Foto: Fotosearch
Dengan mengendarai mobil, saya dan wanita cantik yang kini menjadi pacar saya itu, menembus kemacetan jalanan untuk menuju sebuah kafe di daerah
Jakarta Selatan. Tanpa tahu sebabnya, ternyata kafe yang kami tuju tutup. Rencana pun jadi kacau! Saya panik. Apalagi kami sudah sama-sama dandan keren.
Saya melihat di wajahnya ada kekecewaan. Dia yang awalnya ceria, mendadak menjadi pendiam. Perdebatan kecil pun tak dapat dihindari. Dia mempertanyakan apakah ada pilihan tempat lain. Saya yang memang tidak memiliki plan B, tentu ragu menjawabnya. Kami muter-muter untuk melihat beberapa kafe yang saya tahu, namun semuanya penuh. Tak ada tempat untuk kami berdua.
Berkali-kali saya memohon maaf kepadanya tentang kekeliruan yang terjadi. Walau sempat bete dengan sikap dia yang lebih banyak diam, saya tetap berusaha mengalah dan menguasai keadaan. Karena ini merupakan kencan pertama, tentu sangat tidak menyenangkan. Saya takut dia benar-benar marah dan tidak mau saya ajak kencan lagi.
Dalam keadaan perut kosong dan juga sedang berjuang memperbaiki keadaan, saya pun mengarahkan mobil ke sebuah restoran fast food 24 jam. Di situlah first date kami berlangsung. Sebuah tempat yang tidak tepat untuk first date menurut saya.
Dengan berbagai trik dan obrolon santai disertai dengan candaan, akhirnya dia luluh dan mulai menerima keadaan. Beruntung, walau first date itu berlangsung di luar rencana, dia tetap masih mau saya ajak untuk kencan lagi. Mungkin karena kami saling menyukai. Beberapa bulan kemudian, saya menyatakan cinta, dia pun menerimanya.
Kala itu masalahnya memang sepele, saya hanya berbekal informasi seadanya. Saya terlalu yakin bahwa tempat yang saya maksud memang ada, sehingga tidak membuat pilihan lain.
Atas kekeliruan itu, saya selalu mempersiapkan rencana dengan matang bila ingin kencan. Saya tidak lagi bergantung pada proses, tetapi harus ada tujuan dan arah ke mana kita akan pergi. Dan harus ada plan B, seandainya rencana awal gagal.
Saya biasanya memilih kafe yang memiliki tema, bukan sekadar kafe. Desainnya menarik dan tidak terlalu berisik. Akan lebih menarik lagi bila ada live music.
Bagi saya, first date itu sangat penting. Sebab, pada saat itulah saya melakukan pengenalan dan mempresentasikan siapa diri saya. Pada saat itu juga saya mempelajari dia secara diam-diam.
Saya akan mempelajari tentang bahasa tubuhnya, seperti cara dia menata poni dan rambut selama kencan, lirikan mata, dan gerakan bibirnya saat ngomong. Dari hal kecil itu, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa wanita yang saya ajak kencan cocok untuk dijadikan kekasih.
Saya juga akan mempelajari seberapa besar dia memberikan kesempatan kepada saya untuk berbicara. Dalam berbicara, kita harus seimbang. Jangan ada yang terlalu mendominasi, sehingga pertemuan tidak menjadi hambar.
Tidak mau paham pada situasi dan kondisi, pikiran tertutup dan terlalu mempertahankan pendapat adalah beberapa hal yang membuat saya ilfil pada wanita saat kencan. Saya juga paling tidak menyukai wanita yang berbicara kasar.
Pernah Angie menangkapi candaan saya dengan serius bahkan marah saat kami akan pergi kencan. Dia yang sedang menata alis di mobil, saya candain dengan bertanya, “Kalau saya rem mendadak dan alis kamu berantakan, apa yang kamu lakukan?” Dengan mata melotot, dia bilang, “Coba saja kalau berani!” Dalam hati saya berkata, “Ih, galak banget. Ha… ha… ha…! Untungnya, dia sudah jadi pacar saya. (f)
Ge Pamungkas
Stand Up Komedian