Foto: Femina
menggiurkan.
‘Syarat’ membujuk masuknya brand spesifik tentu tak lagi terletak di persoalan dana. Passion perlu terbaca dari si pengaju proposal. Karena dibutuhkan kesungguhan dalam mempertahankan mutu dan reputasi.
GROM
Kehadiran GROM asli Kota Turin, Italia, lekat dengan perjuangan Cathleen Purwana membawa masuk merek ini sepanjang tahun 2009 hingga 2015! Bersama rekan bisnisnya, Agnes Tjandranegara, mereka sukses meletakkan Grom dalam deretan gelato mewah yang bisa dinikmati di Jakarta
Anda langsung mengontak pendirinya?
Ya, ke salah satu pendirinya, Federico Grom. Tapi, saat itu Grom belum siap melebarkan sayap di Asia. Mereka hanya buka di Italia dan satu di Paris. Saya tunggu hingga akhirnya mereka buka di Tokyo pada tahun 2011. Pendekatan saya gagal lagi. Dia belum yakin untuk masuk Asia Tenggara, apalagi Indonesia, negara yang belum dia kenal.
Tahun 2012, saya dan Agnes nekat minta bertemu di Italia. Pertemuan di Milan membawa dirinya datang dua bulan kemudian ke Jakarta. Kami mengantarnya berkeliling mal yang nantinya akan dibuka Grom. Tahun berikutnya, mereka kembali ke Jakarta untuk cek kesiapan pasar. Lumayan sulit memperkenalkan merek ini ke manajemen mal besar. Keduanya sama-sama harus diyakinkan. Setelah satu tahun perizinan, September 2015 Grom buka di Pacific Place Jakarta. Perjuangan 6 tahun terbayar dengan antusiasme publik!
Seberapa penting proposal yang detail dan menarik?
Saya mengirim business plan detail. Profil saya dan Agnes yang bagus-bagus ditulis lengkap! Hasilnya? Tak ada respons dari Frederico, ha…ha… ha…! Apalagi, di Milan kami berjumpa dengan Guido Martinetti, pendiri sekaligus recipes developer Grom.
Maestro di balik kelezatan semua gelato Grom ini tampil eksentrik, blakblakan, dan saklek. Saat saya, Agnes, dan Federico berdiskusi di satu meja, ia malah duduk di meja lain sambil memperhatikan. Ia sesekali menyela pembicaraan dari jauh. Tidak ada proposal. Mereka cuma menilai jawaban-jawaban
kami. Keputusan sepenuhnya di tangan Guido. Kalau ia tidak sreg, tidak ada kerja sama.
Seberapa ketat ketentuan Grom?
Mulai pengelolaan bisnis hingga pengemasan dilakukan sesuai standar dari pusat. Mesin gelato dibuat oleh merek legendaris, Carpigiani, dengan spesifikasi khusus dari Guido. Beda dengan gerai di Italia yang mungil karena budaya makan gelato sambil jalan, cabang di Indonesia laiknya kafe karena orang Indonesia gemar nongkrong. Tetap, tiap gerai didesain Grom pusat. Saya diminta untuk mengirimkan sampel furniturnya!(f)
Baca juga:
Gaya Gelato, Es Krim dari Bali dengan Bahan Organik Hadir di Jakarta
Dingin dan Nikmat, Mengenal Ragam Frozen Dessert
Gerai Kedua Gelato Secret Jakarta
Topic
#foodikonis