Di Turki, kaviar sudah ada sejak abad ke-4 sebelum Masehi. Di Inggris, kata kaviar muncul pada tahun 1591. Walau diawali oleh bangsa Turki, para tsar Rusia yang menjadikannya penganan kelas atas. Maka, tak heran, pada abad ke-16, telur ikan bak mutiara hitam ini mulai disajikan di meja makan para bangsawan Eropa dan Rusia. Namun, dunia internasional baru mengenal kaviar asal Rusia sebagai salah satu kuliner mewah pada abad ke-19.
Seakan ingin menyaingi Rusia, Amerika mulai memproduksi kaviar menggunakan ikan sturgeon dari Sungai Delaware pada tahun 1873 dan menjadi negara penghasil kaviar ke-2 terbesar setelah Rusia. Sayangnya, pada tahun 1910 ikan sturgeon di sungai itu mulai punah karena produksi caviar yang berlebihan. Mau tak mau, kaviar makin langka dan mahal.
Seperti keju dan wine, ada beberapa faktor yang menentukan kualitas kaviar. Kaviar terbaik didapatkan dari ikan berumur ‘matang’, misalnya sevruga caviar, yang dihasilkan oleh ikan stellate sturgeon yang berumur 20 tahun. Warna dan aroma telur juga menentukan. Makin mengilap, tidak pucat, dan beraroma laut segar, maka makin baik kualitasnya. Ukuran pun memegang peranan penting. Umumnya telur berukuran sebesar kacang polong yang dianggap cukup untuk dijadikan kaviar.
Dari sekian banyak jenis, ada 4 macam kaviar yang cukup dikenal, yaitu beluga, osetra, sevruga dan pressed. Dari keempatnya, beluga dihargai paling tinggi karena kelangkaannya. Satu kilogramnya dihargai 7.000 hingga 12.000 dolar AS. Bahkan, caviar beluga jenis almas mencapai harga 35.000 dolar AS. Kaviar berwarna putih mengilap ini diambil dari ikan beluga berumur 100 tahun. Kaviar beluga harus disajikan dengan sendok berbahan mutiara, karena bahan logam dapat merusak rasanya. (f)
Baca juga: Spa Golden Kaviar Mewah