Aku tak tahu, apakah tindakanku ini salah. Tapi, aku telah memikirkannya berulang-ulang di dalam kamarku yang kian terasa sempit. Aku adalah wanita yang sedang jatuh cinta. Tidak semua orang yang sedang jatuh cinta mendapatkan orang yang dicintainya. Sedangkan aku memiliki kesempatan untuk itu. Jadi, rasanya, walaupun seluruh dunia akan menyalahkan aku, aku tetap akan melakukannya. Aku akan menikah dengan Gunawan. Dengan demikian, aku akan bisa selalu bersamanya.
Aku tidak berani membicarakan rencanaku ini kepada Mama. Hanya kepada Jeanny aku menceritakannya. Tapi, entah kenapa, aku melihat ada kesedihan di wajahnya.
“Jika kamu sudah siap menjadi orang tanpa wajah, ya, lakukanlah...,” katanya, dengan berat hati.
“Apa maksudmu, Jean?”
“Kamu tahu tentang risiko pernikahanmu ini, bukan? Itu berarti, sebelum mereka bercerai, kamu hanya jadi istri simpanan Gunawan. Tidak ada yang tahu keberadaanmu sebagai istrinya. Kamu harus terus bersembunyi, termasuk bila nanti kamu memiliki anak darinya.”
“Tapi, Gunawan berjanji akan segera menceraikan istrinya, lalu kami akan menikah secara resmi.”
“Tidak ada yang bisa memastikan ucapannya. Dulu, aku juga pernah mengalami hal yang sama denganmu, tapi....”
Jeanny tertunduk sedih. Aku melihat matanya berkaca-kaca.
“Aku berdoa semoga kamu tidak bernasib sama,” kata Jeanny, sambil memeluk tubuhku.
“Jean, terima kasih. Aku akui, aku juga merasa gamang. Tapi, aku tak punya pilihan. Terima kasih kau mendoakanku. Kamu sungguh kakak yang baik.”
Jeanny mengangguk.
“Ya, San. Kamu wanita yang baik. Kamu berhak mendapatkan kehidupan yang baik, tidak seperti aku.”
Aku tak mengerti, apa maksud Jeanny dengan ucapannya itu.
“Dulu, aku juga hanya menikah secara siri dengan papanya Dito. Sama seperti Gunawan, papanya Dito juga berjanji akan menikahiku secara resmi, setelah bercerai dari istrinya. Tapi, ternyata, bertahun-tahun lamanya aku harus menjadi istri simpanan. Aku harus mengunci mulut rapat-rapat, termasuk pada anakku sendiri. Tak ada yang tahu bahwa dia adalah suamiku dan tak pernah ada kesempatan bagiku untuk menjadi istri sahnya. Tapi, aku sadar, aku memang bukan wanita yang pantas dinikahi. Dulu, aku hanyalah gadis muda yang dijual orang tuaku sendiri, demi membiayai hidup keluarga besar kami.”
Melihat Jeanny terisak, aku ikut menangis.
“Mengapa kamu ceritakan hal ini, Jean? Bila itu akan menyakiti hatimu, jangan ceritakan,” kataku.
Tapi, aku tak bisa menghentikan Jeanny bercerita tentang masa lalunya.
“Aku mengenal pria itu pada sebuah acara. Saat itu, dia mengaku sedang memiliki masalah dengan istrinya. Karena kasihan padaku, yang dijadikan sapi perah keluarga, dia lalu mengajakku menikah secara siri dan meninggalkan bisnis prostitusi yang kujalani. Aku begitu mencintainya, sehingga aku nekat melawan ibuku sendiri. Karena tindakanku itu, aku dikucilkan. Kini, tak ada satu pun keluargaku yang peduli padaku, kecuali seorang adik, yang sesekali mampir. Tapi, sudah beberapa bulan ini, dia tak pernah datang.”
“Lalu, bagaimana perlakuan suamimu?”
“Dia sangat baik dan sayang padaku. Dia yang membelikan rumah ini dan membuatkan deposito untukku. Setiap bulan, dia masih memberiku biaya hidup. Dia juga sering mengunjungi kami, bahkan sesekali menginap. Tapi, ketika Dito berumur dua tahun, dia berbaikan lagi dengan istrinya, sehingga akhirnya hubungan kami terputus. Kalaupun bertemu, itu tidak disengaja. Karena itu, Dito tidak mengenal papanya. Aku membohongi Dito. Kukatakan bahwa papanya telah meninggal.”
