konferensi pers virtual, para penggerak menginformasikan ajakan bergabung ke kampanye ini dengan meng-klik GoogleForm-nya di website Burgreens dan Green Rebel. Peminat bisa memilih Kelas Nutrisi, Kelas Planetary Healthy Diet, hingga kelas Climate Activism.
Restoran yang sudah collab dengan Green Rebel dan meluncurkan menu vegan juga diajak menawarkan 15-20% diskon ke partisipan Veganuary. Uniknya, kolaborasi ini termasuk dengan resto-resto yang identik dengan menu daging, menyadarkan kita bahwa dorongan tren ini begitu besar. Sebut saja Abuba, Kimikatsu, dan Queen’s Tandoor.
Partisipan juga akan dimanjakan dengan hadiah-hadiah, termasuk meet and greet dengan bintang sepakbola vegan, Marc Klok. (f)
Foto: Dok.Unsplash, dok.Green Rebel
Baca juga:
Lagi Tren, Ini Bedanya Anggur Muscat dari Jepang
Setelah 20 Tahun, Dapur Cokelat Bercerita
Oat Mylk yang Lagi Hits di Jakarta
Trifitria Nuragustina