Foto: Agus Santoso Yang (IG: @AGUSSANTOSOYANG)
Luka Itu Biasa
Awalnya, Julie sempat ragu ketika ditawari mengikuti casting film The Raid 2: Berandal. Namun karena ia merasa tertantang, maka ia pun berlatih martial art dan menjalani seleksi pemain film garapan Gareth Evans tersebut. Berbekal kemampuan bela diri yang seumur jagung, ternyata Julie mendapatkan peran Hammer Girl dan dibimbing oleh koreografer Yayan Ruhian.
Selanjutnya, Julie mengasah kemampuan bela dirinya untuk film Headshot, yang berkisah tentang pria misterius yang mengalami amnesia setelah koma selama dua bulan lamanya. Dalam Headshot Julie berperan sebagai Rika, salah satu anggota dari kelompok penjahat, Julie harus beradu peran dengan Iko Uwais dan Chelsea Islan. Film garapan Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel atau yang biasa disebut dengan Mo Brothers ini sempat ditayangkan di Toronto Film Festival (TIFF) 2016.
Penggemar yoga ini mengaku tidak memiliki latar belakang bela diri. Supaya dapat mengikuti koreografi yang diajarkan, Julie harus berusaha ekstra agar hasilnya memuaskan. Ia bisa berlatih dari pagi hingga sore untuk menghafalkan koreografi. “Main film action itu seru dan menguji ketepatan serta kecepatan. Saya merasa tertantang belajar lebih banyak,” ujar Julie. Kini, Julie tengah menjalani proses pengambilan gambar dengan sutradara Timo Tjahjanto untuk film laga ketiganya yang berjudul The Night Comes For Us atau yang biasa disingkat TNFCU. Saat ini, Julie tak mau bercerita banyak tentang perannya, “Pokoknya sebagai agen bayaran,” Julie tersenyum simpul.
Bermain peran bersama Joe Taslim, Iko Uwais, Abimana Aryasatya, dan Zack Lee dalam film-filmnya menjadi pengalaman baru yang mengasyikkan. Termasuk fighting scene bersama Dian Sastrowardoyo dan Hannah Al Rashid. Supaya penampilannya optimal, Julie rajin menjalani latihan fisik dan menjaga asupan makanan untuk membentuk tubuh.
“Untuk film TNCFU ini saja saya mulai berlatih sejak November tahun lalu, dari pemanasan dan teknik dasar seperti tendangan serta pukulan, baru masuk koreografi,” ucap anak kedua dari tiga bersaudara ini. Karena dituntut selalu fit, Julie pun menyewa jasa personal trainer untuk pembentukan otot dan berkonsultasi soal asupan makanan. “Saya menjaga pola makan dengan tidak mengonsumsi gula dan garam. Setiap pagi sarapan dua butir telur bagian putihnya dan di sela olahraga minum protein shake,” jelasnya.
Bagi Julie, yang paling susah dari film laga adalah mengikuti koreografi tetapi juga harus membangun chemistry dengan lawan main. Namun, sebagai orang yang mengaku perfeksionis, ia merasa harus melakukan adegan demi adegan tanpa pemeran pengganti. “Puas rasanya ketika saya berhasil melakukan sebuah koreografi dengan baik. Tidak boleh ada rasa sungkan dan kuncinya harus saling percaya agar adegan berkelahi bisa terlihat senatural mungkin,” ucapnya.
Salah satu adegan yang membuat jantungnya berbebar-debar adalah saat harus berkelahi dengan Joe Taslim untuk TNCFU. “Waktu itu dari sutradara sampai kru semua menanyakan apakah saya yakin tidak memerlukan stuntman, karena memang harus full speed dan full power. Tapi karena saya menyukai tantangan adrenalin tersebut, saya kekeuh menjalankannya sendiri,” akunya sambil tertawa. Saat saya berhasil melakukannya, mereka pun mengacungkan jempol.
Bicara soal bela diri, sudah pasti akan berkaitan dengan luka. Julie mengaku bahwa luka dan memar di tubuh sudah menjadi teman akrabnya selama tiga tahun ini bermain film action. “Terluka sudah pasti, karena ada full body contact, badan saya juga dibanting-banting di beberapa adegan dan pengambilan gambarnya diulang beberapa kali. Kalau sekadar memar atau terkena pukulan sih sudah biasa,” ujarnya.
