Blog
7 Pelajaran dari Sebuah Pelecehan Seksual Yang Saya Alami Saat Solo Traveling

25 Jul 2016


Foto: Stocksnap.io

Pertengahan Juni lalu, saat sedang melancong sendiri, saya mengalami pelecehan seksual di Lund, Swedia. Ketika menginap di apartemen studio yang disewakan lewat Airbnb, host saya, yang juga tinggal di apartemen tersebut, dan mengaku sebagai mahasiswa Pascasarjana asal Lebanon, mengajak saya tidur bersama, dengan alasan bahwa saya akan berbagi ranjang berukuran single dengannya. Padahal, hal itu sama sekali tak disebutkan dalam iklan properti yang disewakannya. 

Belakangan, kepada saya, si pelaku mengakui, “I cannot resist sweet girls,” dan itulah yang kembali dilontarkannya ketika saya bertanya apakah ia pernah melakukan ini dengan tamu wanitanya yang lain.

Perlu waktu bagi saya memulihkan diri dari shock. Di tengah upaya untuk itu, saya mendapatkan tujuh pelajaran berharga berikut ini.

Pelajaran pertama, terkait mekanisme pertahanan diri: Hindari kemungkinan beradu argumentasi dengan pelaku sebisa mungkin. Ada dua alasan untuk itu. Pertama, hanya lakukan konfrontasi dengan pelaku ketika Anda sudah siap kabur. Dalam kasus saya, hal itu bukanlah pilihan, karena hari sudah larut malam dan saya tak siap untuk pergi tanpa mengepak barang sebelumnya. Lagipula, saya tak tahu harus mengungsi ke mana.

Kedua, bila Anda tidak siap untuk kabur, Anda harus benar-benar cermat sebelum bertindak; berupayalah untuk memerkirakan bagaimana si pelaku akan bereaksi terhadap tindakan Anda, dan bagaimana Anda dapat menanganinya (atau apakah Anda bisa melakukannya atau tidak).

Pelajaran kedua: jangan abaikan tanda bahaya yang dinyalakan insting Anda.
Sambil berusaha tetap tenang dan meski sebetulnya tak nyaman, saya menyusun rencana. Saya pun berpura-pura sedang menelepon ‘pacar’, dengan mempertimbangkan kecenderungan pria untuk minggir dari wanita yang sudah menjadi milik pria lain, ternyata membuat niat si pelaku tampak kian jelas.

Forget your boyfriend,” katanya. Ia bahkan berusaha mencumbu saya, namun karena saya tengah bertopang dagu, ia hanya dapat mengecup punggung tangan saya. Toh, saya bersikukuh harus begadang dengan alasan ada tenggat yang harus dikejar. Hingga akhirnya ia tidur duluan, sementara saya memutuskan tetap terjaga sampai pagi.

Pagi harinya, kata-kata pertama si pelaku adalah “Sweetie, come to bed!,” jelas menunjukkan bahwa ia masih berusaha mencoba peruntungannya sebelum saya check out. Bila malam sebelumnya saya masih berusaha merasionalisasi bahwa ia mengajak saya tidur seranjang bukan berarti ia ingin berhubungan seks. Bahwa ia tak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh mengingat review dan rating yang bagus di profilnya, tidak demikian pagi itu. Saya lebih tegas mengatakan tidak, dan menghindar setiap kali ia berusaha mendekat.

Pelajaran ketiga: menjadi korban pelecehan seksual BUKANLAH salah Anda.
Saya hanya tidur tiga jam hari itu, tak lama setelah si pelaku meninggalkan apartemen. Setelah terbangun, perlahan-lahan saya berusaha memahami apa yang telah terjadi dan bagaimana perasaan saya setelah mengalaminya.

Saya mengenali rasa bingung, malu, dan gusar, bercampur menjadi sesuatu yang saya tak yakin harus ditelan atau dimuntahkan. Saat itulah, saya menyadari bahwa saya telah menjadi korban pelecehan seksual. Alih-alih memandang diri saya sebagai korban sejak awal, mengingat-ingat kejadian yang saya alami membuat saya merasakan dan memikirkan hal yang sama sebagaimana halnya setiap korban pelecehan seksual.

Pekerjaan dan bidang studi (Pascasarjana) saya membuat saya tak asing dengan topik budaya pemerkosaan (rape culture), namun hal ini ternyata menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk tidak terjebak dalam victim blaming dan menyalahkan diri sendiri. Saat itu saya mengira apa yang telah saya ketahui akan cukup untuk mempersiapkan diri, baik dalam hal pencegahan maupun juga cara menangani kejadian ini. Butuh berjam-jam untuk meyakinkan diri bahwa saya tidak perlu merasa bersalah atau malu.

“Kamu tidak pernah minta dilecehkan,” tegas saya pada diri sendiri. “Peristiwa ini bukan salahmu. Kamu tidak perlu malu atau takut. Semuanya sudah berlalu. Kamu sudah aman.”  Begitulah, saya berusaha meyakinkan diri sendiri.

Advertisement
Pelajaran keempat sekaligus menjadi pengingat bagi saya: pelecehan seksual dapat terjadi meski tanpa kekerasan fisik maupun penetrasi penis. Apa yang saya alami merupakan sebuah pelecehan seksual, karena si pelaku melakukan pendekatan secara seksual yang tidak saya inginkan.

