Foto-foto : Dok. Pribadi
“Ini disebut dengan konformitas sosial. Mereka mengikuti apa yang sedang menjadi tren karena tidak ingin berbeda dari orang lain. Karena biasanya, ketika kita dianggap ‘berbeda’ dari orang lain, kita akan dianggap tidak gaul atau dikucilkan,” tutur psikolog Ermanda Saskia Siregar, yang akrab dipanggil Manda.
Berikut pengakuan tiga sahabat Femina saat mereka mencoba sebuah resto atau makanan:
Daniel Marpaung, Mahasiswa S-2 International Hospitality, International Management Institute, Swiss
Mencoba makanan bisa dibilang hobi saya. Saya suka mencoba makanan yang unik, baik dalam hal rasa, penampilan, bahkan cerita latar belakang dari masakan tersebut. Tapi rasa tetap menjadi alasan yang utama untuk saya mencoba makanan baru.
Tampilan makanan dalam foto tidak begitu berpengaruh besar untuk saya. Terkadang, tren menjadi hal yang mendorong saya untuk mencoba makanan atau restoran baru. Tapi, rasa yang enak mempunyai pengaruh besar pada ketertarikan saya terhadap makanan. Bagi saya, makanan yang enak adalah makanan yang rasanya tidak berlebihan.
Ada balance dalam palet lidah. Dessert misalnya, manisnya harus pas. Atau hidangan gurih, yang tidak didominasi oleh satu rasa saja, misal pedas atau asin. Untuk mencari referensi makanan enak, terkadang saya menggunakan media sosial. Tapi, saya lebih percaya pada rekomendasi orang dari mulut ke mulut.
Misalnya, saat berkunjung ke suatu kota atau daerah yang belum saya kunjungi sebelumnya, saya biasanya menanyakan langsung kepada orang sekitar tentang tempat makan yang enak. Di era media sosial seperti saat ini, penampilan makanan sekadar untuk kebutuhan ‘pamer’. Namun, makanan bukan pajangan. Jika hanya tampilan cantik, tapi rasanya biasa saja, jarang ada yang mau kembali.
Topic
#foodreview