Luka paling parah yang pernah ia dapat adalah ketika harus mengenakan sepatu boots untuk film The Raid 2: Berandal. “Jempol kaki kiri saya sampai terlepas karena terkena benturan sepatu berkali-kali. Waktu sepatu dibuka, jempol kaki sudah berlumuran darah. Jadi setahun lalu, ibu jari kaki saya tidak memiliki kuku,” kenangnya sambil mengusap kening.
Belajar Menerima Kehilangan
Beralihnya Julie dari film drama ke film laga tidak terlalu membuat keluarga Julie khawatir. Ayahnya Thierry Gasnier (60) adalah pemegang sabuk hitam Tae Kwon Do dan ibunya Hilda Limbara (66) cukup aktif berolahraga. Keluarga Julie cukup percaya dengan tim profesional yang menanganinya.
“Setiap film saya pasti mengutamakan keamanan dengan latihan menjatuhkan tubuh yang aman dan cara menghadapi pukulan agar tidak cedera. Jadi keluarga pun tidak pernah mempermasalahkan, karena tidak asal gedebak-gedebuk juga. Keluarga juga paham saya orang yang aktif dan suka olahraga, jadi tidak khawatir,” terang pemeran Larasati di Surat Dari Praha ini.
Sang kakak, Cathy Sharon (34) mungkin adalah anggota keluarga yang peling setia mendukungnya. “Cathy bukan sekadar kakak saya, dia juga sahabat saya. Ketika ada masalah, kami selalu sharing dan menjadi orang yang pertama tahu permasalahan masing-masing,” ujar wanita kelahiran 4 Januari 1989 ini.
Kedekatan mereka pun mendorong Julie, Cathie, dan adik Julie, Charlotte, membangun bisnis camilan sehat berbahan dasar kale, bernama Kale Tale. Beberapa produknya berbentuk keripik, smoothies dan kue bebas gluten. Ia dan Cathy bertanggungjawab atas segala urusan promosi dan pemasaran, sedangkan adiknya mengelola dari segi manajerial.
Bisnis ini diakuinya sebagai pemersatu antara ia dan kedua saudaranya di tengah kesibukan masing-masing. Ke depannya, berbekal latar belakang ayah yang bekerja di bidang perhotelan ia sedang mempersiapkan membangun bisnis keluarga lainnya, yaitu penginapan berkonsep cottage.
Bagi Julie, keluarga adalah segala-galanya. Karenanya ketika kakeknya di Prancis meninggal dunia, Januari lalu, ia merasakan kehilangan yang amat besar. Sejak kecil, Julie sangat dekat dengan almarhum Michel yang meninggal di usia 87 tersebut. Pria yang ia panggil ‘Opa’ itu adalah teman mainnya saat kecil. Sayangnya, karena sedang menjalani proses syuting film TNCFU, ia menjadi anggota keluarga yang sampai paling akhir di Prancis, tepatnya dua hari sebelum kepergian opanya. “Ini baru pertama kali saya kehilangan orang terdekat, dan ketika opa menghembuskan nafas terakhir saya sedang pergi membeli sesuatu di supermarket,” ucap wanita berdarah Manado, Tionghoa dan Perancis ini sambil menunduk.
Momen menyedihkan ini ternyata membawa hikmah dalam kehidupan Julie. “Saya jadi tersadar bahwa hidup itu benar-benar singkat. Saya jadi termotivasi untuk tidak menunda-nunda sesuatu. Kepergian Opa juga membuat saya berpikir untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga,” jelasnya. Sekitar awal Maret lalu, ia pun mengatur perjalanan keluarga ke Sumba, NTT. Di akun instagramnya @julstelle, ia terlihat mengunggah beberapa foto sedang bermain di pantai bersama sang ayah.
Namun, karena pekerjaan, ia harus rela tinggal di kota yang berbeda dengan dengan keluarganya. Julie pun merasa homesick. Untuk menyembuhkan homesicknya, Ibunya yang sesekali datang ke Jakarta senang membuatkannya masakan Manado. “Ibu sering membuatkan bubur dan sup jagung Manado. Itu masakan ibu yang paling saya rindukan,” terang wanita yang mulai dikenal setelah bermain dil film Alexandria (2005). (f)
Baca juga:
Investasi Cermat ala Cathy Sharon dan Julie Estelle
Julie Estelle - Menjadi Petarung
Morgan Oey: Antara Melbourne dan Julie Estelle
Topic
#JulieEstelle