Charles dan Helianti Hilman. (Dok. Femina)
Karena kondisi tanah area real estate merupakan tanah urukan, digunakan drum yang dibungkus alang-alang sebagai ‘rumah’ oven, bukan di dalam tanah. Batu kali yang digunakan bentuknya kecil-kecil dan seragam, hasil belanjaan Chato di toko tanaman. Di hutan, ukuran batunya besar, bervariasi, sehingga pemindahan batu panas ke dalam oven bisa dilakukan lebih cepat. Detail lainnya dalam proses tradisi masak batu dibuat semirip mungkin.
“Seru, nih! Mau makan enak harus keringetan dulu, ha... ha... ha...!” ujar salah satu peserta, tergelak. Ia mengunjungi acara yang dijual ke publik seharga Rp600.000 ini karena ingin merasakan experience yang masih dijalankan di timur Indonesia itu. Peserta lainnya, Reyza Ramadhan, staf FAO sekaligus co-founder komunitas Masak Akhir Pekan, bergabung karena ingin menambah pengetahuannya pada tradisi dapur Indonesia.
Peserta membakar ikan bumbu woku, daging ayam, dan daging sapi berbalur garam nipah. Garam nipah diproses dari pemisahan kadar garam yang terkandung dalam pelepah nipah tua yang terabsorbsi selama nipah tersebut hidup. Garam yang turut diproduksi oleh Seniman Pangan dan JPCC untuk konsumsi rumah tangga modern ini sempat menang penghargaan di Paris.
Menata daging di atas potongan singkong. (Dok. Femina)
Permukaan 'pizza' kembali ditutupi daun pisang, diikuti batu panas. Mirip teknik membuat pepes. “Kami juga biasanya memakai daging saham (kanguru) dan rusa,” ujar Mumu, anggota PJCC.
Untuk mempertahankan panas, oven ditutup tiga lembar karung goni. Di pedalaman, suku Marind biasanya menggunakan kulit kayu putih untuk menutupi bahan selama proses pembakaran, dengan bonus aroma kayu putih yang meresap. "Bagi orang Papua, hutan adalah tempat berbelanja tanpa perlu mengeluarkan uang," sambung Chato.
Chato menutup 'pizza' sebelum dibakar. (Dok. Femina)
Helianti turut berbagi cerita dari pengalamannya berdekatan dengan budaya setempat. "Pertanyaan yang paling banyak saya dengar dari orang Jakarta yang datang ke pedalaman adalah bagaimana caranya warga setempat tahu bahan mana yang mengandung racun dan tidak, he.. he.. he..," ujarnya.
'Pizza' Papua.(Dok. Femina)
Warna daun pisang yang semula hijau kini menguning, memerangkap cairan bumbu. Salah satu peserta, food stylist ternama, Puji Purnama, diajak maju ke depan dan menjadi orang pertama yang membuka 'oven'. Terpukau, Puji buru-buru mengambil smartphone dan keasyikan mendokumentasi.
"Ayoo, mas, bantu dibuka, ha.. ha.. haa!" ujar Mumu, tertawa lebar.
Chato dan timnya memang membanggakan. Sejak kehadiran PJCC, warga luar yang mau masuk hutan Papua bisa memakai jasa dimasakkan makanan segar selama ekspedisi. Dulu, turis dan periset hanya dihadapkan dengan pilihan membawa makanan kalengan.
“Kata Zazie, hutan kami surga karena memberinya lebih dari apa yang dia dapatkan di kota. Tentu, kalau Anda masuk hutan, Anda harus menjadi layaknya orang Papua. Yang mereka beri adalah yang terbaik. Hilangkan perasaan jijik. Percayalan, kita akan pulang dengan sesuatu yang baru,” ujar Chato, meyakinkan.
PJCC beranggota sekitar 200 orang. Menurut Helianti, dari segi profesi, Chato dan pemasak-pemasak dengan kemampuan hebat beradaptasi dengan ketersediaan alam tersebut juga adalah chef, hanya saja tidak bekerja di restoran. Cerita-cerita mulia inilah yang diinginkan Helianti untuk menyebar ke orang Jakarta dan sekitarnya. Tekadnya, mengoneksikannya antarpulau agar Indonesia kian terasa dekat.
Prihatin dengan kasus kelaparan di suku Asmat, ia ingin membantu memecahkannya dengan mengembalikan fungsi hutan dan mendata tanaman endemik. Bagaimana kelaparan bisa terjadi di hutan sagu, membakar semangatnya dalam mengampanyekan kedaulatan pangan lokal. Bagi Chato, berinteraksi dengan orang-orang seperti Helianti adalah investasi persahabatan, di mana kedua pihak saling mengisi dan berbagi. (f)
Baca juga:
Tauco Cap Meong, Saus 100 Hari yang Lestari
Berburu Ikan Asap di Ambon
Trifitria Nuragustina
Topic
#indonesianfood, #papuafood, #papua, #charlestoto, #resepmasakan, #pizza