Suatu hari aku melihat seorang pria paruh baya datang ke kafe kami. Ia terlihat sangat akrab dengan Jeanny. Bukan hanya akrab, tapi mesra. Setelah kutanyai, Jeanny mengaku, pria itu adalah kekasihnya. Namanya Wilman. Aku agak heran, ketika Jenny dengan enteng mengatakan bahwa Wilman adalah seorang pria beristri.
“Gila kamu, Jean. Suami orang dijadikan kekasih! Memangnya tidak ada pria lain?” tanyaku.
“Apa salahnya? Dia kan manusia biasa seperti kita. Kalau istrinya tidak bisa menyenangkan hatinya dan dia jatuh cinta pada kita, boleh, dong, dia jadi kekasihku,” katanya, sambil tertawa.
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Meskipun tidak setuju pada pendapat itu, aku tak berani mengkritiknya. Itu kehidupan pribadinya. Kami, toh, belum lama saling mengenal. Jadi, aku merasa tidak pantas memberikan kritik atau nasihat padanya. Tapi, aku kasihan pada Dito. Wajahnya selalu masam bila melihat mamanya bersama Wilman di kafe. Mungkin, dia cemburu melihat ada pria lain yang dekat dengan mamanya.
“Tapi, cinta sejatiku hanya untuk papanya Dito, kok.”
Ketika mengatakan itu, aku melihat guratan kesedihan di wajahnya. Aku selalu merasa bahwa di balik sifatnya yang terlihat tak peduli, Sandra menyimpan rahasia hidup yang begitu berat.
Sejak dekat dengan Wilman, Jeanny sering bepergian. Kami jadi jarang bertemu, kecuali bila kebetulan sedang berada di kafe. Apalagi, ia sering pergi ke luar kota, yang membutuhkan waktu beberapa hari. Aku tahu, Jeanny pergi bersama Wilman, dan Jeanny tidak berusaha menutupinya. Tapi, dia tidak pernah memberi tahuku sebelumnya, apalagi meminta pendapatku. Kupikir itu wajar. Toh, dia bukan anak kecil yang harus selalu minta izin, bila hendak melakukan sesuatu. Sifat terbukanya itu yang kusuka. Meski aku juga sedikit menyesal karena telah salah memilih teman. Bagiku, Jeanny mempunyai cara hidup yang begitu bebas, tepatnya terlalu bebas. Tapi, mungkin dia melakukan itu karena merasa kesepian, hidup sendirian selama bertahun-tahun.
“Memangnya, kamu tidak ingin menikah lagi?” tanyaku.
“Siapa yang mau menikah dengan wanita seperti aku? Sudah pernah menikah dan punya anak,” katanya, dingin.
“Setiap manusia ditakdirkan berpasang-pasangan. Seburuk apa pun kamu menilai dirimu, aku yakin, pasti akan ada seseorang yang berpikir dirimu adalah belahan jiwanya,” kataku, menasihatinya. Aku sedih melihat cara hidup Jean yang demikian. Aku ingin, suatu saat dia akan menikah lagi dan memberikan Dito seorang papa yang baik.
“Kalau yang kamu maksud itu cinta sejati, aku sudah kehilangan cinta sejatiku sejak papanya Dito meninggalkan aku. Tubuhku ini memang bisa dimiliki pria lain, tapi hatiku tidak.”
Kata-kata Jeanny itu begitu jelas menggambarkan isi hatinya. Sepertinya, Jeanny hanya mencintai satu orang: papanya Dito. Aku salut pada kesetiaan hati Jeanny pada cintanya.
Melihat cara hidup Jeanny, diam-diam aku sering memandang wajah Dito dan bertanya-tanya, siapakah ayah anak ini. Apalagi, selama ini Jeanny tidak pernah bercerita tentang suaminya. Di rumahnya yang indah itu tidak ada sepotong pun foto suaminya. Seolah, hal itu adalah misteri yang sengaja disembunyikannya dari semua orang. Aku hanya tahu, Jeanny pernah menikah sekitar 10 tahun lalu. Tapi, siapa dan seperti apa wajah suaminya, tetap menjadi sebuah rahasia yang tersimpan begitu rapat.
Aku tak berani bertanya pada Dito, karena sepertinya Dito pun menghindari percakapan tentang ayahnya. Apalagi, aku merasa Dito sangat tertekan karena kehilangan figur ayah. Sama tertekannya ketika melihat ibunya kini sering bepergian dengan pria bernama Wilman itu.
Terus-terang saja, aku merasa, Wilman tidak pantas untuk Jeanny. Selain karena pria itu sudah beristri, usianya juga sudah 55 tahun. Dia lebih pantas jadi ayah Jeanny. Kuakui, pria itu kaya. Dan, sepertinya, jabatannya di sebuah instansi pemerintah cukup tinggi. Setidak, itu terlihat dari mobil mewah yang dikendarainya.
