Food Trend
Inilah Keseruan 3 Hari Pesta Makanan di Ubud

18 Jul 2016


Setelah diadakan perdana tahun lalu, Ubud Food Festival (UFF) kembali digelar selama tiga hari di penghujung Mei 2016. Program acaranya cukup menarik untuk menggaet pengunjung yang adalah peminat kuliner kelas serius dari berbagai wilayah di Indonesia dan turis asing. UFF merupakan proyek bergengsi Yayasan Mudra Swari Saraswati. Belajar dari tahun lalu, pendiri dan ketua penyelenggara, Janet DeNeefe, menghadirkan lebih banyak hidangan lokal.
 
Keramaian Jalan Sanggingan
Kota Ubud bersolek menyambut datangnya pesta kuliner berkelas dunia, Ubud Food Festival 2016. Memasuki kota kecil yang terletak di utara Pulau Bali ini, umbul-umbul dan spanduk dengan warna khas Ubud Food Festival menyambut para pencinta makanan. Keramaian makin jelas terasa di Jalan Raya Sanggingan.  Taman Kuliner dan Indus Restaurant merupakan dua lokasi utama UFF.

Tema Go Local  diusung tahun ini, memperkenalkan lebih banyak lagi sosok yang memberi kontribusi berbeda ke industri kuliner. Mereka menggunakan bahan lokal dan mengolahnya dengan gaya memasak yang menjadi ciri khasnya. Ada Dedy Sutan, group pastry chef anyar di PTT Family. Ia baru  saja sukses membawa tim Indonesia untuk pertama kalinya memenangkan Asian Pastry Cup.  

Ada Duncan McCance, chef di Bisma Eight, salah satu hotel hip setempat. Ia berkesempatan melakukan duet demo masak dengan kawan lamanya semasa di Australia, Jessie McTavish, chef-owner The Kettle Black yang diterbangkan UFF dari Melbourne khusus untuk acara ini.

Pemasak yang berkembang sebagai entrepreneur sukses di Bali juga berbagi ide di banyak program festival. Seperti Rafi Papazian, baker dari toko roti berkualitas,  Monsieur Spoon, dan Rodney Glick, pendiri Seniman Coffee, kedai kopi yang menjadi tujuan wajib di Ubud.
           
Di luar chef, ada Gede Kresna dan Yu Sing, arsitek yang menyebarkan kehidupan hijau ke lingkungan. Ada pula Ben Ripple dari balik Big Tree Farm, produsen yang menggiatkan produk artisan Bali. Arie Parikesit, pria sibuk yang dikenal sebagai kamus berjalan hidangan Indonesia, juga terbang dari Jakarta untuk mengisi acara.
           
Buku panduan disusun dengan menarik dan informatif. Yang jelas, banyak sesi menarik berlangsung di jam yang sama. Pujasera makanannya juga dikuratori oleh panitia dengan saksama. Cuaca yang panas misalnya, disejukkan dengan gelato dari kios Gelato Secrets dan cold-pressed juice dari Alchemy. Yang unik, food van milik Locavore, salah satu restoran yang paling digemari di Ubud.
           
Tidak hanya pengunjung yang silih berganti jajan di pujasera ini. Sejumlah relawan festival yang rela datang dari luar kota, menyempatkan datang ke sini. “Kapan lagi bisa terlibat di festival yang menyatukan banyak makanan enak!” ujar Leo, relawan acara dari Medan. Ia salah satu pengelola akun @makanmana, panduan kuliner Medan yang memiliki lebih dari 67.000-an follower di Instagram.
           

Demo Masak Tiada Henti

Semua demo masak berlangsung dengan tajuk besar Kitchen Stage, di ruang demo masak di Indus Restaurant milik Janet. Beberapa selebritas kuliner yang ikut serta tahun lalu kembali tampil, seperti Bara Pattiradjawane dan chef Made Lugra (Ayung Resort), yang berduet dengan Will Meyrick (restoran Hujan Locale).
           
