Foto: Yani Lauwoie
“Masalahnya di Indonesia, kita tidak tahu perbedaan antara kritik, mencerca, atau menghina. Jadi itu semua sama saja. Mengkritik boleh, kok. Tapi caranya itu yang harus dihaluskan. Tapi ada juga yang menggunakan alasan kritik untuk mencerca dan menghina. Jadi kesannya sudah personal. Nggak ada urusannya dengan kerjaan. Ini yang saya sesali,” curhat Anggun ketika femina menemuinya di acara peluncuran patung lilinnya di Madame Tussauds Bangkok, Thailand.
Anggun pun berharap pemerintah lebih serius menanggapi kasus-kasus bullying. “ Di banyak negara di Eropa kasus bullying adalah sesuatu yang ditanggapi dengan cara serius karena sudah banyak anak remaja yang jadi korban bully baik di sekolah maupun di media sosial, yang sampai akhirnya membuat mereka bunuh diri. Itu kan, kasihan sekali. Sudah saatnya di Indonesia pun serius memikirkan hal ini,” tambah wanita yang mendukung bila pemerintah Indonesia memperbolehkan dwikewarganegaraan ini.
Lalu bagaimana Anggun melihat para pem-bully ini? “Pem-bully itu kan, orang-orang yang mengikuti kita tapi bukan orang yang kita tuju. Kalau diibaratkan mengemudi, kita melihat kaca spion untuk sekadar tahu di belakang kita ada apa. Tapi jangan dilihatin terus, nanti kita tabrakan. Mungkin sebenarnya para pem-bully itu memiliki cinta kepada kita namun cinta yang tersesat,” tutur Ibu dari Kirana Cipta Sasmi ini sambil tertawa. (f)
Topic
#mentalmerdeka