Foto: dok. Berry Kitchen
Berry Kitchen
Pelanggan katering umumnya pasrah dengan hidangan yang dikirimkan ke rumah. Mungkin Anda berandai-andai seperti Cynthia Tenggara, CEO dan Co-Founder Berrykitchen.com, kalau saja menu bisa dipilih sesuka hati. Ini melatarbelakangi lahirnya online catering ini pada tahun 2012. Konsumen bisa memilih snack, sayur, lauk, lauk pendamping, hingga dessert yang berbeda tiap harinya. Ini meninggalkan konsep ‘rantangan’ lama yang menunya seragam.
Konsep yang mereka namakan Ready to Eat ini kini ditambah dengan Ready to Cook. Ini merupakan konsep meal kit delivery, yaitu konsumen tinggal memasak bahan-bahan yang telah ditakar Berry Kitchen. Ini menyikapi wanita urban yang mulai tertarik dengan aktivitas dapur. Sebagian resep menampilkan koleksi Arimbi Nimpuno, penggelar kursus masak yang tengah menjadi figur kuliner masa kini.
Kini, Berrykitchen.com melayani rata-rata 2.000 bekal makan siang tiap harinya. Kerja sama dengan bantuan dana dunia, Sovereign Capital, memungkinkan dapur Cynthia bisa memiliki dapur seluas 811 m2.
Foto: dok. 3 Skinny Minnies
3 Skinny Minnies
Memilih katering karena ingin makan enak tanpa menyentuh dapur? Ingin makanan sesuai diet, tapi takut salah racik? Keduanya dijawab oleh tiga sahabat: Tana Suwardhono, Reina Latif Wardhana, dan Jessica Halim di bawah bendera katering 3 Skinny Minnies.
Homemade sauce yang rupanya digemari pelanggan memunculkan ide untuk menjualnya secara terpisah, bernama Skinny S.O.S. “Bahan-bahannya menurut kami lebih sehat dari saus siap pakai yang sudah ada di pasaran. Banyak yang memesannya agar bisa dengan mudah melanjutkan pola makan sehat setelah program diet 3 Skinny Minnies,” jelas Tana.
Foto: dok.Heat&Eat
Heat & Eat
Lewat riset yang dilakukan PT Pangansari Utama Food Industry (PUFI) mengenai makanan kesukaan warga Jakarta selama dua tahun terakhir, sebanyak 49% orang lebih menyukai masakan tradisional, dan 34% menyukai makanan rumahan. Hasil riset lain oleh World Panel Indonesia adalah adanya kecenderungan untuk memilih makanan beku yang meningkat 63% di kota besar.
Sayangnya, makanan beku yang tersedia di pasaran kebanyakan adalah masakan Barat atau camilan yang biasanya tinggal digoreng saja. PUFI yang sudah merajai bisnis katering Nusantara sejak 40 tahun lalu membuat Heat and Eat, versi beku dari 10 masakan Nusantara favorit. Dengan rata-rata waktu memasak selama ± 90 menit di dapur yang didapat dari hasil riset PUFI, Heat and Eat siap memangkas waktu ini.
Produk menyebar di supermarket besar di Jabodetabek, dengan variasi seperti rendang, ayam bakar bumbu Bali, semur daging, dan tongseng kambing. Semuanya dikemas dalam ukuran 250 gram dan 500 gram. Sesuaikan saja dengan jumlah anggota keluarga.
“Proses pendinginan ketika masakan matang menggunakan teknologi blast freezer, kemudian segera dikemas dengan mesin vacuum pack dan segera dibekukan. Produk tanpa pengawet ini dapat dibekukan hingga 1 tahun (-18o C),” jelas Nicolas Durupt, General Marketing Heat & Eat.