Celebrity
Yohana Yembise: Si Pintar dari Timur

20 May 2015

Mendidik satu wanita, sama halnya dengan mendidik satu generasi. Mendidik satu generasi berarti mempersiapkan masa depan satu bangsa. Pemikiran ini yang mendasari idealisme Prof. Dr. Yohana Susana Yembise, Dip. Apling, MA, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam menjalankan perannya, sejak ia masih berkarier sebagai pendidik di Universitas Cendrawasih Papua. Apalagi mengingat bahwa wanita dan anak-anak merupakan bagian terbesar, yaitu 80% dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa.

“Mereka menjadi aset penting bangsa yang memiliki kekuatan untuk mengangkat Indonesia agar tidak terus-menerus berada pada posisi under developing country. Menurut saya, pendidikan menjadi jalan terbaik untuk mengentaskan permasalahan wanita dan anak-anak,” tegas Guru Besar di bidang Perancangan Kurikulum dan Pengembangan Bahan Ajar ini.

Lahir dan besar di Papua membuat Yohana menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana budaya dan ketertinggalan pembangunan di tanah kelahirannya ikut menciptakan tembok-tembok tebal yang membatasi pola pikir warganya. “Tabrak saja temboknya. Cara ini yang saya pakai untuk bisa keluar dari segala keterbatasan,” ungkap wanita kelahiran Manokwari, 1 Oktober 1958, ini.

Tidak mudah saat seseorang harus berhadapan dengan sistem adat yang kuat. Seperti di Papua, yang menurutnya masih kental dengan sistem patriarkat yang mengutamakan pria. Mereka inilah yang akan mendapat ruang dan peluang untuk berusaha dan memperoleh pendidikan daripada wanita. Sesuai adat Indonesia Timur, apabila anak perempuan telah tumbuh payudaranya, maka mereka dianggap telah siap menikah. Orang bisa saja datang melamar ke orang tua anak gadis itu untuk dijadikan menantu atau istri. Yohana  tak luput dari sistem adat ini.

“Ketika lulus SMA, ada orang yang nekat datang menemui orang tua untuk melamar saya. Waktu itu, saya katakan kepada ayah saya bahwa saya belum mau menikah. Saya ingin melanjutkan kuliah,” ungkap Yohana, yang ketika itu masih berusia 17 tahun. Beruntung orang tua Yohana yang saat itu menjabat di pemerintahan daerah telah berpikiran terbuka dan memahami keinginan putrinya.
Advertisement

Bukan tanpa alasan jika orang tua Yohana mengiyakan keinginan putri pertamanya itu. Mereka melihat bukti kekukuhan niat Yohana. Putri mereka itu cukup aktif dalam menjalani aktivitas sekolahnya. Ia menjadi pengurus di organisasi siswa sekolah (OSIS), menjadi mayoret grup drum band, juara membaca puisi, aktif di paduan suara, juga menjadi pengurus di Badan Senat Mahasiswa Universitas Cendrawasih.

Wanita yang pernah menjadi mahasiswa teladan tahun 1980 ini mengaku rajin mengikuti berbagai kompetisi. Ini menjadi caranya untuk mengukur kemampuan dan memacu diri bahwa sebagai anak daerah, ia pun bisa berprestasi.

Namun, momen yang menjadi titik baliknya terjadi ketika ia terpilih menjadi salah satu peserta International Exchange Program (1977-1978) di Summerland, British Columbia, Kanada. Pengalaman berbaur budaya dengan dunia internasional benar-benar memberi pencerahan sekaligus fondasi berpikir yang baru baginya.

“Ternyata betul, kita memang harus keluar dari lingkaran untuk melihat dunia luar. Sebab, ada banyak hal di luar sana yang bisa kita pelajari. Pengalaman ini juga yang kemudian membuat saya terus ingin belajar,” ungkap Doctor of Philosophy (PhD) di bidang Bahasa dan Media dari Universitas Newcastle, Australia, ini. (f)



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?