Dalam peringatan yang dilakukan di Taman Bunga Erista kali ini dipilih tema Tera Rasa Rice . Beras sembada hitam dan merah sukses menjadi daya tarik acara. Padi dengan ketinggian 1,5 m ini memerlukan usia tanam yang lebih panjang dari 4-5 bulan, sehingga tingkat produktivitasnya rendah. Tak heran, bibit unggul dari Sleman ini diutamakan sebagai konsumsi kalangan kerajaan.
Beras tersebut ditanam oleh kelompok tani Rukun Duwetsari Pakembinangun. Peneliti benih BPTP Provinsi DI Yogyakarta, Dr Ir Kristamtini, menyebut wilayah Desa Duwetsari Pakembinangun di lereng Gunung Merapi berlahan subur. Lokasinya di relungan sumber mata air yang dikelola dengan sistem pertanian yang bersinergi dengan alam. Pupuk dan pestisidanya alami.
Salah satu keistimewaannya, beras sembada hitam punya kandungan antosianin 939,93 ppm dan kandungan Fe (zat besi) adalah 150.26. Antosianin dan Fe memiliki manfaat seperti membantu meningkatan imunitas (anti aging, membersihkan kolesterol dalam darah, mencegah anemia). Indeks Glikemik-nya pun terbilang rendah, 19,04, sehingga baik bagi penderita diabetes melitus.
Dosen Fakultas Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, DR Ir Dwi Larasati Fibri, menilai kandungan gula total dan amilosa membuat kedua beras cocok disantap bersama hidangan lokal yang sedikit berkuah. Semua mencobanya di dalam lunch rancangan anggota Slow Food, Lilly T. Erwin. Ia pemilik guesthouse dan tempat kursus terkenal, Omah Garengpoeng.
Berputar diskusi seputar kelangkaan petani dan kesuburan lahan pertanian. Faktanya, eksploitasi alam dan lahan yang tak terencana memancing bencana alam dan terpinggirkannya lahan pertanian. Komunitas juga tak ingin beras endemik ini hilang tak berbekas ditempa waktu. (f)
Petualangan Rasa Lewat Utak-Atik Warna dan Aroma
Lapis Legit Cempedak Keluarga Sastrawinata
Trifitria Nuragustina
Topic
#slowfoodindonesia, #slowfood, #terramadre