Celebrity
Rencana Besar Gita Gutawa

27 Mar 2016


Mengambil musik anak sebagai topik bahasan disertasi, di usia 22 tahun Gita Gutawa berhasil meraih gelar master dari London School of Economic (LSE), salah satu sekolah tinggi ekonomi prestisius di dunia. Kini ia kembali ke tanah air dengan ‘amunisi’ ilmu untuk melepaslandaskan rencana besarnya.
 
Ada semburat kedewasaan di wajah belia Gita Gutawa. Kesan ini jelas tergurat  saat femina menyapa dan menjabat tangan mantan penyanyi remaja itu. Terlebih, ketika ia mulai menggulirkan ide-ide besarnya di dunia kreatif yang sebagian bahkan telah berjalan dan membuahkan hasil.

Tak hanya asal mengambil jurusan kuliah, Gita cukup fokus dalam mempersiapkan anak tangga menuju impian idealisnya yang nasionalis. Usai meraih gelar sarjana ekonomi dari Universitas Birmingham, ia langsung melanjutkan pendidikan master di LSE. Kali ini, ia hendak mengonsolidasikan dunia seni musik yang ditekuninya dengan ilmu ekonomi yang dipelajarinya.

Passion saya di industri kreatif. Jadi, kenapa tidak digabungkan saja antara ekonomi dan industri kreatif,” ujarnya. Mengambil jurusan Culture & Society, ia memutuskan memilih musik anak sebagai tema disertasinya. Idenya ini dianggap menarik, karena krisis lagu anak yang diserukan oleh banyak kalangan di Indonesia, tidak terjadi di Eropa atau Amerika.

Advertisement
Menurutnya, kondisi di Indonesia cukup unik. Keberadaan sosok berlatar belakang pengajar, seperti AT Mahmud, dan Ibu Sud yang aktif menulis lagu-lagu anak di eranya, ikut membangun persepsi orang tentang lagu anak yang dikaitkan dengan edukasi anak. Sementara itu, ia mengamati bahwa selera bermusik anak-anak sekarang bersumber pada referensi yang cukup beragam. Teknologi dan media menjadi arus besar yang membawa gelombang perubahan di dunia musik anak-anak di era sekarang.

“Standar musik anak Indonesia sudah memasuki standar yang tinggi. Anak 10 tahun sudah bernyanyi jazz sambil memainkan improvisasi piano. Anak 9 tahun, penyanyi favoritnya Sarah Brightman dan Catherine Jenkins (dua penyanyi legendaris jazz – red), dan sudah membawakan repertoire lagu-lagu klasik yang susah-susah,” papar Gita berapi-api, tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya.

Temuan-temuan ini pula yang mendorong terwujudnya Di Atas Rata-Rata, sebuah proyek idealis yang digarapnya berdua dengan sang ayah, Erwin Gutawa. Ia mengumpulkan dan mengaudisi anak-anak dengan bakat seni musik luar biasa. “Ini adalah tugas kami berdua untuk menggelar karpet merah bagi mereka masuk ke industri musik. Kasihan jika bakat mereka tidak tersorot dan tidak mendapat perhatian,” lanjutnya.

Layaknya proyek idealis, ia mengaku masih banyak dihadapkan pada tantangan pendanaan. Tapi, ia enggan menyerah. Melalui program ini, selain melakukan mentoring, ia dan sang ayah akan membantu menyuarakan vokal emas anak-anak Indonesia ini melalui  pergelaran konser dan pembuatan album. Proyek idealisnya ini bahkan telah menghasilkan dua generasi!  “Album generasi kedua Di Atas Rata-Rata sudah dirilis September 2015. April nanti, kami akan bersiap untuk menggelar konsernya,” ungkap Gita, antusias.

Masih banyak proyek  idealis lain yang telah berputar-putar di kepalanya. Ia merasa sangat terinspirasi dengan Inggris, pelopor yang menjadikan industri kreatif sebagai salah satu mesin penggerak ekonomi. “Saya berharap, dengan segala inspirasi dan bekal ilmu yang saya bawa, saya bisa berkontribusi membangun ekonomi kreatif di Indonesia,” ujarnya, mantap. (f) 
 


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?