Pelecehan seksual bukanlah soal seks, melainkan kekuasaan. Ketiadaan mutual consent atau persetujuan kedua belah pihak untuk melakukan aktivitas seksual menciptakan relasi kekuasaan yang tak setara, di mana si pelaku berusaha menempatkan korban dalam situasi tak berdaya.

Pelajaran kelima, dan ini adalah salah satu langkah terpenting Pascapelecehan seksual: laporkan kejadian tersebut dan pelakunya. Meski sempat ragu untuk mengungkapkan apa yang telah saya alami karena khawatir disalahkan, dipermalukan, atau bahkan dianggap berbohong, saya memilih untuk tidak bungkam.

Saat itu, saya memutuskan untuk tidak melapor ke polisi, karena saya sudah akan terbang pulang hari berikutnya. Pertimbangan lainnya, saya tak paham benar prosedur yang harus saya jalani bilamana memilih jalur hukum, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk itu. Namun, itu bukan berarti saya membiarkan si pelaku lolos begitu saja.

Saya menulis laporan untuk sebuah situs jasa penyedia layanan akomodasi dan review untuk si pelaku, berisi rincian kejadian sekaligus mengungkap nama asli si pelaku, yang ternyata menggunakan nama samaran di profil Airbnb-nya. Saat menghubungi saya untuk menindaklanjuti laporan, perwakilan Airbnb juga memberitahu bahwa mereka akan menghapus review saya dengan alasan privacy violation, karena saya memberikan informasi pribadi berupa nama lengkap si pelaku.

Di luar itu, pengalaman saya ditanggapi cukup baik oleh pihak situs, yang telah menghubungi saya lewat perwakilan dari dua tim yang berbeda. Situs tersebut telah menghapus profil si pelaku dari webnya, dan memberi saya kompensasi berupa voucher senilai 35 dolar AS dan pengembalian sejumlah uang. Dari sisi konsumen dan penyedia layanan akomodasi, urusan ini bisa saya katakan sudah selesai.

Sementara itu, meski review saya di profil si pelaku dihapus, saya sudah sempat mengambil screenshot-nya.

Dengan melapor, saya merasa tidak sendirian.

Pelajaran keenam: Mengungkapkan pengalaman menjadi korban pelecehan seksual punya risikonya sendiri, salah satunya adalah tanggapan orang lain, yang terkadang tidak perlu dipedulikan. Komentar pribadi yang terlontar tidak melulu untuk menunjukkan dukungan atau simpati; ada saja yang hanya ingin mendengarkan kata-katanya sendiri.

Beberapa yang saya dengar termasuk “Kalau saya jadi kamu, saya sih bakal…” (Anda yakin mau berada di posisi saya supaya bisa mempraktikkan sendiri kata-kata Anda?), “Kamu masih beruntung, kejadiannya tidak lebih parah…” (Pelecehan seksual bukan sesuatu yang bisa dibanding-bandingkan tingkat keparahannya demi memulihkan korban dari trauma), “Harusnya waktu itu kamu begini…” (Sayang sekali Anda tidak ada di tempat kejadian untuk memberitahu saya saat itu, ya!), “Waduh, serius nih?” (Ini mungkin cara lain untuk berkata, “Saya tidak menyangka itu terjadi sama kamu,” tapi buat apa saya bercanda soal ini?).

Komentar lain yang menunjukkan minimnya empati termasuk “Saya sih sudah pernah solo traveling, bla bla bla… untungnya selama ini sih belum pernah terjadi apa-apa!” (Anda tidak ingin suatu hari benar-benar terjadi apa-apa pada Anda, kan?), hingga victim blaming terang-terangan, seperti “Salah sendiri pilih host pria!”

Setelah mengalami pelecehan seksual, saya tidak membutuhkan semua komentar itu, yang tidak bakal berdampak apa pun pada kejadian yang sudah berlalu atau membantu meredakan shock saya Pascakejadian. Bentuk dukungan seperti, “Tidak apa-apa, kamu sudah melakukan apa yang kamu bisa,” “Kamu sudah aman sekarang, itu yang paling penting,” atau sebuah pelukan, akan jauh lebih berarti.

Pengalaman ini tidak membuat saya jera melancong sendirian, tapi kali berikutnya, saya punya ‘bekal’ tambahan, yang juga menjadi pelajaran ketujuh: Kita tak perlu menyalahkan diri sendiri bila terjadi sesuatu di luar kendali setelah berupaya berjaga-jaga, namun kita tetap harus selalu berhati-hati.
Bertemu dengan orang baru yang berbeda budaya bisa saja membuat keramahan kita disalahartikan, sehingga, lagi-lagi, kita perlu cermat membaca situasi. Saya pribadi tidak ingin memberi peluang untuk orang lain mengulang kata-kata si pelaku, “I thought you are open-minded,” ketika ia menerjemahkan sikap hangat dan bersahabat dari saya sebagai undangan untuk suatu aktivitas seksual.

Tambahan: Jangan ragu mencari bantuan. Pelecehan seksual bisa jadi lebih traumatis daripada yang bisa dibayangkan, maka jika Anda atau orang yang Anda kenal mengalaminya, tak perlu segan atau malu untuk mencari pendampingan, misalnya lewat support group atau konseling ke psikolog. (f)
 


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?