“Lalu, apakah benar dia sudah meninggal?”
“Ya, itu benar. Dia sekarang memang benar-benar sudah meninggal dunia. Bahkan, aku tidak tahu kapan dia sakit. Karena, aku memang dilarang menghubunginya. Bahkan, aku tidak diperkenankan memasang fotonya di rumah ini.”
Pantas, pikirku. Tak satu pun foto papa Dito kulihat di rumah ini.
“Suamiku itu sangat menjaga kerahasiaan hubungan kami, karena dia tidak ingin mengecewakan keluarganya, terutama putrinya yang sangat dia cintai. Aku cuma bisa pasrah, karena aku sangat mencintainya.”
Aku tertegun mendengar cerita Jeanny.
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan sewaktu tahu aku menjadi simpanan Wilman. Tapi, demi Tuhan, San, Dito bukan anak haram. Dia punya ayah.”
“Aku tahu,” kataku, mencoba menenangkannya.
Pandangan Jeanny menerawang.
“Aku tahu, pasti sulit baginya untuk meminta izin menikah pada istrinya. Padahal, aku sudah siap lahir-batin menjadi istri kedua. Karena, aku merasa status itu jauh lebih terhormat dibandingkan jadi wanita simpanan, seperti profesiku selama ini. Tapi, diriku ini memang kotor. Bahkan, untuk menjadi istri kedua pun, aku tak pantas.”
Lalu, tangis Jeanny meledak. Aku memeluknya.
Aku betul-betul terkejut mendengar cerita Jeanny. Kenapa nasibnya begitu buruk?
Jeanny mengusap air matanya dan tersenyum padaku.
“Maafkan aku, ya, San. Aku mungkin cemburu karena nasibmu lebih baik. Aku berbahagia bila Gunawan memang serius ingin menikahimu. Aku pasti akan selalu mendukungmu. Tapi, coba kau pikirkan lagi apa yang telah kuceritakan ini.”
Aku tepekur, tak tahu harus berkata apa. Kini, aku tahu siapa Jeanny. Saat usianya masih 15 tahun, ibunya sengaja menawarkan dirinya kepada seorang pria tua yang sudah beranak-istri. Ia menjadi wanita simpanan, tanpa dinikahi. Tapi, pria itu memberikannya rumah, juga uang belanja yang lebih dari cukup. Orang tuanya menikmati hasil kerja putrinya itu. Mereka tinggal di rumah yang diberikan pria yang memelihara Jeanny, juga menikmati uang haram yang diperolehnya setiap bulan.
Bukan hanya itu, ibunya juga mengajari Jeanny untuk diam-diam berselingkuh dengan pria lain, agar bisa mengeruk uang lebih banyak. Tadinya, Jeanny merasa dipaksa melakukan hal itu. Tapi, seiring waktu, dia menikmatinya. Apalagi, rupiah yang dihasilkannya tidak sedikit. Ketika bertemu papanya Dito, yang mengajaknya menikah secara siri itu, Jeanny seolah mendapat harapan untuk bisa terbebas dari pekerjaan nistanya itu. Tapi, yang terjadi, dia hanya melompat dari satu bahaya ke bahaya yang lain, tanpa tahu bagaimana cara menyelamatkan diri.
Aku ingin Jeanny memaafkanku karena aku telah menceritakan masa lalunya kepada Mama. Sama sepertiku, Mama juga terkejut, sekaligus kasihan, pada nasib Jeanny.
“Mama juga pernah mendengar ada anak yang dijual oleh orang tuanya sendiri. Tidak disangka, hal itu juga terjadi pada Jeanny. Kasihan, dia masih muda dan cantik. Walau akhirnya dia menikah, pernikahannya itu kan tanpa status yang jelas. Berarti, akta kelahiran Dito itu tanpa nama ayah, ya, San?” kata Mama.
“Ya. Biasanya, anak yang lahir di luar pernikahan resmi, dalam akta kelahirannya hanya akan tercantum nama ibunya,” kataku.
“Kasihan Dito. Mudah-mudahan dia tidak minder bila sudah beranjak besar.”
“Ya, Ma. Apalagi, sejak Dito berumur 2 tahun, ayahnya sudah tidak mengunjungi mereka lagi. Jadi, Dito betul-betul tidak mengenal papanya. Jeanny bilang pada Dito bahwa papanya sudah meninggal. Tapi, kata Jean, pria itu sekarang memang sudah meninggal.”
Penulis: Nurma