Seperti biasa, nama-nama besar lainnya dengan susah-payah didatangkan sebagai bintang lainnya di UFF. Penyabet penghargaan Best Female Chef di ajang Asia’s 50 Best Restaurants 2016, Margarita Forés, sukses mengisi salah satu sesi Kitchen Stage. Ia juga ditempatkan dalam sebuah talk show bersama selebritas kuliner  Farah Quinn.

Di kesempatan ini, publik juga bisa bertatap muka dengan Julien Royer, chef dari Odette, Singapura. Terlepas dari titelnya sebagai bos dapur di restoran papan atas, pria Prancis itu tampil rendah hati di panggung. Sekadar informasi, banyak kalangan atas Indonesia berlomba mencoba Odette, mengingat popularitas Julien yang pernah membawa restoran terdahulunya, JAAN, Singapura, ke peringkat 11 di daftar restoran yang paling dicari di Asia.
           
Judul demo masak Michelin In the Making terasa pas karena Julien mengisi panggung bersama chef Nic Vanderbeeken dari restoran CasCades, Viceroy, Bali. Menyelingi Julien yang sibuk melakukan demo masak, chef Nic bercerita tentang masa belajarnya yang dimulai di dapur-dapur berpenghargaan Michelin di Eropa.
Julien menunjukkan kreativitasnya mengolah bit lokal menjadi hidangan berkelas. Walau sehari-hari bekerja dengan bahan-bahan terbaik dari Eropa dan Jepang untuk Odette, Julien ingin meracik bahan lokal sebagai bentuk apresiasinya untuk Bali.   

Dengan penuh kesabaran, Julien menyusun satu hidangan dengan beragam teknik, dibantu Adam Wan, sous chef dari Odette. Ini sesi langka, dilihat dari kesuksesan panitia dalam memboyong chef Julien ke Ubud dan memintanya menunjukkan betapa njelimet-nya proses di belakang layar sebuah dapur restoran terkemuka.
“Hidangan pembuka ini turut dinikmati publik dalam sesi Four Hands Chef Collaboration di CasCades semalam,” ujar chef Nic. Four Hands Chef Collaboration adalah program inisiasi Nic yang menggandeng chef kawakan untuk berkolaborasi di CasCades.

Selain untuk acara ini, saya juga berkesempatan memandu talk show yang terhitung istimewa, The Ibu Who Pionereed Indonesian Cuisine. Selain menjadi salah satu sesi yang mengawali pembukaan festival di hari pertama, talk show ini menampilkan Sisca Soewitomo, penerima Lifetime Achievement Award 2016 di UFF. Ia juga mendemokan keahliannya dalam memasak kue-kue kukus khas Indonesia di hadapan penggemar. Janet dan Bondan Winarno menyerahkan penghargaan kepada legenda kuliner Indonesia ini di malam pembukaan festival di Warwick Ibah.
           
Acara pembukaan di Warwick Ibah menyatukan puluhan media dari dalam dan luar negeri, disambung afternoon cocktail yang berjalan hangat. Wartawan menyempatkan sesi ini untuk berbicara akrab dengan pengisi acara konferensi pers, yakni Ibu Sisca, Janet, Margarita, dan Made Janur (Co-Creator Moksa, Plant-Based Restaurant and Permaculture).
 
Advertisement

Larisnya Acara Makan-Makan

Alam yang indah dipenuhi sawah, sungai, dan jurang-jurang gunung, menyedot kedatangan wisatawan di Ubud. Mereka menciptakan pasar yang kondusif bagi para chef yang berani mencoba peruntungannya di sini. Tanah Ubud yang subur juga memberikan ruang bagi para chef untuk melakukan salah satu dari hal yang dicintainya: memasak dari bahan-bahan lokal dan bahkan bercocok tanam secara organik untuk supply bahan.

