Foto: Dok. IFC
Auditorium bersejarah yang dibangun tahun 1865 itu akan menjadi lokasi rangkaian kegiatan Front Row Paris 2024, fashion showcase, ekshibisi, dan business matching, dengan target lebih ramai dikunjungi para pemangku kepentingan, buyer, media, dan influencer di Eropa.
Dengan demikian, bisa terbuka kerja sama atau transaksi bisnis jangka panjang, baik Business to Business (B2B) maupun Business to Consumer (B2C), antara desainer dan jenama Indonesia dengan buyer internasional, khususnya dari negara-negara Eropa. Sejumlah 50 buyer dari luxury department store ternama di Paris, Printemps Haussman, akan menghadiri acara ini dan berpotensi menjalin kerja sama bisnis.
"Event ini diharapkan bisa jadi window display Indonesia di Paris, yang menampilkan fashion Indonesia seutuhnya," ujar Ali Charisma, Advisory Board IFC, saat konferensi pers di akhir Agustus.
Keragaman gaya busana dengan sentuhan identitas Indonesia yang didesain sesuai tren global, termasuk menerapkan konsep fashion berkelanjutan, jadi kekuatan produk fashion Indonesia yang tampil di Front Row Paris.
Ada 10 desainer dan jenama fashion Indonesia yang berpartisipasi untuk mempresentasikan dan memasarkan produk mereka, yaitu Ali Charisma, Deden Siswanto, Lenny Agustin, Gregorius Vici x Lucent Skincare, Sofie, Testimo by SB x Jims Honey, dan A3 Studio, jenama asal Paris. Ada pula koleksi siswa sekolah mode.
Front Row Paris mendukung pendidikan mode di Indonesia agar bisa menciptakan lulusan yang kompeten dan siap bersaing di industri fashion, seperti Binus University dan BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata. Di bawah naungan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kemendikbud RI, BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata membawa koleksi peserta didik dari SMKN 8 Makassar, SMKN 6 Padang, dan SMKN 1 Kendal di Front Row Paris 2024.
"Ini adalah kesempatan emas bagi para siswa untuk upscaling, dan bisa disambungkan dengan industri fashion," kata Dr. Nahdiana, S.Pd., M.Pd, Plt. Kepala BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata
Menurut Lenny Agustin, National Chair IFC, Front Row Paris juga membuka mata desainer dan jenama peserta akan pasar internasional. "Mereka bisa belajar mengenal pasar, karena dari desain, taste dan kualitas yang dituntut juga berbeda. Dan ke depannya bukan hanya untuk di Paris tapi juga di negara-negara Eropa lainnya, serta di Asia Tenggara," kata Lenny.
Zornia Harisantoso