Food Trend
Dandanan Baru Food Court Masa Kini

15 May 2016


Foto: dok.femina

Di dalam food court, beragam selera bersatu. Dengan kekuatan ini, food court tak pernah hilang eksistensi ketika restoran trendi justru hilang silih berganti. Food court berevolusi, dari yang khusus mengedepankan street food, berinterior unik, atau dibentuk atas nama-nama baru yang dimiliki pebisnis hipster. Food court berbenah mengikuti tren kekinian.
 
Jika dulu food court identik dengan keberadaan di dalam mal, kuliner sebagai gaya hidup memunculkan inovasi-inovasi menyegarkan. Beberapa  hadir di luar ruang, membuat para tenant lepas dari ‘kewajiban’ tampil dalam interior yang kaku dan seragam. Masyarakat bisa makan enak dengan pilihan sebanyak-banyaknya tanpa perlu masuk mal.  
           
Melintasi Jalan Prapanca Raya di Jakarta Selatan, container-container dengan warna menyala ‘berkerumun’ membentuk sebuah kompleks makan dua lantai, South Box. Di area depan terlihat mencolok container kuning Halal Bros. Sejumlah acara komunitas pernah digelar. Tak sekadar untuk makan, food court ini juga sebuah lifestyle hub.
           
Lain lagi cerita Eat Republic. Di website, tertera misinya untuk membantu pedagang kuliner khas Indonesia, mempertahankan budaya, dan memperkenalkan makanan tersebut ke seluruh lapisan masyarakat. Eat Republic tengah menuju cita-citanya sebagai pusat kuliner terbesar di Jakarta Selatan, dengan menyediakan 700 hidangan.

“Kami mendirikannya setelah mengamati belum adanya destinasi wisata kuliner dengan variasi makanan lengkap bersuasana nyaman,” ujar Asep Saepudin, General Manager Eat Republic. Konsep desainnya, Indonesia tempo doeleo. Ornamen kayu, bambu, dan daun kelapa kering menghiasi atap gedung dan tiap gerai. Suasana pedesaan tanah Pasundan. Belum genap satu tahun,  food court yang menggunakan Bondan Winarno sebagai duta dan konsultan ini selalu ramai kala weekend.
Advertisement

Sejumlah pebisnis di Pasar Santa juga bersatu membentuk Food Fighters, memberi napas baru pada lahan yang semula tak terpakai di samping Fave Hotel. Sebut saja Mie Chino, Zucker Waffle, dan Sloppy Bro. Lokasi di Blok M yang padat lalu-lalang orang mudah menggaet siapa pun yang melintas. 
           
Terbentuknya Food Fighters diawali niat pengelola Fave Hotel untuk membuat tempat hang out. Sejalan dengan aliran kreatif Pasar Santa, manajemen melirik beberapa tenant --yang masa kontraknya akan berakhir-- di sana. Undangan untuk menempati lokasi kosong di bawah hotelnya pun dikirimkan. “Setelah kontrak di Pasar Santa berakhir, kami langsung buka di sini,” ujar Alwin Rastra, salah satu pemilik Sloppy Bro. Begitu juga beberapa tenant lain yang kompakan pindah ke Food Fighters.

Tiap gerai ‘berdandan’ dengan ciri masing-masing, membawa gaya yang telah mereka bangun di Pasar Santa. ‘Budaya’ foto di lokasi makan dipahami Food Fighters. Tongsis bisa dipinjam dari kasir bagi yang ingin foto-foto!

OTW Food Street hadir di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Desain ruangnya rustic bak rumah nyaris runtuh. Tampilan polos batu bata menonjol di antara ‘retakan’ dinding. Meja makannya ‘berkaki-kaki’ mesin jahit jadul. Container hijau muda di bagian depan OTW Street Food menjadi eye stopper. Aktivitas memasak di dalamnya bikin penasaran pengendara yang melintas. Kecenderungannya, makin sore, makin ramai!

Sama halnya dengan Seven8Nine Food Centre yang terlihat mentereng dengan lampu neon magenta, di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Gerai-gerai dibuat dari jajaran container, dengan satu atap besar yang menyatukan ini semua. Mirip hawker centre di Singapura. Mural 3 dimensi jadi pernik dinding, diminati tamu yang ingin foto ala 3 dimensi seperti di Penang 3D Trick Art Museum. (f)
 


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?