Walaupun aku kurang menyukai Wilman, mau tak mau aku harus menerima keberadaannya sebagai kekasih Jeanny. Kami juga sering bertemu, baik di kafe, maupun di acara-acara yang diadakan olehnya. Dia sering mengundang kami. Biasanya, bila ia datang, aku lebih banyak menghabiskan waktu duduk sendirian, tak ikut mengobrol dengannya. Atau, bila Dito ada, kami akan ngobrol berdua, sementara Jeanny dan Wilman menghilang entah ke mana.
Suatu hari, Wilman mengadakan pesta ulang tahun Jeanny di sebuah restoran. Agar aku tidak bengong sendirian, Wilman berinisiatif mengajak temannya yang bernama Gunawan. Sebetulnya, Gun, begitu dia dipanggil, tidak terlalu tampan. Tubuhnya yang tidak seberapa tinggi itu sedikit gendut. Dia sudah berumur 50 tahun dan memiliki dua anak. Rambutnya pun tipis, bahkan cenderung botak. Kulitnya putih dengan mata yang sipit. Logatnya sangat kental, menunjukkan asalnya.
Dia tidak tampan, tapi menawan. Begitulah aku menilainya. Kecerdasan yang terpancar dari kedua bola matanya, membuatku tak pernah bosan memandangnya, saat dia sedang menjelaskan sesuatu, mulai dari strategi bisnis, sampai pengalamannya saat pergi ke kota-kota besar dunia. Pengalamannya begitu luas. Karena itu, dia bisa menjadi teman mengobrol yang sangat mengasyikkan. Sampai-sampai, aku pernah berpikir, alangkah beruntungnya istri Gunawan mendapatkan pria sehebat dia. Aku tak tahu, apakah ini yang dinamakan cinta? Sebab, dulu, paling-paling aku naksir pria hanya karena ketampanannya. Sangat berbeda dari kekaguman yang kurasakan pada Gunawan saat ini. Sepertinya Gunawan menyadari ketertarikanku padanya.
Jeanny menggodaku suatu hari.
“Sepertinya, kamu tertarik pada Gunawan, ya? Aku tidak menyangka, ternyata seleramu cukup tinggi,” katanya.
“Apa, sih, maksudmu dengan selera tinggi?” tanyaku, penasaran. Karena, bagiku, Gunawan bukan sosok yang istimewa secara fisik.
“Gunawan itu sangat kaya, Non. Hartanya bisa membiayai hidupmu. Sampai tujuh turunan pun tak akan habis. Wilman, sih, kalah. Maklum, pegawai negeri. Kalau mau kaya, dia harus korupsi. Itu pun tidak bisa banyak-banyak, agar tidak terlalu mencolok,” kata Jeanny, ngawur.
“Kamu ngomong apa, sih?”
“Maaf, aku lupa bahwa kamu juga anak orang kaya. Materi itu nomor kesekian. Tapi, kalau benar kau suka padanya, pilihanmu sebenarnya tidak salah. Kalau belum ada Wilman, mungkin aku juga bersedia. Tapi, tidak etis kan kalau aku mencuri pria incaran teman,” celoteh Jeanny.
“Tidak etis? Kamu pikir, berhubungan dengan suami orang itu bisa dikatakan etis?”
Jeanny mengerling nakal.
Aku hanya bisa tertawa. Sejak Jeanny berterus-terang tentang gaya hidupnya yang bebas, aku tak lagi merasa itu sebuah aib atau kejahatan. Aku hanya berusaha memahaminya sebagai sebuah pilihan hidup.
Memang, kuakui, aku terkagum-kagum pada figur Gunawan. Tentu saja, itu di luar kemampuan finansialnya. Seperti kata Jeanny, aku tidak melihat bahwa kekayaan merupakan sebuah daya pikat tersendiri dari seorang pria. Mungkin, itu karena secara materi aku juga cukup berada. Tapi, aku jatuh cinta pada kecerdasannya. Atau, mungkin juga, aku melihat figur ayah pada diri Gunawan. Bisa jadi. Tapi, berpacaran dengan suami orang? Amit-amit, ah! Biar Jeanny saja yang melakukannya.
Aku masih saja bertanya-tanya, seperti apakah wanita yang beruntung menjadi istri Gunawan itu. Dalam sebuah perbincangan, aku pernah menanyakannya. Gunawan menjelaskan bahwa istrinya cantik dan lembut. Wanita itu lebih muda 17 tahun darinya. Jadi, kurang lebih usianya kini 33 tahun. Namanya Rini. Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan. Gunawan mengaku terlambat menikah karena dia tak pandai bergaul. Menurutnya, ketika menikah dulu Rini masih terbilang lugu, baru saja lulus SMA. Saat menikah, usianya 18 tahun dan Gunawan 35 tahun.
Penulis: Nurma