Tidak mengherankan, banyak  restoran yang bisa dibanggakan Indonesia, berdiri di Ubud. Ini termasuk Lovacore, satu-satunya merek lokal yang menembus Asia’s 50 Best Restaurant versi S. Pellegrino & Acqua Panna, tahun lalu. Beruntung, femina   mendapatkan satu kursi di sesinya yang sold out di hari terakhir festival. Malam itu, kedua pemilik, chef Ray Adriansyah dan chef Eelke Plasmeijer, menunjukkan kebolehannya dalam meracik bahan lokal ke dalam cita rasa yang belum pernah saya cecap sebelumnya.

Tidak sulit bagi UFF untuk menjadi magnet turis, mengingat banyak acara makan-makan di restoran bergengsi menghiasi program acaranya. Tiketnya laris manis dibeli turis asing dengan harga  Rp120.000++ - Rp1.500.000++. Santap malam bertajuk Archipelago by Petty Elliott di Alila Ubud yang tidak murah, seharga Rp750.000++, termasuk yang habis terjual.
           
Karena Ubud menjadi tujuan bagi penikmat raw food, pantas saja bila sesi makan-makan Garden Grazing with an Eye on the Plate di Moksa, ludes terjual. Kabar terkini, chef Made Runatha, pemasak raw food yang tersohor, menggawangi dapur restoran yang bersembunyi di daerah Sayan itu. Semua tamu, termasuk saya, menikmati sajian chef Made yang dihidangkan dalam peranti makan Gaya Ceramic.
           
“Hidangan chef Made sangat lezat. Sukar dipercaya ini semua adalah raw food,” puji seorang tamu asing di meja yang sama dengan saya. Ia membeli hampir semua tiket acara makan sehat di UFF karena tak ingin menyia-nyiakan liburan sebelum kembali ke Selandia Baru.
 
Ubud Kaya Potensi
UFF  di tahun keduanya sekali lagi berhasil mengajak mereka yang mencintai dunia kuliner untuk bersatu merayakan keragaman hidangan khas Indonesia bersama 60 lebih figur  kuliner ternama Indonesia dan beberapa negara lain. Dari acara santap di restoran fine dining, kesempatan melihat idola memasak, mendengarkan ide-ide masa depan kuliner, UFF kembali menjadi ajang berbobot selama tiga hari.

Hampir semuanya menyampaikan pesan yang bernapaskan kuliner berkelanjutan dan pentingnya menjaga ekosistem demi keberlangsungan bahan baku yang berkualitas. Dalam press release, Bondan berharap,  acara ini menjadi gerakan yang bisa mempromosikan tradisi kuliner lokal, terutama koleksi hidangan sehat Indonesia.  

“Melalui UFF, yayasan nirlaba kami memiliki misi lebih dari sekadar menyajikan hidangan khas Indonesia yang lezat. UFF ingin memperkuat industri kuliner Indonesia dengan menginspirasi para chef muda berbakat, menyambungkan mereka dengan figur kuliner dan bisnis kuliner yang bisa mendukung karier mereka,  sekaligus menonton idola mereka beraksi. Melalui ini semua, kami mendukung penciptaan sebuah industri kuliner berkelas dunia,” papar Janet.

Namun, sekali lagi, semua bisa terjadi berkat potensi yang dimiliki Ubud. Menjagokan profil-profil hebat dan industrinya yang kreatif terbilang mudah ketika lokasi ini merupakan wilayah yang begitu kaya dengan banyak inisiasi fantastis di bidang ini.

Dibanding pengunjung tahun lalu yang berjumlah 6.500 orang, festival kali ini menjaring hampir 8.000 orang. Lebih dari setengahnya adalah orang Indonesia. Lagi-lagi, wilayah berisi 30.000 penduduk yang mengisi daftar Top 10-TripAdvisor’s Traveller’s Choice Award 2016 ini punya alasan untuk Anda  kunjungi di tahun depan! (f)
 


Foto: MATT OLDFIELD, ANGGARA MAHENDRA, TN.
 
 
 
 
             
           
           
           
           
           
 

Trifitria Nuragustina


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?