Foto: Pixabay
Di tengah tantangan yang dihadapi para pelaku bisnis kuliner akibat pandemi COVID-19 dan pemberlakuan PSBB, pembatasan operasional restoran, cafe, dan rumah makan tentunya langsung memukul pendapatan pengusaha kuliner. Mereka tak lagi bisa mengandalkan tamu datang dan makan di lokasi, menyiapkan konsep take away food pun menjadi solusi terdekat.
Di sinilah istilah cloud kitchen kemudian muncul. Bagi pebisnis kuliner konsep cloud kitchen sangat tepat karena biaya operasionalnya rendah, dapat menjangkau lebih banyak pelanggan, pengelolaan operasional mudah serta peluang besar untuk melakukan ekspansi bisnis.
GrabKitchen yang resmi diluncurkan pada April 2019 memperkenalkan konsep cloud kitchen pertama di Indonesia. Menurut Hadi Surya, Head of Marketing GrabFood, Grab Indonesia bagi mitra GrabFood yang sebagian besar merupakan UMKM, GrabKitchen menawarkan peluang ekspansi ke wilayah-wilayah baru serta membuka kesempatan untuk menjangkau lebih banyak konsumen melalui pemanfaatan teknologi dan data.
Seperti dijelaskan oleh Hadi, konsep cloud kitchen dapat membantu menekan biaya operasional, karena sebagian besar dari kegiatan cloud kitchen merupakan layanan delivery-only sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan investasi besar untuk biaya sewa tempat. “Selain itu, para mitra usaha juga mendapatkan dukungan pemasaran dalam aplikasi GrabFood sebagai upaya untuk meminimalisir sejumlah kendala yang umumnya dihadapi para pengusaha makanan dan minuman ketika mereka berekspansi atau bahkan memulai bisnis mereka,” ungkap Hadi.
Baca Selanjutnya: Cerita para pelaku kuliner
Faunda Liswijayanti
Topic
#cloudkitchen, #bisniskuliner, #bisnis, #umkm, #kuliner