Show dibuka dengan setelan jas dengan celana kargo yang lebih mirip skort spekta dengan volume berlapis-lapis. Padu padan ini adalah reinterpretasi Jonathan Anderson pada siluet dari arsip karya klasik Christian Dior, jaket "Bar" (1947) dan gaun malam "Delft" (Autumn/Winter 1948).
Reinterpretasi Jonathan melalui siluet celana kargo di koleksi ini sungguh menarik dan imajinatif; dengan berbagai panjang dan volume, menghasilkan perspektif berbeda dari padu padan busana pria.
Selain Delft, siluet busana wanita karya Monsieur Dior lainnya, yaitu "La Cigale" dan "Caprie," juga dieksplorasi Jonathan Anderson untuk koleksi ini.
Koleksi lainnya menghadirkan padu padan yang genderfluid, didominasi vibes romantik versi modern anak skena dalam serial Bridgerton atau karya Jane Austen (era Regency di Inggris abad ke-18 dan ke-19).
Cravat, syal pendek yang dibentuk pita atau dasi, salah satu aksesori andalan pria di era Regency, menghiasi beberapa total look, selang-seling muncul dengan dasi ramping modern. Begitu pula dengan rompi atau vest pas badan maupun longgar, yang bisa berdiri sendiri sebagai luaran kemeja atau sweter, dan cocok untuk padanan cravat.
Karya seni di era Regency memang menginspirasi koleksi debut Jonathan Anderson ini; dari ilustrasi dalam kumpulan puisi penulis Prancis, Charles Baudelaire, bertajuk Les Fleurs du mal (The Flower of Evil), hingga novel ikonik Dracula karya Bram Stoker, yang tampil membungkus tas Dior Book Tote.
Estetika fashion dan gaya hidup Marie Antoinette juga sedikit-banyak ikut mempengaruhi imajinasi Jonathan Anderson dalam merangkum koleksi Dior Men's Summer 2026.
Meski koleksi debut ini mendapat sambutan positif (gabungan imajinasi sang direktur kreatif baru dan elegansi arsip tampil selaras), Jonathan Anderson tak bisa berlama-lama terbuai pujian; debut untuk Dior Spring/Summer 2026 sudah menanti, Oktober mendatang!
Zornia Harisantoso