Setiap rumah ada dua pintu, di depan, di belakang, serta empat jendela kecil. Masuk ke dalam rumah yang remang-remang, terlihat langit-langit yang tinggi dan kayu-kayu konstruksi. Yos pemandu saya, bercerita, mbaru niang terdiri dari lima tingkat, masing-masing memiliki fungsi dan nama tersendiri.
Tingkat pertama yang ditinggali orang untuk beraktivitas disebut lutur. Sedangkan tingkat kedua adalah lobo, ketiga adalah lentar, keempat lempa rae, dan kelima adalah hekang kode, merupakan loteng yang biasa digunakan antara lain untuk menyimpan benih tanaman dan persediaan makanan.
Tingkat lutur dibagi tiga, bagian depan ruangan untuk bersama, semacam ruang keluarga. Di bagian dalam adalah kamar-kamar yang disekat menggunakan papan, dan dapur di bagian tengah rumah. Atap rumah terbuat dari ijuk dan alang-alang. Aroma asap kayu bakar langsung menyergap saat saya masuk ke dalam rumah gendang. Acara masak memasak di dalam rumah yang membuat rumah penuh asap, tak disangka itu ada gunanya. ”Asap dan panas dari tungku berguna untuk mengawetkan kayu bangunan, juga persediaan makanan yang disimpan di loteng,” kata Yos.
Rumah Tamu
Di bagian tengah juga dijadikan dapur untuk memberi kenyamanan bagi wisatawan yang tidak terbiasa oleh asap kayu bakar. Di bagian belakang dibuat ruang khusus untuk memasak. Di bagian samping terdapat kamar mandi dan toilet yang bersih.
Di dalam rumah hanya ada satu satu ruang untuk berganti pakaian. Sisanya, dibiarkan terbuka. Tikar-tikar dihamparkan. Masing-masing diberi bantal berisi kapuk seperti yang digunakan masyarakat Waerebo. Tikar dan bantal terbuat dari daun pandan. Bantalnya bisa digunakan untuk meja atau kursi. Ini karena bentuknya yang stabil.
Berada di dalam rumah yang diselimuti alang-alang ini, saya tetap merasa sejuk, meski di siang hari yang panas. Sementara, pada malam hari, tetap terasa hangat.
Songke dan Curak
Biasanya, wanita Waerebo menenun saat tidak bekerja di kebun. Makanya, untuk menyelesaikan satu buah sarung, bisa memakan waktu sebulan, atau lebih.
Sarung di sini ada dua macam: songke dan curak. Songke mempunyai ciri khas, yaitu berwarna dasar hitam dengan motif hias berwarna biru, kuning, hijau, putih, jingga, dan magenta. Ini sarung khas Manggarai. Motif hiasnya bisa bermacam-macam: bunga, daun, atau kotak-kotak geometris. Songke digunakam saat acara resmi, juga dikenakan sehari-hari.
Curak adalah sarung bermotif gari-garis dengan aneka warna cerah. Sarung-sarung ini lumayan tebal, sehingga, selain dipakai sebagai bawahan, pada malam hari bisa untuk menghangatkan tubuh.
Sedapnya Ngopi
Di sini terdapat jenis kopi arabika dan robusta. Bisa dibilang, kopinya adalah jenis kopi organik, sebab tidak menggunakan pupuk atau pestisida kimia. Air dan lahannya pun belum terkontaminasi. Biasanya, petani menjual kopi di pasar dalam bentuk biji yang belum diolah. Lalu, biji kopi diolah secara tradisional hingga siap diminum untuk dikonsumsi sendiri.
Di depan salah satu rumah, saya melihat seorang nenek sedang menumbuk biji kopi --yang sudah dipanggang-- dalam lesung kayu menggunakan alu, mengayaknya, lalu kembali menumbuknya hingga halus. Di halaman rumah yang lain tampak seorang ibu menumbuk biji kopi yang masih segar untuk memisahkan biji kopi dari kulitnya.
Di sisi lain, tampak biji kopi sedang dijemur di atas tikar. Semua yang dilakukan di sini bukan atraksi yang diada-adakan, tapi memang begitulah keseharian mereka.
Bubuk kopi yang dihasilkan warnanya sangat hitam. Aroma kayu bakar menambah harum kopi. Sepertinya, untuk konsumsi sendiri warga mencampur saja kopi arabika dan robusta. Tapi, ini justru membuat rasa yang seimbang, tak terlalu pahit, tidak terlalu asam, dan tetap wangi. Saya pun merasa wajib memesan bubuk kopi untuk dibawa pulang.
Bagi masyarakat Waerebo, kopi adalah minuman wajib di pagi hari sebelum berangkat bekerja. Mereka juga meminumnya di sore hari setelah bekerja. Mereka suka kopi yang manis. Makanan yang biasa menemani kopi adalah keladi kukus yang dicampur sedikit gula pasir.
Aturan Bertamu
Saya lalu menyampaikan turut berduka cita kepada para leluhur masyarakat Waerebo yang telah meninggal, dan meminta izin sekaligus menunjukkan iktikad baik dengan memberi ayam putih dan sumbangan secara sukarela. Setelah itu, ketua adat memberi restu sambil bersenandung dalam bahasa Manggarai. Di sini, bahasa Indonesia jarang dipakai, karenanya sebagian anak-anak kecil dan orang tua yang tidak bersekolah, hanya mengerti sedikit-sedikit.
Waerebo paling ramai saat tahun baru mereka, yaitu pertengahan bulan November. Saat itu merupakan peralihan musim kemarau ke musim hujan, saatnya masyarakat mulai bercocok tanam. Biasanya, orang Waerebo yang berada di perantauan pun akan mudik. Saat itulah digelar pesta penti. Berbagai upacara adat digelar, termasuk caci, pertarungan menggunakan cambuk.
Kontributor: Nuri Fajriati