Celebrity
Nyle DiMarco Mendobrak Barrier

13 Jan 2016

Besar di tengah keluarga yang semuanya tunarungu dan berinteraksi dengan teman-teman yang juga senasib, hidup Nyle DiMarco bisa dibilang ‘mudah’. Beruntung, ia tak pernah  mengalami bullying di sekolah sebagaimana yang biasa diterima anak-anak berkebutuhan khusus yang sekolah di sekolah normal.

Namun, dalam ‘dunia’ kecilnya yang sunyi itu, Nyle merasa ingin melangkah keluar untuk mencicipi kehidupan penuh warna di luar komunitasnya selama ini. Ia tak ingin terlena dalam zona nyaman. Hasrat hatinya tak bisa terbendung ketika ia terus menginginkan bisa menjadi ‘seseorang’, baik di panggung catwalk maupun layar lebar.

Tahun 2014, ia memutuskan untuk melangkah keluar. Sadar memiliki keelokan fisik, Nyle mulai mendatangi satu agensi model ke agensi model lainnya untuk menawarkan portfolio dirinya. Namun, tak mudah baginya untuk mendapatkan pekerjaan modeling.
Ketidakmampuannya berkomunikasi akibat tak pernah mendengar suara menyulitkannya untuk bisa berbicara dan berhubungan dengan orang lain. Bukan hanya sekali ia menerima penolakan. Namun, setelah beberapa kali gagal, ia akhirnya berhasil lulus audisi dan mantap melangkahkan kaki menjadi model freelance.
   
Ia memang tak pernah merasa minder atau mengecilkan kemampuan diri sendiri. Namun, tak urung diakuinya ada terselip rasa kecewa ketika banyak orang tak meliriknya dan bahkan menyepelekannya karena ia tuli. Meski begitu, di tengah rasa sakit dan kecewa, Nyle tak pernah menyesali keadaannya. Ia justru  makin memacu diri menggapai mimpinya di tengah keterbatasannya.
   
Titik cerah penuh harapan menghampirinya saat Nyle berhasil membintangi peran utama dalam sebuah film independen produksi American Sign Language (ASL), In The Can Alone Again, dan Switched at Birth di jaringan televisi ABC Family  tahun 2014. Membintangi peran tunarungu, Nyle mengkritik pedas industri perfilman Hollywood. “Peran aktor tunarungu seharusnya diberikan pada penyandang tunarungu juga,” katanya tegas. Selama ini, mereka yang tunarungu menjadi warga negara kedua. Tak pernah diberi kesempatan yang sama, meski mereka sebetulnya punya kemampuan.
    
Tekanan sosial  makin dirasakannya ketika begitu ia lulus kuliah dan harus berbaur dengan masyarakat luas. Maklum saja, selama ini Nyle ‘dimanjakan’ selalu hidup di tengah komunitas tunarungu yang membuatnya selalu berada dalam zona nyaman. ‘Bahasa ibu’ Nyle adalah ASL, sementara tak banyak orang normal yang menguasainya. Kenyataan ini membuat komunitas tunarungu  makin terisolasi dan hidup berjarak dengan mereka yang normal.
Advertisement
   
Nyle kemudian bertekad mendobrak hambatan bahasa tersebut dengan memprakarsai proyek pembuatan aplikasi ASL sejak Mei 2015 untuk disebarkan pada mereka yang tunarungu maupun normal. Ia ingin  makin banyak orang normal yang juga bisa menguasai ASL untuk bisa berkomunikasi dengan tunarungu.

Oktober lalu, Nyle juga terpilih menjadi honorary spokesman for Language Equality and Acquisition for Deaf Kids (LEAD-¬K) karena passion-nya terhadap bahasa isyarat. Kontribusinya dalam kampanye anti-bullying dan sebagai advokat di kalangan komunitas tunarungu juga dipandang berperan penting bagi masyarakat.
   
Penguasaan akan gesture dan mimik bahasa isyarat justru dirasa Nyle menjadi kekuatannya di bidang modeling. “Ketika di depan kamera, saya bisa terlihat lebih ‘berbicara’ karena penjiwaan akan bahasa ASL yang banyak menggunakan ekspresi wajah dan body language telah merasuk ke dalam diri saya,” ungkapnya.  
   
Setelah menyandang gelar juara ANTM, Nyle ingin terus mewujudkan mimpinya. “Saya berharap bisa bekerja sama dengan perusahaan besar, apakah itu di bidang modelling brand atau bisa juga akting, mungkin membintangi TV shows atau film layar lebar. Saya benar-benar ingin mendobrak hambatan tersebut,” tuturnya, penuh harap. (f)


Foto: DOK FACEBOOK/AMERICA'S NEXT TOP MODEL





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?