Foto: Dok. Femina
“Walau Soelastri dan Kartini adalah dua karakter yang bertolak belakang, yang satu sangat anggun sementara yang satu sangat ‘nakal’, namun saya merasa Soelastri adalah wanita hebat. Di balik kenyataan pahit ia diduakan dalam pernikahannya, Soelastri berani untuk melawan dan mendukung Kartini agar memberikan pendidikan bagi wanita-wanita agar tidak merasakan efek kesalahan yang sama seperti dirinya,” tutur Asti.
Asti berharap tidak ada lagi wanita yang harus menghadapi masalah-masalah seperti Kartini dan Soelastri, dan wanita modern bisa lebih bebas memutuskan jalan hidupnya kini. “Semoga perjuangan Kartini seratus tahun lalu tidak sia-sia sekarang,” tambah Asti.
Ini adalah pertama kalinya Asti bermain dalam sebuah film biopik sejarah. Agar tak sembarangan dalam memerankan sebuah tokoh nyata dan merasakan atmosfer kehidupan di masa lampau, banyak hal yang dipersiapkan Asti demi peran Soelastri. Salah satunya, mengasah kemampuan berbahasa Jawa.
“Sebenarnya saya ada keturunan Yogyakarta dan Solo, tapi tidak fasih berbahasa Jawa. Jadi agar lebih njawani, saya belajar bahasa Jawa kuno dari menonton wayang orang,” ia bercerita dengan antusias.
Berperan sebagai Soelastri yang merupakan wanita bangsawan, Asti harus mengenakan kain jarik yang diikat ketat. “Jadilah setiap hari saya pakai kain jarik. Baru, deh, tahu beda dan sulitnya harus berjalan anggun dengan mengenakan jarik,” paparnya.
Untungnya, Asti memang sangat tertarik dengan kain-kain tradisional seperti batik tulis. Di momen proses syuting inilah Asti belajar hal baru tentang kain-kain jarik. Mulai dari bagaimana cara melilit kain jarik yang benar , hingga ragam corak kain batik seabad lalu. “Bahkan, setiap hari di rumah, si Asti ajak ngobrol kain jariknya. ‘Hai kain. Kamu apa kabar?’ Ha ha ha… ” ledek Dian Sastro melihat tingkah konyol temannya demi total mendalami peran. (f)
Baca juga:
Trik Adinia Wirasti Atur Ritme Kerja
Topic
#AdiniaWirasti, #Kartini